Mamah Muda, Film dan Potret Sosial

Mamah Muda, Film dan Potret Sosial

Barangkali saya termasuk tipikal perempuan perasa yang super sensitif. Pada waktu-waktu tertentu begitu mudah terpengaruh pada apa yang saya lihat, dengar, dan rasakan. Film salah satunya. Efek setelah menonton bisa tak hilang meski sudah berbilang hari, bahkan minggu dan bulan.

Saya teringat semasa SMA saya menonton drama action China jaman dulu kala. Entah sudah lupa judulnya. Drama seri dengan polesan kisah cinta itu demikian membuat hampir stress gara-gara salah satu tokoh perempuannya mati! Alamaak.. sedihnya, ngenesnya, dan perasaan tidak rela yang susah diungkapkan. Dan itu tidak hilang untuk jangka waktu lama. Fyuh! Menguras tenaga.

Belakangan saya ‘kejebak’ nonton sebuah film yang diangkat dari kisah nyata, Sunk in the Womb. Secara tidak sengaja, qadarallah, tampil di beranda Facebook saya, diposting oleh seorang teman. Full duration.

Sebenarnya saya belum nonton full, antara nggak berani dan antisipasi. Antisipasi kalau-kalau saya kebawa perasaan berlebihan. Lha gimana, nonton dengan metode diputus-putus aja begini efeknya. Sedih nggak hilang-hilang. Semacam parno kalau ditinggal pergi suami meski cuma sebentar. Atau bahkan khawatir terhadap diri sendiri yang over; nanti gimana kalau pas berdua sama anak, lalu dia rewel dan saya tidak bisa mengendalikan diri? Perasaan tertekan, takut, dan khawatir menghantui hampir setiap hari.

Sunk in the Womb diangkat dari kisah nyata yang terjadi di Jepang.

Kisah seorang Ibu dari 2 balita yang mengalami depresi setelah ditinggal suaminya. Dia meninggalkan anak-anaknya di dalam rumah yang terkunci selama kurang lebih 3 bulan. Dan, tentu saja, saat ditemukan kedua anaknya telah menjadi mayat. Tapi dalam film ini durasinya dibuat lebih singkat, 3 hari saja ia meninggalkan rumah. Tapi angle dan penekanan pada proses dimana anak-anaknya berjuang sendirian di dalam rumah itu yang justru menyayat-nyayat hati :’(

Miris? Pasti. Tapi itulah potret sosial masyarakat. Jaminan ‘kesejahteraan jiwa’ tidak bisa diperoleh di negara semaju dan secanggih Jepang sekalipun. Ada lubang yang mengaga lebar pada jiwa dan mental masyarakat modern saat ini. Semacam kekosongan jiwa yang akut.

Dan perempuan, seolah selalu bisa dieksplorasi perasaannya dari sisi manapun. Sebagai pelaku, korban, maupun sekedar sebagai penonton seperti saya. Yang susah move on meskipun hanya ikut merasakan apa yang dipertunjukkan dalam film dan sejenisnya.

Perempuan Kecanduan Film

Siapa di antara emak-emak dan embak-embak di sini yang tidak suka nonton film? Jaman saya kecil, tontonan semacam ketoprak, lawak dan ludruk di TV hitam putih kami, hingga pagelaran wayang dan layar tancap yang ditampilkan di lapangan kecamatan menjadi salah satu kegiatan terfavorit sebagian besar kaum masyarakat, tak ketinggalan para ibu dan remaja putri pada umumnya. Barangkali karena tontonan itu hiburan satu-satunya, ya.

Sekarang ini, semua produk perfilman bisa diakses lewat TV, PC, laptop, bahkan HP mungil kita. Ya, perubahan jaman semakin membuka kesempatan lebar untuk mengakses hiburan. Yang jika tidak disikapi dengan bijak justru menyebabkan ketidakproduktifan.

Di era ini, ada emak-emak yang kekeuh mantengin sinetron di layar kaca sampai-sampai TV jadi rebutan. Drama Korea tak ketinggalan, ada yang rela download bergiga-giga demi menikmati cerita roman negeri jiran. Tak ketinggalan film India atau cerita Mahabarata yang dipoles dengan kondisi kekinian. Ya. Drama keluarga, komedi hingga science fiction dan film action, semua memiliki penikmatnya masing-masing. Dan selera perempuan sebagai penikmat film pun bertebaran di hampir semua genre-nya.

Kalau saya mencoba huznudzon, ya namanya juga ibu-ibu yang saban hari berjibaku dengan urusan yang bikin stress melulu, mungkin acara nonton film semacam itu adalah salah satu hiburan yang paling memungkinkan. Terutama bisa disambi dengan menyelesaikan setrikaan di malam hari. Asal nggak gosong aja, Buk!

Ya, tapi kalau bisa sih, Buk, jangan memperturutkan perasaan dan kebawa efek film aja. Misal, jadi ikut uring-uringan ke suami atau anak setelah ada adegan film yang bikin sebal. Atau menangis seharian karena cerita filmnya tidak seperti yang diinginkan. Kan, bisa berabe urusan rumah tangga. Gimana tidak kacau kalau sang manajer utama yang menjadi setiap hari ahli menjadi koki sampai dokter pribadi malah termehek-mehek di pojok kamar menangisi sang aktor utama yang gagal menyelamatkan kekasihnya, contohnya. Atau waktunya malah habis karena tidak tahan ingin menghabiskan seluruh seri drama yang selalu bikin penasaran. Ow.. ow.. bisa –bisa ada demo berkepanjangan, tuh, anak-anak dan suami.

Berikut ini mungkin bisa jadi tips nonton ala emak-emak rempong, biar di satu sisi mendapat hiburan dan di sisi lain tidak ada yang terlalaikan.

First, pilih tontonan yang tepat; tema, genre, kalau perlu tokoh dan jalan cerita. Karena, ya itu tadi, perempuan itu mudah terprovokasi apa yang ditonton. Maka, kejelian memilih dan memilih bahan tontonan pun wajib, seperti wajibnya kita memilih bahan masakan untuk keluarga. Ya, pilih tema cerita yang mengundang aura positif dalam jiwa kita. Bukan malah membuat sedih dan susah move on.

Secondly, waktu nonton yang tidak mengganggu aktivitas lain. Yang masih punya bayi macam saya, mungkin nunggu ketika si baby tidur pulas di malam hari. Dengan volume dibuat sekecil mungkin. Minta ijin ke suami biar tidak dholim, hehe. Bikin mini bioskop di dapur kali ya 😀

Lihat sikon juga apakah waktu-waktu ini sedang sibuk banget, sibuk sedang, atau santai ria. Ya, ibu-ibu lebih paham mana yang efektif sesuai kesiibukannya.

Next, bikin target setelah nonton. At least, targetnya bikin jiwa fresh bukan justru mellow gallau. Karena perasaan ibu sangat berpengaruh pada rasa masakan. Eaaaa. Lebih-lebih sangat berpengaruh pada bagaimana memperlakukan anggota keluarga yang lain. Jangan-jangan setelah nonton film action hoby barunya malah ngajak main silat-silatan. Mending kalau cuma sama anak dan suami, lha kalau sama tetangga dan tukang sayur sekalian? 😛

Mungkin yang terakhir perlu dipertimbangkan adalah anggaran. Kalau buka youtube pake kuota pulsa internet, ya mending cari wifi-an gratis, deh, Mak. Ngirit pengeluaran. Jangan sampai berkurang porsi masakan keluarga karena anggarannya dijadikan bail-out untuk nonton film dan download video kesukaan. 

Sekali-kali nonton barengan ke bioskop rame-rame. Biar yang menikmati juga rame. Tentu saja setelah point-point di atas dipertimbangkan.

Ok, Moms. Happy watching. Stay happy and powerful!

Ditulis oleh: Wahtini, baca tulisan lain dari Wahtini disini

Comments

Wahtini

Mamahnya Wahida, tinggal di Jogja. Suka menulis.
Close Menu