Ma, Tak Perlu Pusing Mengatasi Anak yang Suka Menggigit Mainan

Ma, Tak Perlu Pusing Mengatasi Anak yang Suka Menggigit Mainan

Tanggal 15 Maret nanti, Arjuna, putra saya genap berusia satu tahun. Senangnya merayakan ulang tahun pertama anak ya, Ma. Satu tahun sudah terlewati sejak Arjuna pertama kali lahir ke dunia. Ada banyak hal yang berubah. Ada banyak yang bertambah. Ada banyak hal yang tak terasa begitu cepat berlalu. Rasanya status mama muda belum lama didapatkan.

Arjuna di tahun pertama usianya ini, barisan giginya telah bertambah. Kalau dulu usia 6 bulan, giginya baru tumbuh dua. Itupun mungil di mulut bagian atas. Kini barisan gigi Arjuna telah berjumlah enam buah. Empat gigi di atas, dan masih setia dua gigi seri dibawah.

Uniknya, gigi taring Arjuna ternyata tumbuh tidak seragam. Bagian kanan lebih lancip daripada bagian kiri. Ini membuat senyum anak saya ini menjadi lebih manis. Maka saat ini selain melihat wajah Arjuna, obat lelah bagi saya juga bertambah dengan melihat senyum imutnya.

Nah, bertambahnya para prajurit gigi itu ternyata menambah pula tingkah Arjuna. Kalau biasanya ia hanya hobi membanting mainan-mainannya, kini dengan adanya barisan prajurit putih itu ia punya hobi baru: menggigit mainan-mainannya.

Jadi tingkah Arjun saat ada mobil mainan dihadapannya adalah; ambil, banting, lalu gigit. Banting lagi, lalu gigit. Diiringi sorak sorai suaranya gembira. Begitu seterusnya sampai ia bosan.

Setelah saya baca-baca literatur, ternyata hampir setiap anak usai batita akan mengalami fase ini. Namun hal itu wajar aja kok. Ini adalah sebuah fase yang memang harus dilewati setiap anak. Para ahli menyebutnya sebagai fase oral.

Saya kutip ya dari sebuah situs, bahwa, “Ada saat-saat di mana anak kita sangat senang memasukkan segala sesuatu yang dipegangnya ke mulut. Ini biasanya disebut dengan fase oral. “Fase oral merupakan salah satu tahapan perkembangan psikologi bayi, biasanya ini aktif terjadi dari bayi hingga usia 1.5 tahun,” ujar Dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K)., MPH saat berbincang dengan Fimela Family.

Pada fase ini, anak-anak akan mengalami pematangan fungsi organ-organ motor yang kelak berguna untuk dirinya melakukan aktivitas sekitar mulut, bibir, dan lidah. Melalui fase oral, anak-anak akan berlatih untuk, makan, mengunyah, serta berbicara.

Tuh, saya kutip lengkap lho, Ma.

Ada beberapa alasan kenapa anak usia batita suka menggigit.

Pertama, karena dalam tahap eksplorasi. Anak umumnya belajar melalui sentuhan, penciuma dan apa yang didengar dan dirasakan. Nah, bila orang tua memberikan suatu barang baru pada anak, maka reaksi setiap anak hampir sama: memasukkannya ke dalam mulut. Mungkin anak merasa penasaran, “Ini apa sih? Coba aku masukkan ke mulut gimana ya?” begitu pikir anak.

Kedua, jika ingin tumbuh gigi. Saat anak akan tumbuh giginya biasanya gusinya akan gatal dan bengkak. Sehingga anak akan mencari pelampiasan. Umumnya berbagai barang inilah yang menjadi pelampiasannya. Mainan digigitnya. Bantal digigitnya. Baju digigitnya. Tangan Mamanya atau Om-nya juga digigitnya.

Kebanyakan Mama pasti khawatir, dan tak jarang akhirnya melarang anak untuk memasukkan mainan atau barang lain ke mulutnya. Eits, ternyata hal ini malah bisa mengganggu fase oral anak lho.

Saat anak menggigit mainan, biarkan saja. Itu adalah tahap wajar perkembangan anak. Santai aja ya, Ma.

Lantas apa yang saya lakukan?

Saya hanya memastikan saja bahwa apa yang Arjuna gigit dan masukkan dalam mulut adalah barang atau mainan yang bersih dan aman untuk digigit; tidak tajam yang bisa melukai mulutnya.

Begitu saja, sesederhana itu Ma.

Selanjutnya yang lebih penting adalah pastikan Mama menikmati waktu bermain bersama anak.

Arjuna sedang bermain dengan mobilnya
Arjuna sedang bermain dengan mobilnya

.

.

Oleh: Dewi, Mamanya Arjuna. Baca juga tulisan menarik lainnya dari Mama Dewi disini. 

Comments

Redaksi Tutur Mama

Persmebahan dari redaksi untuk para orang tua dimana saja. Dan kapan saja.
Close Menu