HomeCurhatTutur Untuk MamaLakukan Hal Ini Bila Anak Bunda Terlambat Bicara

Lakukan Hal Ini Bila Anak Bunda Terlambat Bicara

Ada yang bertanya ke saya, “Mbak cari psikolog dan terapis komukatif macam di status FB itu dimana?”

Walah…

Lha, wong itu kan status ditulis pakai bahasa saya sendiri biar enak dibaca. Itu jg hasil saya nanya-nanya kemana aja dalam kurun waktu berbeda-beda setelah gugling macem-macem lalu dirangkum.

Kalau konsultasi sebenarnya bisa di klinik tumbuh kembang mana pun. Yang penting adalah, sebelum konsultasi harus bawa amunisi.

Amunisinya apa?

Pertama, hasil cek denver atau KPSP anak. Boleh rangkumannya aja. Kedua, baca dulu referensi yang sekiranya berhubungan misal, autisme itu apa, speech delay itu apa, hiperaktif itu apa, kelainan proses sensori itu apa, macam-macam terapi untuk anak dengan kebutuhan khusus itu apa dan banyak lagi. Ketiga, catat semua keluhan tentang anak dan apa yang ingin diketahui tentang kondisi anak tersebut. Terakhir, tanyakan ketika konsultasi.

“Ada rekomendasi web yang bisa nemuin itu semua mbak?”

“Ada. Bisa cek di wikipedia. Sisanya? cari sendiri aja.”

“Males ah mbak bacanya, panjang banget. Lagian saya ga paham istilah medis.”

“Memang kalau bahasanya pakai istilah medis ga bisa dicari artinya? Kalau ga mau baca karena panjang ya gimana dong ya?”

Ya udahlah.. Kalau mau tambah ilmunya, bukannya harus banyak membaca dan mencari referensi.

Sekarang ini kalau kita gak punya referensi, bingung mau nanya apa, kalau gak nanya, mana mungkin psikolog atau terapisnya akan menjelaskan. Sesudah di jelaskan malah makin bingung lalu gak terima dengan kata pakarnya. Lalu mencak-mencak ngambek sama mereka.

Pliss.. Ini cukup jadi pengalaman saya saat pertama kali konsul. Tolong jangan ditiru.

***

Ada yang meminta saya menceritakan bagaimana proses awal dari terapi anak saya sampai dia bisa mengalami peningkatan seperti sekarang ini.

Baiklah..

Yang akan saya bagikan kali ini adalah bagaimana saya menyiapkan diri ketika saya yakin anak saya butuh terapi. Pertama adalah menyatukan visi dengan pasangan dan keluarga. Tidak semua keluarga bisa mau menerima kondisi anak yang memang butuh ‘bantuan’ untuk tumbuh kembangnya.

Saya pun ribut dengan suami sampai didiemin 2 hari gara-gara ngajakin dia bahas speech delay dan autis melulu.

Padahal sebenarnya di hpnya dia gugling juga.

Tapi saya paham karakter pasangan. Akhirnya ketimbang ribut, saya rela jadi kitiran nyari-nyari tempat terapi. Dari ngurus rujukan pakai BPJS ke puskesmas sampai ternyata terapi tumbuh kembang anak tidak ditanggung. Sampai ternyata Rumah Sakit terdekat yang ada klinik untuk terapi kembang full dan masuk daftar waiting list. Sampai kemudian dapat info mantan terapis disitu buka klinik tumbuh kembang sendiri.

Habis itu saya benar-benar shock dengan biaya untuk terapi. Maklum lah, saya cuma ibu-ibu penadah gaji suami.

Saya pun bertanya ke suami, ”Mas, gimana ini?”

“Ya udah daftar. ”

Alhamdulillah masih diberi rejeki untuk anak. Meskipun harus ada yang dikorbankan. Dengan memangkas uang belanja bulanan dan ngempet ga jalan-jalan atau liburan.

Betapa beruntungnya saya di saat banyak yang terpaksa mundur gak jadi terapi karena kendala biaya. Curhatan semacam ini sungguh bikin saya ingin nangis. Gak bisa bantu apa-apa selain doa semoga bisa dilatih sendiri di rumah.

Coba ya, Indonesia punya klinik tumbuh kembang gratis buat yang kurang mampu.

(Mengkhayal)

“Memangnya biaya terapi anak mbak berapa sih?” tanya seseorang di whatapp saya.

Kalau dihitung-hitung, dalam sebulan saya bisa beli satu paket buku edukasi dari MDS macam Halo Balita dan kawan-kawannya dengan uang terapi anak saya.

Ya sudahlah.. Yang penting dijalani. Semoga evaluasi di akhir bulan ini nanti bisa di nyatakan LULUS.

Berikut ini saya rangkumkan tips dan latihan-latihan yang bisa dilakukan di rumah untuk melatih anak yang terlambat bicara, terutama untuk Kasus Speech Delay tanpa spectrum Autis.

Pertama, cek pola makan anak, apakah anak masih makan makanan halus/lembek? Mulai latih anak untuk makan makanan keras (makanan dewasa) karena hal ini berfungsi untuk melatih otot-otot rahang dan mulutnya.

Kedua, latihan meniup, seperti tiup balon, lilin, peluit, terompet dan mainan yang berbunyi jika ditiup. Latihan ini untuk menguatkan otot-otot yang digunakan untuk berbicara.

Ketiga, berlatih nama-nama benda atau identifikasi benda dengan menggunakan flash card atau buku bergambar atau barang aslinya. Caranya, kita duduk berhadapan, pandang matanya, sebutkan nama-nama benda dengan intonasi perlahan dan jelas.

Keempat, berikan permainan atau games yang mengasah otak seperti menyusun balok-balok, mengenal bentuk-bentuk, main Lego dan Puzzle. Tentunya berikan permainan tersebut secara bertahap, dari yang puzzle/lego sedikit sampai yang banyak.

Kelima, latih anak agar mengucapkan nama-nama anggota keluarga yang ada di rumah dan anggota tubuhnya. Biasakan hanya memakai 1 nama panggilan untuk anak. Jangan seperti anak saya dulu yang saya panggil pakai nama tengah, tantenya pakai nama depan, kakek neneknya manggil ‘thole’. Bingunglah si anak. Namanya siapa.

Keenam, membacakan buku cerita bergambar untuk anak secara rutin. Bisa buku cerita anak, buku edukasi anak, majalah anak, asal bukan komik jepang dan majalah dewasa.

Ketujuh, hanya gunakan 1 bahasa saja di rumah. Semisal bahasa indonesia saja, atau bahasa daerah saja ketika berkomunikasi. Hal ini mencegah anak bingung, sekaligus membuat anak lebih bisa fokus dengan hanya mempelajari 1 bahasa.

“Mbak, anak saya malah sudah bisa bahasa mandarin, inggris dari TV” itu salah satu komen di status saya kemarin.

“Ya bagus kalau orangtuanya bisa ngajarin bahasa asing sejak dini. Bisa komunikasi dengan anak pakai bilingual. Tapi yakinkah anak ga akan bingung saat harus berkomunikasi dengan teman-teman sebayanya yang hanya bisa 1 bahasa?”

Beri waktu pak buk, nanti akan ada saatnya anak siap mempelajari bahasa asing.

Kedelapan, perdengarkan lagu anak-anak dan ajaklah dia menyanyi. Pada beberapa tipe anak, cara ini lebih efektif daripada hanya mengajarinya berbicara secara biasa, tanpa lagu.

Kesembilan, ajarkan 5-10 kata baru setiap minggunya hingga dia mampu mengucapkannya dengan benar. Sebaiknya kata yang berawalan B, D, P. Apabila dia berhasil, catat progresnya di buku.

Kesepuluh, sebisa mungkin hindarkan anak dari TV, atau kurangi jam menonton TV nya menjadi maksimal 1 jam sehari. Hal ini juga berlaku untuk penggunaan gadget seperti HP dan tablet. Kenapa? Anak anda butuh terapi kan. Bagaimana bisa fokus kalau di rumah masih mainan hape?

Kemarin ada inbox menarik di FB saya tentang efek radiasi layar gadget dan TV terhadap kesehatan. Silakan bisa dicari sendiri.

Kesebelas, ajak anak bermain di taman bermain yang menyediakan aneka permainan seperti perosotan, ayunan, jungkat jungkit, mandi bola dan lain-lain. Kenapa? Untuk merangsang pusat sensori dan proses penerimaan sensori di otaknya. Pada anak dengan kelainan pusat sensori, biasanya mereka takut dengan mainan-mainan ini.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *