Memang Ibu Saja yang Bisa Depresi? Ternyata Ayah Juga Bisa Lho!

Memang Ibu Saja yang Bisa Depresi? Ternyata Ayah Juga Bisa Lho!

Ada yang bilang ibu rumah tangga itu rentan banget kena stress. Bayangin aja, bila Anda seorang istri yang baru punya bayi, 24 jam bersama si kecil. Apalagi kalau si kecil tengah malam bangun minta ASI. Duh, pastinya badan gak bisa istirahat dengan tenang.

Nah, tak jarang lho, banyak ibu-ibu muda yang mengalami stress mengurus anak. Gak mau lagi dekat-dekat dengan bayinya. Malah takut dengan bayinya. Istilahnya babyblues.

Eits, ternyata babyblues ini gak cuma dialami para ibu lho. Para ayah baru juga bisa mengalami hal serupa. Mungkin terdengar sedikit ganjal. Namun depresi yang dialami para ayah memang lebih jarang terdeteksi karena pria jarang mengungkapkan kecemasan yang dirasakannya.

Namun menurut penelitian terkini, para ayah pun dapat menderita depresi setelah kelahiran seorang bayi. Terlebih apabila seorang ibu terlebih dulu menderita post partum depression, hal ini dapat meningkatkan resiko seorang ayah menderita paternal post-partum depression.

Apa penyebabnya?

Berbagai teori masih berlomba-lomba untuk membuktikan. Ahli biologi evolusi menduga bahwa fluktuasi hormon pada ayah baru dapat terjadi sebagai salah satu cara natural seorang ayah untuk bonding dengan bayinya. Kadar testosteron menurun sementara kadar estrogen dan kortisol naik.

Faktor lain juga memperberat para ayah baru untuk mengalami depresi.

Pertama, perubahan gaya hidup

Sebelum memiliki anak, seorang laki-laki lebih bebas bermain games kesukaan, menonton bola hingga larut malam atau bermain futsal bersama teman-teman. Semenjak kelahiran seorang anak, biasanya kualitas me-time seorang ayah menjadi bekurang karena fokus mereka dialihkan untuk istri dan bayi mereka.

Kedua, tuntutan demi tuntutan

Seorang ayah baru akan memiliki dua bukit masalah. Ketika ia berada di kantor (mendapat tuntutan dari atasannya) dan juga saat pulang ke rumah (mendapat tuntutan dari bayi dan juga istrinya. Ia harus memikirkan anggaran untuk popok, imunisasi dan keperluan bayi lainnya. Ia juga harus begadang setiap malam, menemani para ibu menyusui bayinya. Dan keesokan paginya ia harus bersiap lagi menghadapi setumpuk tugas di kantor.

Ketiga, kurangnya dukungan sosial terhadap status baru seorang ayah

Stigma sosial terhadap seorang ayah adalah seorang pencari nafkah utama, penanggung jawab, dan kepala keluarga. Apabila seorang ayah baru memiliki pengetahuan dan pengalaman yang kurang, ia akan mengalami kegelisahan dan merasa tidak berdaya.

Keempat, nerasa tersisih dari bonding ibu dan bayinya

Pada 2-3 bulan pertama adalah masa-masa kritis bonding seorang ibu dan bayi. Jam tidur bayi masih belum teratur. Lambungnya yang kecil mengharuskan ia bangun lebih sering untuk mendapatkan ASI. Hal ini akan menyebabkan seorang ibu akan terus menempel dengan bayinya dan membuat seorang ayah merasa cemburu dan tersisih. Belum lagi ketika ibu masih dalam masa nifas, sehinga para ayah perlu mengendalikan hasrat seksual mereka.

Kelima, kurangnya reward dari pasangan

Laki-laki membutuhkan apresiasi. Hal itu tidak diragukan lagi. Namun apabila seorang ayah baru kurang mendapatkan reward, maka akan membuat ia uring-uringan. Merasa tidak berguna dan tidak memiliki peran apa-apa.

Gejalanya bisa beragam, mulai dari keluhan fisik seperti jantung berdebar, merasa sedih, lebih pendiam, merasa tidak berharga,  mudah marah, kehilangan minat pada seks, bahkan terlibat pada perilaku beresiko seperti minum-minuman beralkohol atau obat terlarang.

Lalu apa pentingnya? Penting sekali.. Para ayah yang depresi akan berimbas bagi kesehatan sebuah keluarga. Terlebih lagi, ayah yang depresi akan memberikan efek bagi sang anak (baik dampak langsung maupun melalui ibunya). Anak akan mengalami gangguan emosi bahkan gangguan tingkah laku.

Lalu bagaimana caranya mendukung para ayah agar tidak mengalami depresi?

Satu, dukungan dari para ibu

Banyak ibu baru yang merasa khawatir melihat si bayi bersama ayah. Khawatir salah menggendong, khawatir tidak sigap bila ada yang terjadi pada bayi, dan kekhawatiran lain. Melibatkan para ayah baru dalam setiap aktivitas mengurus bayi adalah kuncinya.

Jangan lupa, beri ruang kepercayaan bagi para ayah baru bahwa mereka juga mampu mengurus buah hati mereka. Sedikit pujian dan apresiasi ketika mereka mampu mengerjakan yang diminta, akan sangat berharga bagi mereka.

Dua, jadwalkan kencan bersama

Sebelum si buah hati hadir ditengah-tengah pasangan suami istri, nampaknya tak sulit meluangkan waktu kencan bersama. Nah, untuk mencegah perasaan tersisih dari seorang ayah, maka para ibu baru perlu menjadwalkan waktu hanya berdua dengan pasangan. Titipkan sementara bayi kita pada orang yang terpercaya (misal; orangtua, mertua atau saudara).

Simpan dulu rasa bersalah karena meninggalkan si buah hati. Yakinkan bahwa meluangkan waktu bersama untuk makan malam atau nonton bioskop, mampu menyegarkan keintiman rumah tangga.

Tiga, mereka pun butuh me-time

Tak hanya seorang ibu yang butuh me-time, para ayah juga. Berbagai tuntutan yang bertubi-tubi hadir semenjak kelahiran seorang bayi cukup membuat mereka merasa frustasi. Para ayah baru perlu memiliki dukungan dari ayah lain atau teman sepermainannya agar bisa saling menguatkan. Mungkin bentuknya berbeda dengan para ibu yang sangat suka bercerita setiap kali bertemu.

Para ayah mungkin cukup mengobrol sebentar sambil ngopi, menonton bola bersama atau bermain futsal dengan ayah lainnya. Atau memberikan sedikit kelonggaran agar mereka bisa meluruskan kaki setelah melewati hari yang panjang atau sekedar membaca berita online untuk mengetahui perkembangan negeri amat sangat membantu mereka.

Empat, mengusahakan untuk mendapatkan cuti pekerjaan

Cuti pekerjaan sebelum dan sesudah istri melahirkan dianggap signifikan untuk menjaga kewarasan ayah dan juga ibu baru. Ayah akan terlepas sementara dari berbagai tuntutan pekerjaan dan bisa fokus terhadap istri dan juga bayi mungilnya.

Sang ibu pun akan merasa lebih tenang karena ia bisa berbagi peran dengan sang ayah dalam mengurus buah hati mereka. Cuti pekerjaan sebaiknya mulai diusahakan jauh jauh sebelum bayi lahir. Jangan lupa siapkan dana tambahan (apabila tidak ada penghasilan selama masa cuti).

Lima, dukungan sosial terhadap status baru si ayah

Begitu seorang bayi lahir, seorang ayah memikul beban tambahan di pundaknya. Ia harus menjadi penanggung jawab dan juga mencari nafkah tambahan. Ayah memerlukan dukungan baik dari pasangan, keluarga inti dan juga kerabat yang lain agar mampu menjalani peran mereka secara bertahap. Jangan terlalu banyak menuntut mereka.

Cukup beri keyakinan kepada mereka bahwa mereka mampu menjadi seorang ayah yang baik.

Teruntuk para ayah dan ibu yang baru menjadi perannya sebagai orangtua.. Yuk kita belajar menjadi orangtua yang baik. Tak harus sempurna. Tak harus hebat. Karena menjadi orangtua yang hebat membutuhkan metamorfosis berlapis-lapis. Melewati menjadi orangtua seorang bayi, orangtua seorang anak, seorang remaja, dan seterusnya.

Mari nikmati setiap proses yang kita lewati bersama anak kita. Mari saling dukung dan bahu membahu satu sama lain. Tak perlu saling menghakimi dan merendahkan peran masing-masing. Setiap masalah tidak akan bisa kita cegah, namun setiap masalah pasti bisa kita kelola (tentunya dengan pertolonganNya). Tak pernah dipungkiri bahwa orangtua yang bahagia akan menghasilkan anak-anak yang bahagia pula, bukan?

Mari menjadi orangtua yang bahagia untuk anak-anak kita! Semangat!

Comments

Pratami Diah Herliani

Seorang ibu dengan satu putra yang beraktivitas sehari-hari sebagai ibu rumah tangga, dan praktek sebagai dokter umum di sela-sela waktunya.
Close Menu