HomeCurhatTutur Untuk MamaMah, Ajarkan Anak Berani Melawan Bully Bukan Menghindari Bully

Mah, Ajarkan Anak Berani Melawan Bully Bukan Menghindari Bully

Menjelang dzuhur, Haikal mendadak pulang dari jadwalnya bermain pada Sabtu pekan lalu. Langkahnya pelan, dadanya seperti menahan isak tangis yang mau pecah. Tangannya gemetar. Ia langsung masuk kamar dan menutup kepalanya dengan bantal.

Melihat gelagat aneh, neneknya mendatangi. Tak biasanya Haikal, 7 tahun, pulang secepat itu. Biasanya ia minta tambahan waktu bermain di luar rumah.

“Kamu kenapa?” tanya si nenek. Haikal tak menjawab. Tangisnya mulai bertambah tersengal-sengal.

Tangan si nenek mencoba meraih bantal yang menutupi muka Haikal. Bantal dibuka, berganti Haikal menutupi wajah dengan lengannya. Si nenek memeluk Haikal. “Kamu menangis kenapa?” Tanya si nenek dengan mengelus punggung cucunya itu.

Perlakuan nenek membuat tangis Haikal terpecah. Air mata keluar di antara jepitan jarinya. Ia berusaha mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal. Ia mulai bicara. “Haikal dipukuli Azka,” ucapannya bercampur tangis. Azka adalah tetangga di depan rumah Haikal yang usianya lebih besar 2 tahun.

Baca Juga: Lakukan Hal Ini Agar Suami Bunda Menjadi Seorang Ayah yang Hebat

Nenek menghela nafasnya. Mukanya murung mendengar nama Azka. Ini bukan pertama kali Haikal dibully Azka. Dua minggu terakhir, Haikal dua kali dibikin nangis. Sebelumnya ditendang dan yang kedua dipukul. “Kenapa kamu dipukul” lanjut Nenek. Haikal menjawab namun tak terdengar jelas sebab bercampur tangis yang semakin kencang.

Nenek menghibur Haikal dengan berceramah. Ia memberi saran agar Haikal tidak main keluar rumah. Kata si nenek jika bermain di rumah dan menuruti perintah Nenek akan menghindarkan Haikal dari perbuatan nakal temannya. “Kamu tidak akan menangis kalau di rumah,” ujarnya.

Tangis Haikal terdengar juga oleh ayahnya yang tengah beraktivitas di lantai dua rumahnya. Sang Ayah bergegas turun dan masuk kamar Haikal. Di sana ia melihat si nenek sedang mengelus kepala Haikal.

“Kamu nangis kenapa?” tanya Si Ayah.
Haikal tak menjawab. Matanya melirik ke wajah ayahnya. Ia seperti memikirkan sesuatu namun sulit diucapkan.
Ayahnya melirihkan nada suaranya. “Kamu kenapa Nak, kok, nangis lagi?”

Kali ini bukan Haikal yang menjawab tetapi si Nenek. “Katanya dipukul Azka,” jawab Nenek sembari matanya melirik Haikal.

Ayahnya pun menghela nafas. Ia tahu betul Azka berulang kali membuat Haikal menangis. Bukan Haikal saja, beberapa anak lain di komplek juga sering menjadi bahan bully Azka.

Baca juga: Betapa Mudahnya Kita Mencela Anak, Betapa Sulitnya Kita Memuji Anak

Azka memang anak paling besar di blok rumah Haikal. Ia selalu mau menangnya sendiri. Jika ada anak membawa mainan baru, tak begitu lama, mainan itu bisa pindah ke tangan Azka.

Bukan hanya itu, Azka juga sering usil. Pernah suatu saat sandal Ilham, adik Haikal, dilempar ke genteng. Setelah dibelikan yang baru, sandal barunya itu disembunyikan di dalam got. Ini hanyalah sebagian. Masih banyak pengalaman anak lain yang menjadi korban perundungan atau pembullyan Azka.

Mengetahui Haikal menjadi korban Bully Azka, membuat sang Ayah merah mukanya. Ia menegaskan kata-katanya kepada Haikal. “Kamu harus berani lawan Azka, sekuatnya,” kata Si Ayah. “Kalau dia memukul, kamu pukul balik, jangan diam ya, badanmu sama besar dengan Azka. Ayah sudah berulang kali bilang: lawan!”

Bunda yang baik. Mayoritas orang tua mengajarkan anaknya agar menjadi anak baik, tidak berkelahi, mengalah, selalu baik kepada temannya, jika dipukul jangan memukul balik. Nasehat itu ada benarnya juga. Namun fenomena belakangan ini sepertinya nasehat tersebut tidak bisa benar sepenuhnya atau tidak bisa dibenarkan terus menerus.

Banyak orang tua yang mengalami anaknya menjadi korban bully. Beberapa orang tua mengambil sikap tegas yaitu mengajarkan anak melawan bully seperti ayah Haikal dalam cerita di atas.

Kenapa harus melawan?

Sebab menerima bully dengan tanpa perlawanan bisa berakibat buruk pada kejiwaan korban bully. Bully adalah keniscayaan hari ini. Anak tidak bisa menghindari aksi bully yang bisa muncul di mana saja. Menghindari bully seperti saran neneknya Haikal bukan langkah tepat.

Pernah suatu saat saya menceritakan anak saya menjadi korban bully kepada teman yang berprofesi sebagai guru di Sekolah Internasional di Tangerang. Kata sang guru, melawan bully tidak harus dengan membalas perlakuan yang serupa. Saran dia anak korban bully cukup diajarkan untuk menunjukkan sikap yaitu dengan mengatakan: “Saya tidak suka dengan kamu (pembully).”

Ucapkan kalimat perlawanan itu dengan tegas dan keras. Itu bisa dilakukan jika anak menjadi korban pemukulan, misalnya. Menghadapi itu jika anak enggan memukul balik, maka jangan paksa memukul. Orang tua harus pelan-pelan mengajarkan bentuk-bentuk perlawanan terhadap aksi bullying. Barangkali bisa dikatakan bentuk selemah-lemahnya iman dalam melawan bullying yaitu mengajarkan anak melawan bullying dengan mengatakan: “Saya tidak suka dengan kamu (pembully).”

Baca juga: Apakah Kita, Orang Tua yang Tergesa-Gesa dan Suka Memaksa Anak?

Melawan bullying memang tidak bisa dengan cara sporadis. Orang tua harus menyiapkan anak lebih kuat. Sekali lagi membuat kuat anak menghadapi bully bukan menghindari bully.

Praktisi anak Indari Mastuti, seorang ibu sekaligus blogger, mengatakan anak-anak harus disiapkan menerima bully dan mengubahnya menjadi langkah positif.

Mengapa kita harus menyiapkan anak kita menghadapi bully?
Sebab bully tidak mengenal pilih kasih. Anak akan mengalami bully secara langsung atau tidak. Bentuk-bentuk bully yang umum di tengah masyarakat kita di antaranya:

Anak gemuk, akan dibully si gendut.
Anak berkulit gelap, akan dibully item.
Anak memiliki keterbatasan fisik, akan dihina, seperti yang terjadi di Universitas Gunadarma Depok.

Anak terlalu aktif, akan tetap dibully.

Terlalu cantik, dibully!
Terlalu pintar, dibully!
Terlalu agamis, dibully!

Banyak alasan untuk mendapatkan bully. Bully bisa mematahkan semangat anak. Maka orang tua perlu menyiapkan mental anak setangguh baja.

Bagaimana mengajarkan anak menerima bully dengan positif? Berikut tips dari Ibu Indari Mastuti:

1. Jadilah tempat yang hangat menerima curhat anak yang dibully. Kalau mereka menangis, biarkan mereka menangis untuk melegakan hatinya.

2. Sampaikan kebenaran bahwa dunia ini tidak hanya diisi orang baik tapi juga ada orang yang “belum baik” atau jahat sehingga mereka akan menerima bentuk perlakuan dengan lebih siap

3. Ajari bahwa mereka harus selalu positif menerima apapun komentar orang. Misalnya, seorang anak baru saja sembuh dari cacar. Ia ketakutan akan diolok-olok karena wajahnya penuh bintik hitam. Orang tua perlu menyiapkan dan membantu anak menghadapi potensi bully. Caranya bisa seperti ini, dengan memiliki bintik hitam bekas cacar, maka si anak berkesempatan menjelaskan tentang cacar. Bahwa cacar bisa melanda siapa saja. Kasih tahu anak-anak lain cara menghadapi cacar.

4. Ajarkan mereka melawan jika bullynya melampaui batas, bukan dengan bersembunyi dan bersedih, Melawan itu akan membuat mereka takut, kalau anak menangis mereka akan semakin membully.

5. Katakan bahwa kasihanilah yang membully karena bisa jadi mereka tidak paham bahwa bully itu tidak baik atau mungkin mereka sebenarnya lebih buruk dibandingkan kita. Anak harus melangkah terus.

6. Buka mindset anak bahwa mereka istimewa terlepas dari kekurangan yang mereka miliki. Mereka terlahir sebagai bintang dan sampai kapanpun akan menjadi bintang.

7. Ubah bully sebagai pembuktian yang positif. Ketika seorang anak mengatakan da dibully karena rumahnya sempit, maka katakanlah: “Artinya kamu harus jadi anak hebat yang kelak bisa memiliki rumah lebih besar dari sekarang!” biarkan anak memiliki tekad untuk mengubah hal negatif menjadi hal positif.

Semoga bermanfaat…

Salam Ibu Hebat Anak Kuat

 

anak susah makan

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *