Mamah, Jangan Terlalu Banyak Menyuruh dan Melarang Anak

Mamah, Jangan Terlalu Banyak Menyuruh dan Melarang Anak

“Mah, aku BAB ya,” teriak Berry, mbarep [anak paling gede] saya terburu-buru. Iseng saya jawab “Gak boleh!”

“Nanti keburu keluar di lantai gimana,” jawabnya.

Yaelah… dibalas, don’t be so serious to, Le..

“Ya kamu ngapain juga mau BAB pakai acara ijin Mama. Kalo Mama jawab gak boleh, terus kamu gak jadi BAB gitu?

“Mah, mamah… bangun,” ujarnya sambil ngogrek-ogrek badan si Mama.

“Apa Ber?,” jawab Mama dengan mata setengah merem.

“Aku mau tidur siang ya?” jawabnya tanpa dosa.

Ingin rasanya pergi ke luar angkasa, hipotermia di kutub utara, hilang di samudra antartika… Teet! Gita Gutawa, parasit!

Oalah nggerngger… Mama pikir ada macan ucul hingga kamu sampai hati mengusik tidur siang nan sakral Mamamu ini.

“Mah, aku mau pakai baju ini ya. Merah sama abu-abu matching gak?”

“Mah, aku mau ngerjain PR sekarang ya?”

“Mah, aku mandi ya?”

“Mah, aku mau gini ya? Mah, aku mau gitu ya?”

“Mah, aku boleh gini gak? Mah aku boleh gitu gak?”

Bertanya, bertanya dan bertanya terus, atau lebih tepatnya meminta konfirmasi terhadap apa yang akan dilakukannya. Hampir semua hal dia mintakan persetujuan saya.

Awalnya saya pikir gak masalah dengan situasi seperti ini. Malah agak senang karena saya jadi lebih mudah mengawasinya. Tahu dengan detail apa-apa yang dilakukannya karena tanpa  saya minta pun, dia sudah laporan segalanya ke saya.

Tapi lama-lama kok seperti ada yang saya rasa gak pas dari situasi ini. Menilik dari perkembangan sikap dan tingkah polahnya yang sepertinya kurang oke.

Pertama, kurang percaya diri

Dia tidak pede saat berbeda dengan teman-temannya. “Mamah tahu dari mana kalau hari ini pakai baju koko? Coba lihat watsapnya Bu Guru.”

Dia kurang pede menyampaikan apa yang diinginkannya pada orang lain, yang dilampiaskan dengan uring-uringan, marah, atau menangis saat keinginannya tak tercapai.

Kedua, ketergantungan

Dia sangat bergantung pada jawaban-jawaban yang saya berikan. Meski kalau jawaban saya tak sesuai keinginannya, dia akan tetep ngeyel mempertahankan. Dia selalu butuh penegasan dari orang lain terhadap segala hal yang akan dilakukannya. Saya jadi mikir, apa jadinya kalau kelak gak ada saya, mau minta penegasan ke mana? Iya kalau orang yang diminta itu benar, baik. Lha kalau sebaliknya?

Ketiga, mudah terpengaruh lingkungan

Dia gampang sekali “ikut-ikutan” teman-temannya. Tak masalah jika yang diikuti adalah hal-hal yang baik. Apa jadinya jika dia kelak harus hidup di lingkungan yang auranya negatif? Kan gak bisa selamanya kita menciptakan kondisi yang steril untuk tumbuh kembangnya. Pada akhirnya dia harus mampu membentengi dirinya sendiri dari pengaruh-pengaruh negatif itu.

Keempat, butuh eksistensinya diakui

Dia sering membandingkan dirinya dengan orang lain.

“Si ini udah mau SD baru iqra 1, aku udah iqra 3 lho mah.”

“Dulu aku berani ya mah ke dokter gigi, gak kaya Bella sekarang.”

“Aku baru 6 tahun kok udah pinter ngrakit lego e mah?”

Waaa ini… rupanya dia haus pujian, ingin dibombong-bombong, ingin diakui kemampuan dan eksistensinya.

Kelima, kurang kreatif

Seperti burung dalam sangkar. Kreativitasnya dibatasi oleh suruhan-suruhan dan larangan-larangan saya. Jangan begini, bahaya. Gak boleh gitu, bikin berantakan. Gini aja nih, lebih keren dll dsb dkk.

Merunut ke belakang dalam rangka mencari akar masalah… Ya, Berry itu anak sulung saya. Anak yang saya asuh ketika saya begitu miskin pengalaman mengenai parenting dan kawan-kawannya.

Saya dulu memang kurang antusias mempersiapkan diri menjadi ibu baru, masih terlalu fokus pada urusan “berdamai dengan diri sendiri”.

Jadilah anak pertama saya sebagai ajang eksperimen trial and error. Buat anak kok coba-coba.

Saya terlalu banyak mengarahkan (baca: menyuruh dan melarang) dia dengan alasan demi kebaikan dirinya, menurut saya tentu saja. Bagusnya begini, bagusnya begitu. Jangan begini, jangan begitu.

Terlalu takut dia kenapa-napa. Terlalu berhati-hati agar tak ada pengaruh buruk mampir ke dia.

Setelah melalui kontemplasi selama ratusan tahun -oke saya lebay- si mama pun tersadar bahwa dia ternyata telah melakukan kesalahan.

Ya aku salah. 

S a l a h… lah… laaah… laaaaah…

Suruhan-suruhan dan larangan-larangan yang saya maksudkan demi kebaikannya itu ternyata justru menghambat kemampuannya mengekspresikan diri. Dia menjadi pribadi yang sensitif, minderan, gampang bersedih, penggalau dan kurang kreatif.

Sebelum janur kuning melengkung, sebelum nasi menjadi bubur, sebelum negara api menyerang, sebelum semua menjadi terlalu terlambat untuk diperbaiki, saya berusaha melakukan upaya-upaya yang mungkin bisa sedikit menebus kesalahan-kesalahan yang saya lakukan.

Lebih banyak berdikusi

Kurangi hobi mengarah-arahkan. Sok lebih tau yang paling baik buat anak.

Saya sekarang berusaha lebih banyak bertanya padanya, mendengarkan keinginannya, menerima pendapatnya.

“Kamu maunya apa?”

“Menurutmu gimana?”

“Kalau seperti ini gimana?”

“Bisa gak kamu cari solusi sendiri?”

“Silakan diselesaikan sendiri.”

Dll, dsb, dkk

Menghormati setiap keputusannya

Saya berusaha meminimalkan memberikan komentar terhadap hal-hal yang dilakukannya. Misal terhadap pilihan bajunya yang itu-itu mulu, walaupun dalam hati pengen banget bilang “itu lagi itu lagi kaya gak ada baju lain aja.”

Saya berusaha tidak terlalu mencampuri urusan yang berhubungan dengan mainan-mainannya, PR nya, waktu mainnya dan sebagainya.

Mengingatkan sekali-sekali jika sudah di luar batas.

Membuat kesepakatan

Alih-alih menyuruh atau melarang, saya sekarang lebih suka membuat kesepakatan yang disepakati dua belah pihak.

“Oke Mama kurangi marah-marahnya, asal……”

“Silakan main, asal sebelum magrib sudah di rumah.”

“Main tablet cuma boleh sabtu minggu, 2 jam sehari.”

Dll, dsb, dkk.

Lebih banyak apresiasi

Hal yang mungkin kurang sering saya lakukan untuk sulung saya. Mungkin saya terlalu sibuk dengan adik-adiknya, hingga mengabaikan kebutuhannya untuk diakui eksistensinya.

Sebelum terlanjur dia mencari pengakuan dari orang lain, perbanyaklah memuji, mengapresiasi sekecil apapun pencapaian anak-anak kita.

Teori itu selalu lebih mudah, prakteknya yang susah. Hanya berharap saya selalu bisa konsisten untuk berusaha menjadi ibu yang lebih baik dari saat ini.

Ditulis oleh: Yoanita Astrid, baca juga tulisan Yoanita lainnya disini. 

Comments

Yoanita Astrid

Ibu tiga anak. Tinggal di Jogja.
Close Menu