LGBT

LGBT Menurut Empat Imam Mazhab, Ternyata Begini

Diposting pada

Tuturmama – LGBT bisa kita tinjau dari berbagai perspektif termasuk LGBT menurut empat imam Madzhab. Hal ini berkaitan erat dengan keberagaman berbagai pihak dalam menaggapi hal yang satu ini.

Sebelum mengenal lebih tentang LGBT menurut empat imam madzhab, alangkah lebih baik jika kita mengenal istilah ini lebih jauh terlebih dahulu. Seperti sejarah dan juga pengertiannya menurut para ahli.

Makna LGBT atau kepanjangannya yaitu lesbian, gay, biseksual, dan trans gender adalah sebuah kelainan orientasi esksual. Istilah ini sudah populer sudah sejak tahun 90-an untuk menyatakan komunitas gay atau kelompok kelompok tertentu yang sejenis.

Menilik singkat mengenai sejarahnya, ternyata homoseksual sudah ada sejak jaman dahulu. Bahkan pada gambar atau relief mesir kuno juga terdapat gambar dua orang pria yang saling berciuman. Meskipun beberapa peneliti menentang kesimpulan tersebut, karena masing masing memiliki keluarga anak dan istri.

Perilaku homoseksual terus menerus ada sejak jaman dahulu, dan menjadi pertentangan di antara masyarakat dan juga mereka anggap sebagai perbuatan dosa. Homoseksual juga bisa kita katakan sebagai penyimpangan dan merupakan perilaku abnormal.

Beberapa anggapan pada mulanya mengartikan perilaku menyimpang ini seperti jiwa laki- laki yang terjebak di tubuh perempuan atau sebaliknya. Perdebatan demi perdebatan terus muncul dan penelitian terus muncul.

Penelitian lebih banyak terjadi di kalangan para psikiater dan mengartikan bahwa homoseksual maupun heteroseksual merupakan penyakit mental dan gangguan kesehatan mental. Beberapa ahli menyimpulkan pengertian dari LGBT itu setelah melakukan berbagai macam percobaan, penelitian, maupun pengamatan sosial.

Nah, berikut merupakan penjelasan pengertiannya:

Menurut Amerikan Psyciatric Association (APA)

Amerikan Psyciatric Association (APA) menyatakan bahwa orientasi seksual akan terus berkembang sepanjang hidup seseorang. Orientasi seksual terbagi menjadi tiga berdasarkan dorongan atau hasrat seksual dan emosional yang bersifat ketertarikan romantis pada suatu jenis kelamin sama.

Carol menjelaskan bahwa orientasi seksual merupakan ketertarikan yang muncul pada seseorang dengan jenis kelamin tertentu dan berlandaskan perasaan emosional, fisik, seksual, dan cinta. Jika kita uraikan menurut hurufnya, pengertian masing- masing istilah dari LGBT yaitu:

Lesbian : merupakan gangguan seksual yang menyimpang dimana wanita tertarik pada wanita lainnya.

Gay: merupakan perilaku menyimpang seksual dimana laki laki tertarik dengan sesama laki laki. Gay juga disebut dengan homoseksual.

Biseksual: merupakan perilaku menyimpang dimana seseorang menyukai dua gender sekaligus baik wanita maupun pria.

Transgender: merupakan perubahan alat kelamin dikarenakan seseorang merasa alat kelaminnya tidak menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya yang merupakan kebalikan dari apa yang dia miliki. Kondisi ini memicu seorang wanita yang memiliki sifat tomboy dan merasa seperti laki laki akan merubah jenis kelaminnya menjadi laki laki dan juga sebaliknya dengan cara operasi kelamin.

LGBT Menurut Empat Imam Madzhab

Belakanganm ini memang tengah ramai menjadi perbincangan, yakni terkait lesbian, gay, biseksual, transgender (LGBT). Nah, bagaimanakah pandangan empat imam mazhab yang menjadi pegangan umat Islam di seluruh dunia?

Yang peru kita ketahui dengan jelas bahwa empat imam mazhab sepakat tanpa ada perbedaan pendapat bahwa LGBT merupakan suatu dosa besar. Hanya saja mereka berbeda pendapat tentang hukuman bagi pelaku LGBT.

Imam Syafii  di dalam tulisan berjudul Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT) Perspektif Imam Syafii, Hukum Islam dan Hukum Positif karya H Suwardin. Imam Syafi’i menginginkan agar pelaku LGBT mendapat hukuman rajam dengan batu sampai mati bagi pelaku sodomi, baik perjaka maupun gadis.

Hal ini karena Imam Syafii melihat sodomi atau liwath sebagai suatu perbuatan yang sangat terkutuk dan sebagai jarimah (tindak pidana). Dalam perspektif Syafi’i tanpa memandang pelakunya, baik pelakunya adalah orang yang belum menikah atau orang yang sudah menikah, hal itu itu sebagai fahisyah dan perkara yang melawan hukum.

Hal itu juga tidak mengurangi nilai kepidanaannya, walaupun itu dilakukan secara sukarela atau suka sama suka. Meskipun tidak ada yang merasa rugi, sodomi adalah pelanggaran seksualitas yang sangat tercela, tanpa kenal prioritas.

Hubungannya dengan hukuman rajam bagi pelaku sodomi di sini, Imam Syafi’i menyamakannya dengan zina dalam hal segi perbuatan, hukuman, dan penyimpangan. Hal ini karena orang yang melakukan sodomi itu akalnya kurang sehat dan punya akhlak moral yang tidak baik serta bejat.

Imam  Abu Hanifah

Berbeda dengan Imam Syafii, pendiri mazhab Hanafi itu berpendapat bahwa praktik homoseksual tidak masuk ke dalam kategori zina dengan sejumlah alasan.

Alasan pertama karena tidak ada unsur (kriteria) kesamaan antara keduanya, unsur menyia-nyiakan anak, dan ketidakjelasan nasab  (keturunan) dalam praktik homoseksual. Alasan kedua adalah karena berbeda jenis hukuman yang berlaku untuk para sahabat.

Berdasarkan kedua alasan ini, Abu Hanifah berpendapat bahwa hukuman terhadap pelaku homoseksual yakni ta’zir atau mereka serahkan kepada penguasa atau pemerintah. Sehingga akan berbeda hukuman di negara satu dengan negara lainnya.

Imam Malik

Praktik homoseksual masuk ke dalam kategori zina dan hukuman yang setimpal untuk pelakunya yaitu mendapat rajam. Baik pelakunya muhshan (sudah menikah) atau gair muhshan (perjaka). Ia sependapat dengan Ishaq bin Rahawaih dan As Sya’bi.

Imam Hambali

Menurutnya praktik homoseksual masuk ke dalam kategori zina. Mengenai jenis hukuman yang ia kenakan kepada pelakunya beliau punya dua riwayat (pendapat).

Pertama, mendapat hukuman sama seperti  pezina. Kalau pelakunya muhshan (sudah menikah), yakni mendapat hukuman rajam. Kalau pelakunya gair muhshan (perjaka), akan mendapat hukuman cambuk 100 kali dan pengasingan selama satu tahun. Pendapat ini adalah yang paling kuat.

Kedua, yakni mendapat hukuman mati dengan cara rajam, baik dia itu muhshan maupun gair muhshan. Sebagai tambahan, Imam Nawawi–ulama Syafiiyah–mengatakan dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarhul Muhadzhab: Jilid 25, Halaman 182:

أجمع أهل العلم على تحريم اللواط وأنه من الكبائر وذمه الله تعالى فى كتابه وذمه رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال الله تعالى : “ولوطا إذ قال لقومه أتأتون الفاحشة ما سبقكم بها من أحد من العالمين. إنكم لتأتون الرجال شهوة من دون النساء بل أنتم قوم مُسرفون” [الأعراف : ۸۰ – ٨١].

Para ulama telah ijmak atas keharaman homoseksual, dan sungguh itu termasuk dosa besar yang Allah telah mengutuknya di dalam kitab-Nya. Serta Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun mencelanya.

Karenanya Allah Ta’ala berfirman, ‘Dan ketika Luth berkata kepada kaumnya, ‘Mengapa kalian mengerjakan perbuatan keji itu yang belum pernah dilakukan seorangpun sebelum kalian. Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian, bukan kepada wanita, bahkan kalian ini kaum yang melampaui batas (Al-A’raf: 80-81).”

Nah, itulah LGBT menurut empat imam madzhab yang bisa menjadi tambahan ilmu bagi kita semua. Sebagai umat Muslim, kita perlu mengetahui faktor penyebab LGBT agar terhindar.

Sumber Gambar: freepik.com

Spread the love