Melihat dari Dekat Perempuan Penjual Sate Madura di Malioboro

Published by Redaksi Tutur Mama on

Tuturmama – Beberapa tahun terakhir, Yogyakarta makin menggiatkan diri sebagai kota wisata. Dampaknya mengena kepada para penjual sate Madura di Malioboro. Penggiatan kota wisata itu terlihat dari semakin gencatnya beberapa kebijakan. Salah satunya relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) Malioboro. Kebijakan ini menjadi langkah penataan kawasan yang digadang jadi warisan tak benda UNESCO.

Pedestrian yang dulunya penuh dengan PKL dan asongan, kini sepenuhnya milik pejalan kaki. Pedagang kaki lima kini berpindah ke tempat relokasi di Teras Malioboro. Tapi penjual lain kini tak mendapat tempat. Tak jarang mereka yang bertahan hingga sekarang, harus sembunyi-sembunyi ketika berjualan. Salah satunya penjual sate Madura yang biasanya duduk di pinggir jalan.

Mayoritas dari bakul sate itu adalah perempuan. Kebanyakan merupakan warga Madura yang merantau dan masih sanak saudara. Mereka menyebar dari berbagai kampung, ada yang dari Bangkalan hingga Sampang.

Mereka menawarkan sate ke pengunjung yang berseliweran dengan logat kental Madura serta penampilan yang khas. Salah satu yang menjadi ciri ialah cara berkerudung yang hanya tersampir atau terikat ke belakang dan cara mereka membawa sate di atas kepala.

Kini mereka berpencar ke gang-gang. Semenjak penggusuran PKL Malioboro, para penjual sate yang biasa berdagang di pinggiran jalan Malioboro atau di sisi pedestrian toko dan kantor DPRD kini luntang-lantung. Untuk berjualan, mereka seperti bermain kucing-kucingan dengan petugas UPT Malioboro.

Baca Juga: Sosial Media: Medan Penyadaran Isu Kekerasan Seksual

Salah satu bakul sate yang saya temui ialah Toyibah. Sebelum saya datang, ia duduk di depan gapura Gang Dagen. Waktu itu sudah tiga kali ia berpindah tempat. Toyibah menceritakan, seringkali petugas mengambil serampangan barang-barang dagangannya, bahkan alatnya membakar sate pun pernah petugas siram dengan air.

“Sekarang gak boleh semenjak penggusuran. Yah memang kayak begini (gak di tempat relokasi). Kalo gak ada petugas maju, kalo ada petugas mundur, ya gimana caranya mau cari makan. Yang penting aku gak nyolong. Dia (petugas) aku kasih sate gak mau, malah ngebentak,” tutur Toyibah sambil tertawa.

Saat sedang bercerita, Toyibah buru-buru beranjak. Seorang penjual sate gerobak datang menggeser tempatnya berjualan.

“Ini udah dateng yang punya tempat,” katanya sambil menyunggi keranjang satenya dan berjalan ke seberang jalan. Menyunggi, adalah cara khas perempuan penjual sate Madura dalam membawa dagangan mereka. Perempuan-perempuan itu menyunggi sambil berjalan dengan kain yang dikebat melingkar sebagai alas di ubun-ubun. Kata Toyibah, semua penjual sate pasti bisa menyunggi.

Toyibah sedang menyunggi keranjang sate dagangannya (foto: Dina Tri Wijayanti)

Toyibah sedang menyunggi keranjang sate dagangannya (foto: Dina Tri Wijayanti)

Toyibah menata ulang piranti berjualannya dan melanjutkan cerita. Saya memesan satu porsi sambil mendengar kisahnya. Satu porsi sate ayam itu ia jual dengan harga mulai dari Rp15.000, isi 10 dengan irisan lontong. Memakai telur akan jadi Rp20.000 atau tambahan lain sesuai selera. Semua sate mereka racik sendiri.

Baca Juga: Rufaida Al-Aslamia, Sosok Inspiratif Pelopor Bidang Keperawatan

Perempuan itu datang ke Jogja sejak 2006. Toyibah tinggal di daerah Kricak. Setiap hari ia pulang pergi naik becak ke Jalan Magelang. Awalnya ia membuka usaha kayu mebel dan sesekali membantu kakak iparnya berjualan sate. Lama-lama ia belajar dan mulai beralih menjadi penjual sate. Semua keluarga Toyibah diboyong ke Jogja. Ia tinggal bersama suami dan kedua anaknya yang sudah menikah. Sebelum di Gang Dagen, Toyibah dulu berjualan di depan Toko Buccheri.

Di Gang Dagen sendiri, terdapat sekitar enam perempuan penjual sate. Mereka mulai berjualan sejak pukul enam pagi hingga larut malam. Ia dan penjual perempuan lain mengaku tak gentar apabila selalu diuprak-uprak, baginya, bagaimanapun ia harus terus berjualan untuk memenuhi isi perut.

Toyibah (paling kiri) bersama para penjual sate perempuan di depan Gang Dagen (foto: Dina Tri Wijayanti)

Toyibah (paling kiri) bersama para penjual sate perempuan di depan Gang Dagen (foto: Dina Tri Wijayanti)

“Ya gimana caranya, kalo mau makan ya tetap jualan. Meskipun perang sama UPT. Kalau aku dapat jatah dari pemerintah 50 ribu sehari, aku gak jualan, udah cukup itu. Tapi kan pemerintah gak ngasih,” curhatnya.

Sebelum penggusuran serta pandemi melanda, perempuan penjual sate Madura masih tergabung dalam paguyuban pedagang Malioboro. Ada beberapa yang berusaha mengurus perizinan, tapi hingga sekarang pengajuan itu belum mendapat respons. Setiap Selasa Wage mereka berkumpul untuk sekadar makan-makan dan bercengkerama di basecamp yang bertempat di dekat Terminal Lawas. Kini mereka tak ada perkumpulan dan hanya berjualan sendiri-sendiri. Ketika kepergok petugas, mereka akan diuprak-uprak.

Baca Juga: Standar Kecantikan Indonesia: Bentuk Rasisme pada Perempuan

Ketika hujan, mereka hanya berteduh di pinggiran toko. Penghasilannya sekarang jauh berbeda dengan ketika masih di selasar Malioboro. “Sekarang yang penting cuma bisa makan. Gak ada bandingnya. Dulu bisa sampai 200, sekarang kadang dapet tiga porsi, empat porsi,” lanjut Toyibah.

Ia sebetulnya masih tak habis pikir alasan para pengasong dan penjual sate seperti dirinya dilarang berjualan. Padahal menurutnya, jika yang menjadi persoalan adalah tata kelola Malioboro alias kerapian, ia selama ini merasa cukup tertib serta tak menggunakan tenda. Alasan lain yang sering ia dengar ialah karena asap pembakaran sate yang mengganggu pengunjung Malioboro. Ia sungguh berharap mendapat dukungan untuk mencari nafkah tanpa kekhawatiran macam-macam.

“Ya kan gak ada sate goreng,” kelakarnya.

Kini, beberapa penjual ada yang berhenti berkeliling dan mulai membuka warung. Namun berjualan keliling masih menjadi pilihan. Alasannya, mereka belum memiliki modal cukup untuk menyewa tempat. Selain itu, berjualan keliling dengan menyunggi sudah menjadi identitas unik perempuan penjual sate Madura selama bertahun-tahun.

Bergeser ke utara dari Gang Dagen, saya menjumpai tiga perempuan penjual sate di Gang Sosro. Mereka merupakan tiga bersaudara, yakni Lasbiah, Siti dan Ana. Selain di gang-gang mereka juga berjualan ke stasiun. Malamnya, sebelum saya datang, mereka sempat kena garuk ketika berjualan di stasiun dan sampai harus sembunyi-sembunyi. Siang itu mereka hanya berjualan di Malioboro karena di hari Minggu, ikon kota Jogja itu selalu ramai.

Di antara ketiganya, Lasbiah adalah yang paling lama berjualan. Dulunya, Lasbiah hanya diajak. Ia merantau ke Jogja sejak masih gadis. Saat saya tanya usianya kala itu, ia hanya bisa berusaha mengingat. Perempuan itu tak ingat pasti. Tanggal usianya tak tercatat dengan jelas. Perempuan itu hanya bisa mengira umurnya sudah hampir 60. Katanya usianya kurang lebih sama seperti saya. Artinya Lasbiah ke Jogja sejak usianya menginjak dua puluhan.

Baca Juga: Di Ambang Pilihan: Wanita Karir atau Ibu Rumah Tangga?

“Aku ke sini sejak kecil, lebih kecil dari kamu. Dulu sate harganya masih satu rupiah,” kisahnya pada Saya.

Siti meracik sate untuk pembeli. (foto: Dina Tri Wijayanti)

Siti meracik sate untuk pembeli. (foto: Dina Tri Wijayanti)

Lasbiah tujuh bersaudara bersama Siti. Sejak kecil ia tak punya ingatan tentang ibunya yang telah meninggal. Sementara Ana, merupakan saudara beda ibu. Mereka bertiga juga tinggal di daerah Kricak. Kendati demikian, mereka datang tak berbarengan.

Masing-masing tinggal di kontrakan dengan keluarga. Siti bersama anaknya, Ana bersama anak dan menantunya, sedang Lasbiah hanya bersama seorang keponakan. Lasbiah mengaku tak punya suami dan anak. Ia pernah menikah kemudian bercerai ketika masih di Madura. Dari tujuh bersaudara itu, mereka bertigalah yang memilih mengadu nasib di Jogja dan berjualan sate. Sanak yang lain memilih bertani di Sampang.

Beberapa kali di sela-sela wawancara, selain sibuk menawarkan sate ke setiap pengunjung yang melintas, Lasbiah nampak sibuk mengangkat beberapa panggilan telepon. Sambil membolak-balik dan mengipasi daging ayam di pemanggang arang, ia berbicara dengan orang di seberang ponsel memakai tuturan Madura yang kental. Ini seolah juga menjadi ciri khas para perempuan penjual sate Madura.

Baca Juga:Cerita Pengalaman Mengajar di Pedalaman Indonesia

Saya juga mendapati beberapa tukang sate lain setiap beberapa menit selalu ramai mengobrol memakai telepon dasar mereka. Tak jarang sambil sibuk berjualan, mereka mengapit ponsel mokrofoniknya ke dalam baju bagian pundak atau menyempilkan ke dalam kerudung dekat telinga.

Lasbiah tengah mengobrol melalui ponsel dasarnya. (foto: Dina Tri Wijayanti)

Lasbiah tengah mengobrol melalui ponsel dasarnya. (foto: Dina Tri Wijayanti)

Yang menjadi ciri khas lain, ialah jalinan kekerabatan di antara para perempuan penjual sate Madura. Sejak dulu kota Jogja menjadi salah satu diaspora para perantau yang berjualan di sana. Dan menjual sate menjadi salah satu pekerjaan informal yang diminati, karena tak memerlukan latar belakang pendidikan atau keahlian tertentu. Mereka pun tak lepas dari ajakan dari kerabat satu dengan yang lain. Jalinan kekerabatan mereka begitu kentara.

Misal dalam satu gang, seperti Lasbiah dan dua saudaranya, penjual satu dengan yang lain merupakan satu keluarga atau kerabat dekat. Meski beberapa telah berkeluarga, tempat tinggal mereka pun berdekatan. Mereka terikat satu sama lain. Ketika berjualan, mereka saling berbagi pelanggan. Semisal ada dua pembeli, mereka akan berbagi pendapatan. Satu porsi dari Lasbiah, satunya dari Siti, begitu seterusnya. Tak jarang mereka juga saling meminjam uang untuk kembalian.

Oleh: Dina Tri Wijayanti

dhankasri hindisextube.net hot bhabi naked rebecca linares videos apacams.com www tamilsexvidoes lamalink sexindiantube.net chudi vidio sex mns indianpornsluts.com hd xnxxx shaving pussy indianbesttubeclips.com english blue sex video
savita bhabhi xvideos indianxtubes.com xxx bombay live adult tv desitubeporn.com mobikama telugu chines sex video indianpornsource.com video sex blue film sex chatroom indianpornmms.net old man xnxx aishwarya rai xxx videos bananocams.com sex hd
you tube xxx desixxxv.net xossip english stories sanchita shetty pakistaniporns.com mom sex video cfnm video greatxxxtube.com sex marathi videos mmm xxx indianpornv.com sexxxsex xvideosindia indianhardcoreporn.com ajmer sex video