Lelaki Tidak Boleh Beristri Dua, Karena Cinta Harus Memilih

Lelaki Tidak Boleh Beristri Dua, Karena Cinta Harus Memilih
Ilustrasi

Dalam kehidupan rumah tangga, saya pernah mengalami masalah hati yang rumit sekali. Terjebak pada pesona hati suami yang baik, lemah lembut, perhatian dan sangat penyayang. Dalam setiap persoalan, ia orang  yang paling pandai pula menyimpan rahasia. Setiap masalah yang menimpa dirinya, tidak bisa aku bongkar.

Sejauh mataku memandang, ia lelaki yang baik dan bertanggungjawab hingga aku tak mampu menembus yang lainnya, kecuali hanya pasrah begitu saja.

Tapi itu semua hancur disapu badai yang tak bisa kuprediksi sebelumnya. Tiba-tiba cinta yang telah lama aku simpan di dalam kalbu, berubah menjadi batu yang membeku, padat oleh kebencian yang mungkin saja tidak aku maafkan.

Suamiku sangat jahat sekali, aku tak percaya dengan ini semua, orang seperti dia tak pernah aku bayangkan sebelumnya, jika kepercayaan dan ketulusan sebagai istri yang setia padanya tak cukup membuat ia bisa jatuh cinta.

Ternyata selama ini suamiku secara diam-diam berselingkuh dengan wanita lain. Cintanya telah dibagi menjadi dua dalam sepekan, waktunya berkurang untuk lebih sayang. Sedangkan aku ibarat perempuan malam yang hanya menjadi teman tidur di waktu malam.

Sebagai perempuan, aku terpukul, meraung-raung, seperti orang yang lagi kesurupan, tidak peduli tetangga merasa terganggu apa tidak, hatiku sudah tertutup oleh tumpukan perasaan yang penuh dengan darah kering, tak mengalirkan energi pada setiap pikiran sehatku.

Aku tidak habis pikir, cinta seperti apa yang bisa membuat suamiku nyaman. Satu minggu aku mencoba untuk tenang, tapi air mata tidak bisa berhenti berlinang, terasa perih, serasa teriris, dan menghentikan detak nadi.

“Mas, kenapa kamu tega? Kenapa kamu lakukan semua ini, kesetiaan seperti apalagi yang kau minta? Bukannya selama ini aku mengabdi penuh dengan cinta? Tulus mengerjakan semua urusan rumah tangga, supaya kamu bahagia dan tak mengeluh ketika sampai di rumah?”

“Cukup mas, aku tak butuh alasanmu, aku sakit, aku kecewa yang teramat sangat. Tauhkah kamu, kamu adalah orang terbaikku selama ini, kepercaan penuh sudah aku berikan, dan bahkan tak sedikitpun terbesit dalam hari-hariku bahwa kamu bisa menghianati. Aku sakit Mas, dan ini tak ada obatnya.”

Begitu keluhku pada suamiku. Aku ceritakan semua padanya dan aku minta cerai sebab aku tak mau dijadikan yang kedua dalam hidupnya. Bagiku cinta adalah perihal hati yang bijak, tanggung jawab, fokus, dan tidak bisa dibelah pada yang lainnya.

“Ceraikan aku sekarang juga mas, jika kamu mau pergi dengan cewekmu yang baru, aku ikhlas. Jangan tanya aku sakit, tentu itu sakit. Tapi mau bagaimana lagi, cinta memang harus memilih.”

“Bahagiakan dia, dan berikan yang terbaik jika kamu memang bisa lebih baik ke depan. Cukup aku bisa hidup bersama dengan anak kita.”

“Papa memilih mama, aku sayang mama, papa khilaf,” kata suamiku.

Aku sudah tidak peduli lagi dengan perkataan suami, selama berapa bulan ini, aku hanya murung di kamar, lupa jika aku punya permata keluarga. Anak semata wayang, yang bisa membuat semuanya menjadi lebih bahagia, Bima pikirku.

Aku tinggalkan rumah, bergegas pulang ke rumah sendiri di mana aku dilahirkan, ya ke rumah orangtuaku. Aku sadar aku bukan yang terbaik buat suamiku. Melihat aura mata yang tajam penuh harapan Bima harus tumbuh menjadi lelaki yang hebat dan kuat. Aku percaya dengan tenagaku yang terbatas setidaknya aku bisa membuat ia lebih hebat tanpa ayahnya.

Akan bekerja separuh hari, setidaknya bisa memberikan ia suplemen dan madu anak, supaya ia bisa sehat sesuai dengan harapanku dan menjadi anak yang pandai matematika. Sebab Bima mempunyai impian serta cita-cita menjadi guru.

Tapi dua hari berikutnya suamiku datang. Menjemputku untuk kembali pulang berkumpul bersama keluarga, hidup bahagia dan ceria bersama. Karena menurutnya jika ingin punya tubuh sehat juga harus punya keluarga yang sehat. Itulah kunci dari tumbuh kembang anak selain suplemen madu dan susu.

“Ma, maaf, karena cinta memang harus memilih, saya memilih hidup kembali bersama keluarga yang telah lama menemai hidupku dan itu lebih berwarna.”

“Cobaan bagi setiap lelaki ketika sudah sukses adalah ia akan tergoda dengan orang baru dan memilih hidup dengan mereka dibanding tinggal nyaman bersama orang yang telah ikut berjuang dalam hidupnya.”

“Papa sudah memilih dan berjanji tidak akan mengulangi lagi,” demikian janji suamiku.

*Seperti yang diceritakan Citra (Bandung)*

Comments