Membacakan Dongeng Sebelum Tidur, Bisa Membuat Anak Jadi..

Membacakan Dongeng Sebelum Tidur, Bisa Membuat Anak Jadi..

Mari putar kembali memori kita ke masa kanak, pernahkah Ayah atau Ibu kita mendongeng saat menemani kita tidur? Cerita apa yang paling asik bagi Anda?

Beragam kultur dan budaya di masing-masing lingkungan kita tentu menyajikan dongeng yang berbeda-beda pula. Jaman saya kecil ada cerita Ibu saya berjudul Munthung. Anda mungkin mengenalnya, atau justru merasa asing? Itu cerita sangat sederhana. Tentang tokoh yang bernama Munthung. Dia rajin membantu ibunya. Suka bekerja keras dan tidak mengenal lelah.

Kerja kerasnya itulah yang berefek pada porsi makannya yang sangat banyak. Terus apa menariknya? Nggak tahu. Tapi saya suka menanti-nanti cerita itu. Berulang-ulang meminta. Padahal dari jalan cerita sepertinya biasa-biasa saja, tidak ada konflik atau intrik yang membuat cerita terdengar asik.

Begini..

Adegan bermula ketika sang Ibu memanggil anaknya. “Munthung … “

Lalu ada jawaban, “Kula (Saya)….”

Sang Ibu mulai memberikan perintah-perintah seperti memikul air, mencari kayu bakar, dan lain-lain. Setelah selesai sang Ibu menyuruhnya makan. Si Munthung makan dengan lahap menghabiskan semua hidangan. That simple!

Tapi Ibu saya punya semacam nada dan intonasi sendiri ketika mendongengkannya. Suara si Munthung memikul beban dilafalkan oleh Ibu saya, “Ngkit ngkot ngkit ngkot….” Suara khas itu menjadikan suasana cerita tidak terdengar datar. Dan itu yang saya ingat sampai sekarang. Hanya suara pikulan si Munthung 😀

Konon katanya, cerita Si Kancil Nyolong Timun addalah cerita paling umum dan hampir seluruh daerah di Indonesia mengenalnya. Katanya –juga –  cerita ini yang menjadi inspirasi menjangkitnya budaya tipu-tipu di negeri kita tercinta. Mulai dari tipuan jawaban ketika ulangan, sampai tipuan yang berbau uang dan jabatan. Wow?! Segitukah cerita di masa kecil bisa mempengaruhi masa depan kita?

Beruntung Alhamdulillah, jika kita termasuk yang tidak tergoda untuk meniru kejelekannya. Mungkin sekadar menjadikannya hiburan atau wawasan pengetahuan. Nah, Bunda, apa sih menariknya dongeng sebelum tidur itu?

Pertama, kesan. Kesan anak terhadap orang tuanya yang suka mendongeng dan bercerita kira-kira apa? Positif atau negative, menyenangkan atau membosankan, asik atau nyebelin? Kesan ini bisa melahirkan kebangggan atau malah kekecewaan. Dengan berbagi cerita sesuatu yang baru, anak merasa orang tuanya banyak tahu. Bahasa lainnya pintar. Kesan pintar ini penting untuk memupuk kepercayaan dan kebanggaan pada anak.

Kesan terhadap cerita juga penting. Saat cerita itu berkesan, nilai positif bisa lebih mudah tertanam dalam benak mereka. Nilai negatif perlu ditegaskan oleh orang tua saat mendongeng. Hal ini juga agar tertanam bahwa yang buruk harus dijauhi dan tidak dilakukan.

Kesan terhadap dongeng menimbulkan perasaan senang. Ketika anak tertidur dalam keadaan senang tentu kualitas tidurnya lebih baik, bukan? Keesokan harinya ketika terbangun pun kemungkinan besar suasana hatinya lebih positif, in good mood bahasa kerennya.

Kedua, kedekatan. Menemani anak tidur memberi kesan dekat bagi anak maupun orang tua. Anak merasa diperhatikan, orang tua juga merasa lebih luas mencurahkan kasih sayang. Dongeng bisa menjadi salah satu cara untuk membangun kedekatan.

Perhatikan apakah anak antusias menanggapi cerita Anda. Jika iya, antusias dalam hal apa. Hal yang diminati anak itu bisa menjadi PR bagi Anda agar besok ketika mendongeng lagi bisa menghubungkannya dengan minat si anak. Wow! Bisa-bisa anak Anda ngefans berat sama emaknya yang pintar bercerita.

Ketiga, didikan. Sudah bukan hal baru bahwa mendidik dengan bertutur dan memakai analogi cerita merupakan cara yang efektif. Sebenarnya tidak harus berbentuk dongeng. Bisa saja dongeng sekadar untuk memancing anak bercerita tentang kegiatannya sehari tadi. Atau malah dongeng untuk menutup cerita anak. Semacam feed-back. Wah ini perlu kecanggihan tersendiri. Menghubungkan peristiwa yang dialami anak seharian tadi dengan dongeng yang akan dibawakan.

Tapi jika ini berhasil, orang tua mampu menanamkan point pendidikan lewat dongengnya. Banyak pesan moral yang bisa disampaikan melalui cerita-cerita yang menyenangkan. Tokoh yang kuat, mandiri, cerdas, baik hati, jujur dan sebagainya digambarkan dengan apik. Ini bisa menginspirasi anak untuk meneladaninya.

Keempat, pengetahuan. Yang namanya anak-anak paling antusias dengan sesuatu yang baru. Maka dongeng kita pun dituntut tidak hanya menarik dari sisi cerita, tapi juga menarik karena berisi pengetahuan dan wawasan baru bagi anak. Tentu saja ini menuntut Anda untuk selalu upgrade pengetahuan juga ya. Yakin, deh, cerita dan dongeng Anda akan menjadi moment paling dinantikan.

Nah, Moms, sudah siap bercerita untuk meninabobokan anak kesayangan Anda? Tentu saja ada bekalnya, dong, sebelum bisa menjadi sosok yang dirindukan dengan dongeng-dongen asiknya?

Rajin baca. Ini super penting untuk selalu merefresh pengetahuan kita. Nggak harus baca buku, dong. Bisa baca dari grup WA tentang cerita-cerita inspiratif, atau di facebook juga sering dibagikan, atau kalau bisa meluangkan search and browse kisah dan cerita yang menurut Anda pas untuk dibagikan ke anak-anak.

Pilah dan pilih kisah terbaik, ya, Moms. Seperti kisah para Nabi dan Rasul, serta orang-orang pilihan. Tentu untuk melahirkan keteladanan bagi anak-anak kita. Sesekali tetap diselingi cerita yang menghibur dan tidak terlalu serius sekadar menyenangkan dan menggembirakan buah hati tercinta.

Berlatih mendongeng. Ya, biar tidak datar-datar saja kan perlu intonasi yang cocok dengan jalannya cerita. Atau pemilihan kata juga penting untuk meramu cerita terdengar lebih ciamik. Kalau perlu ikut sekali-kali kursus mendongeng.

Share dengan komunitas ibu-ibu juga menarik, untuk saling memberi masukan dan saran. Dan saling berbagi bahan dongengan, dong. Jadi lebih kaya pengetahuan untuk dipraktekkan di kamar tidur anak-anaknya.

Selamat mendongeng, selamat membangun kedekatan. Sebelum moment itu hilang semoga masa emas anak-anak kita bisa terwarnai kebaikan. Salam!

Comments

Wahtini

Mamahnya Wahida, tinggal di Jogja. Suka menulis.
Close Menu