5 Masalah Anak di Sekolah yang Jarang Ia Ceritakan Pada Orang Tua

5 Masalah Anak di Sekolah yang Jarang Ia Ceritakan Pada Orang Tua

Tidak semua hal yang terjadi di sekolah diceritakan oleh anak pada orang tuanya. Terutama yang berkaitan dengan kebiasaan yang ia lakukan bersama teman-temannya.

Kebanyakan orang tua hanya bertanya mengenai pelajaran, nilai, apa yang dikatakan guru, dan Pekerjaan Rumah yang harus anak kerjakan.

Padahal sekolah memiliki dunianya sendiri. Interaksi dengan teman terkadang menimbulkan masalah-masalah yang harus anak tanggung sendiri.

Orang tua juga tidak perlu langsung menyelidiki, terlalu banyak bertanya seakan menginterogasi anak. Baca 5 masalah yang kerap ia hadapi namun tak diceritakan pada orang tua.

 

 

  1. Anak Kerap Merasa Iri Pada Teman, Entah Prestasi atau Barang yang Dimiliki

Suasana di sekolah dengan berbagai macam pelajaran dan juga nilai ujian tak jarang menimbulkan perasaan iri. Anak jadi membandingkan diri dengan orang lain.

Jika menyangkut prestasi, ini akan baik. Sebab dapat memotivasi anak untuk berkembang dan melesat lebih jauh. Tetapi orang tua perlu tahu, tak jarang anak iri pada barang yang dimiliki temannya. Ini sebuah masalah.

Misal teman menggunakan sepatu baru sementara sepatu miliknya sudah amat kusam. Ia diam-diam menyimpan akan merasa iri.

Itu pentingnya orang tua memperhatikan perlengkapan sekolah yang anak miliki. Apa masih layak atau tidak. Tentu selam aperalatan itu benar-benar dibutuhkan.

Adapun barang non-primer, sebaiknya orang tua memberi pengertian pada anak bahwa itu tidak penting. Misal temannya diberikan gadget oleh orang tua, dan Anda memilih menunda memberikannya. Bagaimanapun, beberapa peralatan yang belum waktunya tidak perlu Anda berikan pada anak.

 

 

2. Suka Membully Teman

Permasalahan bukan hanya jika anak Anda dibully, melainkan juga tindakan aktif membully. Tidak semua anak memiliki kemampuan sosial yang baik. Beberapa tegolong introvert dan cenderung memiliki resiko dibully. Bulyying biasanya dilakukan secara kelompok pada salah seorang yang dikucilkan.

Ajarkan anak Anda untuk tidak membully siapapun. Katakan padanya, bahwa semua orang sama dan sederajat. Tidak ada yang lebih superrior atau inferior.

Apabila ini berkaitan dengan karakter anak yang suka mendominasi, beri ruang anak untuk menyalurkan energi lewat kegiatan ekstrakulikuler. Sikap superior biasanya datang dari anak yang memiliki tenaga ekstra namun tak memiliki wadah penyaluran yang memadai.

Kegiatan ekstra juga akan mengajari anak untuk berjuang dengan gigih. Mempertemukannya pada berbagai rintangan yang musti diapahami. Secara tidak sadar ia akan belajar mengerti bahwa teman yang dibully juga tengah menghadapi rintangan yang berat.

 

 

3. Anak Anda yang Jadi Korban Bully

Mengetahui bahwa anak dibully di sekolah tentu sangat tidak menyenangkan. Ada perasaan kacau dalam hati. Namun penyelesaian bullying tetap memerlukan sikap tenang. Jangan langsung marah-marah pada pihak sekolah dan pelaku bully.

Sebaiknya Anda menjalin komunikasi pada pihak sekolah, terutama wali kelas.  Ajak pihak sekolah lebih memperhatikan model pergaulan anak didiknya di sekolah. Bagaimanapun Bullying bukan persoalan yang patut disepelekan.

Jika anak mengalami frustasi sebab bullying, beri ia arahan. Namun sebelum itu, penting untuk mendengarkan cerita dan pengalaman yang ia rasakan.

Empati Anda menunjukkan besaran perhatian orang tua yang bisa ia rasakan. Kuatkan dirinya, beri tahu bahwa bullying bukan hal yang baik. Dan anak Anda adalah anak yang hebat, anak yang kuat.

 

 

4. Tertekan Karena Pelajaran

Ingatlah kalau anak Anda memiliki keterbatasan. Tidak semua hal bisa ia kuasaia di sekolah. Banyaknya pelajaran muali dari ilmu eksak sampai ilmu sosial kadang membuat anak kesulitan. Ditambah dengan beban PR yang menggunung. Apalagi full day school yang benar-benar menguras tenaga.

Itu semua dapat membuat anak tertekan dan frustasi. Jika gejala frustasi di sekolah mulai terlihat bantu ia mengatasi masalah. Mungkin dengan menemani anak belajar agar ia merasa didukung oleh orang tua.

Dan lebih penting lagi, jangan tuntut anak untuk menguasai semua pelajaran dan mendapat nilai sempurna. Benar jiak mendukungngya meraih prestasi. Namun jika anak memang tidak suka, janganlah memaksa. Sebab itu hanya menambah tekanan anak di sekolah.

 

 

5. Beberapa Anak Mengalami Behaviors Problem

Tidak sedikit anak yang memiliki kecenderungan berbeda sikap saat di sekolah dan di rumah. Dalam rumah ia mungkin cenderung tenang dan diam. Sebab orang tuanya tidak suka keributan.

Tetapi saat di sekolah anak lebih aktif dan ekspresif. Ia dapat bergaul dengan teman-temannya sebab di luar ia merasa bebas. Jika itu terjadi biasanya disebabkan rasa khawatir dan tidak aman saat berada di rumah. Kerap dimarahi sehingga ia memilih memalsukan karakter demi rasa aman. Itu berarti masalahnya terletak dalam rumah.

Sebaliknya, jika anak jadi diam di sekolah, berarti ada berbagai faktor yang membuatnya tertekan di sekolah.

Jika anak Anda memiliki persoalan demikian, cari tahu penyebabnya. Berikan solusi. Perubahan sikap secara drastis berdasarkan situasi adalah permasalahan yang dapat mengganggu kesehatan psikologis anak.

 

 

Comments

Close Menu