Mama, Bekerja Adalah Cara Terbaik untuk Mendukung Suami

Mama, Bekerja Adalah Cara Terbaik untuk Mendukung Suami

Aku terbiasa bekerja sejak dulu. Berusaha mandiri agar tidak membebani orangtua. Aku bekerja apa saja asalkan halal. Mulai dari menjaga toko, waitress di restoran, sampai jualan online.

Setelah menikah, aku tetap bekerja meski dalam bentuk berbeda. Suami memang tidak pernah menuntut istrinya ini untuk bekerja. Jadi ibu rumah tangga yang baik saja sudah cukup. “Sebagai suami biar aku yang bekerja keras,” katanya. So sweeet.

Kondisi ini tentu membingungkan. Jadilah aku bingung harus resign dari pekerjaan atau bagaimana. Sebelumnya aku tak pernah membayangkan akan jadi seorang ibu rumah tangga saja. Terus-terusan berada dalam rumah pastinya membosankan. Karenya aku terus bekerja sampai akhirnya memiliki momongan.

Awalnya cuti tiga bulan, eh, keterusan sampai akhirnya resign juga. Enak juga sih jadi ibu rumah tangga. Bisa tinggal di rumah, bisa masak, dan mengurus anak sepanjang waktu. Tidak ditagih deadline sama bos lagi.

Meskipun ada yang terasa kurang, enggak dapat penghasilan.

Namanya juga Ibu muda, pasti ada saja kebutuhan dan keinginannya. Harus belanja kebutuhan rumah, ditambah keinginan punya baju baru, tas baru, beli baju bayi, susu anak, makan di restoran, kosmetik baru, alis, lipstik dan jalan-jalan terus biar tidak dibilang kurang piknik.

Kalau sudah banyak pikiran seperti itu, bawaannya jadi ingin kerja lagi, lagi, dan lagi. Tapi bayi belum bisa ditinggal. Mana aku dan suami juga tidak mau pakai baby sitter. Inginnya anak bisa tumbuh besar dalam pelukan orangtuanya.

Lalu bagaimana ini? Kebingungan antara memilih bekerja lagi atau total mengurus rumah tangga masih menghantui pikiranku. Dan finally, aku memilih bekerja dari rumah saja. Ikut serta membantu penghasilan keluarga meski mungkin jumlahnya tak besar. Tapi sekali lagi, suamiku berkata jadi istri yang baik saja sudah cukup. Jadi, meskipun hasilnya minim, itu tidak masalah baginya. So sweeet.

Jadi aku mulai usaha kecil-kecilan di rumah. Mulai dari jadi dropshipper baju, jualan kosmetik, sampai coba bikin kue enak meski akhirnya gulung tikar. Pokoknya apa saja yang bisa dikerjakan dari rumah pasti aku coba.

Buatku, bekerja bukan hanya untuk mencapai keinginan belanja, tapi juga sebagai cara mendukung perjuangan suami. At least, suami akan merasa didukung sepenuh jiwa dan raga.

Entahlah, aku merasa tak pernah puas kalau hanya mengucapkan ‘Semangat Pa’ saat mengantarkannya ke pintu ketika akan berangkat kerja atau mengirim pesan waktu jam makan siangnya. Itu tidak cukup buatku.

Makanya, dari awal aku berusaha terus berjuang menambah penghasilan keluarga dengan cara bekerja di rumah. Meski jumlahnya tidak seberapa. Namanya juga usaha.

Alhamdulillah suami juga mendukung, yang penting baginya aku bisa menjaga kesehatan. So sweet.

Iyalah, masak bekerja online begini saja bisa bikin sakit. Aku kan ibu yang kuat. Tidak mudah menyerah atau jatuh tersungkur.

Keinginanku untuk mendukung suami sudah membara. Semua ini demi kebahagiaan suami, anak, dan diri sendiri biar bisa tercukupi semua kebutuhan keluarga.

Ya, ini caraku mendukung suami agar terus semangat bekerja. Suamiku harus tahu kalau istrinya tidak main-main dengan komitmen yang pernah diucapkan bersama saat awal menikah dulu. Bahwa aku dan suami akan saling bahu membahu dan melewati suka duka bersama. Membesarkan anak yang jadi harapan masa depan dengan bekerja keras dan mengasuhnya sepenuh hati.

Aku lebih suka membuktikan komitmen dengan aksi nyata, bukan sekedar kata-kata. Bekerja dari rumah adalah jawabannya. Bisa mengasuh anak sepanjang waktu, plus membantu suami.

Maka, apalagi yang diragukan? Jadi buat pembaca yang punya masalah sepertiku, mulailah bekerja dari rumah.

Ya begitulah hal terbaik yang kupercaya saat ini. Toh tidak ada yang salah. Pekerjaanku ini halal. Aku juga tidak mengabaikan hak anak. Dan yang terpenting adalah suami selalu mendukung.

Ada banyak sekali pilihan yang bisa dikerjakan dari rumah. Bahkan ada juga pekerjaan yang dikerjakan dengan tanpa modal. Cukup gunakan telepon dan internet saja.

Karena menurutku bekerja adalah cara terbaik mendukung suami. Para ibu muda harus siap berada berdiri di garis yang sama dan siap mendukung suami sepenuh hati.

PR ibu rumah tangga adalah meyakinkan diri. Menghilangkan keraguan yang selama ini menyelimuti dirinya. Ingat, keraguan adalah awal kegagalan. Singkirkan keraguan. Mulailah melangkah.

Beberapa keraguan ibu rumah tangga untuk bekerja dari rumah biasanya seperti ini:

  1. 1. Takut melihat Ibu pengusaha yang sudah mapan. Tapi sebaiknya singkirkan keraguan semacam ini. Semua orang punya peluang. Semuanya bisa. Sungguh. Usaha keras tidak akan mengkhianati hasil.
  2. 2.  Tak percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki. Wajar. Satu-satunya cara untuk percaya adalah dengan memulainya. Jangan ditunda lagi. Semua orang akan belajar dari pengalaman demi pengalaman saat berusaha. Kegagalan juga akan menambah kemampuan diri sendiri. Tidak ada cara lain selain memulainya.
  3. 3. Takut tidak punya konsumen. Nah ketakutan ini sempat menghampiri diriku. Bagaimana kalau tidak laku? Padahal setelah dicoba, ada saja konsumen yang datang. Rejeki sudah ditanggung. Jadi, tidak perlu khawatir. Ada saja cara Tuhan memberi rejeki.

Para ibu bisa mulai menawarkan ke teman-temannya sendiri. Teman arisan, ngobrol, atau teman dunia maya. Pasti banyak kan teman di facebook. Follower Instagram juga. Nah, tinggal tawarkan ke orang terdekat dulu. Jika mereka tertarik dan suka dengan produk yang ditawarkan, biasanya itu juga akan dipromosikan dari mulut ke mulut.

  1. 4. Takut mengambil keputusan yang beresiko. Ingat, hidup ini sudah penuh resiko sejak dulu. Sejak Ibu mengandung. Sebenarnya manusia selalu hidup dengan resiko. Hanya saja, mungkin kita tidak pernah menyadarinya.

Jadi jangan pernah takut ambil resiko, atau pilih saja resiko yang paling minim. Misal mulai dengan usaha bermodal kecil. Itu kan minim resiko.

  1. 5. Takut mengambil langkah baru dalam hidup. Mungkin usaha memang jalan baru dalam hidup.Ttetapi setiap perubahan biasanya datang dari langkah baru. Jika ingin mendapatkan hal baru, Anda pun harus berani mengambil langkah baru. Itu sudah hukum alam.

Agar lebih berani, bicarakan dengan suami. Mintalah dia mendukung sepenuhnya. Dijamin tidak ada suami yang menolak, kebanyakan suami pasti akan mendukung jika istrinya melakukan hal yang positif.

  1. 6. Tak berani bercerita dan bertanya pada orang lain. Nah, ini ketakutan yang sebenarnya membingungkan, padahal kemungkinan itu hanya perasaan saja. Sebaiknya cari teman yang sudah berpengalaman dan minta saran kepada mereka bagaimana sebaiknya jika ingin memulai usaha. Pasti ada yang mau berbagi dengan Anda.

Setahuku, sesama Ibu muda biasanya mau saling mendukung. Dan aku pun siap mendukung Bunda-bunda sekalian.

Intinya singkirkan saja keraguan yang ada dalam hati. Cinta buat keluarga boleh kuat, tapi cinta Anda juga perlu dibuktikan secara nyata dengan bekerja keras. Bukan cuma bilang ‘i love you’ seribu kali. Jadi, yuk mulai kerja dari rumah.

Comments

Close Menu