Menikah Denganmu Mengajarkan Artinya Hidup Bermakna

Menikah Denganmu Mengajarkan Artinya Hidup Bermakna

Saat masih muda, saya tidak tahu untuk apa menikah. Saya pikir menikah hanyalah kesia-siaan. Lebih baik membujang seumur hidup sebab menikah berarti menambah beban hidup. Ada istri, anak, rumah, uang belanja, dan seabrek tanggung jawab baru nantinya. Tapi itu dulu, sebab saat mendekati usia 30 ada sesuatu yang terasa kurang.

Hanya saja, proses menuju kesadaran itu cukup panjang dan melelahkan. Saya berputar-putar dan berjalan mengelilingi rute yang panjang dan melelahkan. Seperti seekor hamster yang berputar dalam lingkaran yang sama. Terus bergerak tapi tidak kemanapun. Hmm, susah ya hehe.

Selagi muda saya memang sibuk bekerja di ibukota. Saya bergaul dengan sesama wanita karir yang tentu saja, lebih mementingkan karir ketimbang keinginanan menikah dan memiliki anak.

Jadilah pergaulan itu diisi obrolan seputar karir dan pencapaian yang diinginkan di kantor. Nyatanya begitulah yang pernah saya rasakan.

Baca juga :

Kehadiran Sang Buah Hati Bikin Rumah Tanggaku Semakin Kokoh


Demi Suami Aku Mau Berkorban, Supaya Anak-Anak Tetap Bahagia


Suamiku Hebat Tidak Hanya Pada Istri, tapi pada Anak-Anakku Juga

Sampai usia 25, saya yang perempuan ini belum belum ada niat untuk menikah. Orangtua di rumah sudah khawatir dengan sikap anak perempuannya yang ogah menikah. Ya, namanya orangtua mesti khawatir kalo anak perempuan yang udah berusia seperempat abad belum ada niatan menikah. Kata orang dulu takut jadi perawan tua.

Saya sih enggak khawatir sama yang kayak gitu. Ayolah, hidup ini terlalu singkat kalau seorang wanita karir langsung menikah. Di otak saya kala itu, hanya ada keinginan dan harapan mendaki gunung karir sampai puncak.

Kalau belum sampai di atas, jangan mikir yang lain. Apalagi mikir kawin terus punya anak dan jadi ibu. Duh, itu enggak banget deh. Begitu pikiran saya dulu.

Memang sih ada beberapa pria yang mengajak saya untuk menikah dan menjalani hubungan serius. Tapi ya itu, hati saya sudah terlalu keras dilapisi hasrat bekerja sekeras dan sebaik  mungkin.

Sampai pada usia 27, ada sesuatu yang terasa kurang di hati saya. Saya bekerja keras, saya melakukan semuanya demi karir, tapi kehilangan tujuan hidup. Seakan saya tiba-tiba tersesat dalam hutan rimba yang lebat dan tak tahu arah jalan.

Sulit sekali menjelaskan perasaan seperti itu. Tiba-tiba saja semu terasa hampa dan semua yang saya lakukan tak terasa bermakna.

Ya, itu dia, saya tak dapat merasakan makna di balik kesibukan ini. Rutinitas berputar dan saya tak tahu akan berakhir ke mana semua ini. Apa saya akan mengulangi rutinitas ini setiap hari sampai tua nanti tanpa mengerti muaranya.

Saya jadi berpikir, untuk apa semua yang saya lakukan?

Iya, saya bekerja dan mendapat gaji, bisa belanja, bisa jalan-jalan dan bisa makan enak. Lalu apa? Rasanya rutinitas semacam itu sangat membosankan bagi saya. Saya ingin tahu untuk apa pekerjaan saya.

Dan begitulah, saya akhirnya tahu bahwa kesendirian menjadikan kehilangan tujuan. Maka akhirnya saya memilih untuk menikah dan menemukan jawabannya.

Kini saya tahu apa tujuan hidup dan bekerja. Untuk apa dan bagaimana semua ini akan saya jalani. Saya mengerti bahwa menikah sanggup memberi arti kehidupan. Perasaaan ini justru semakin bertambah seiring hari usai hidup bersama suami.

Saya pikir suami orang yang baik dan benar-benar bertanggung jawab. Lah saya ini kok jadi malu punya suami yang hebat sementara diri saya ini hanya butiran debu. Tapi namanya  jodoh, saya bersyukur saja.

Setelah hidup bersama di bawah satu atap, hidup terasa lebih bermakna dan memiliki tujuan.

Bangun pagi saya melihat wajah suami yang masih tertidur dan merasakan kebahagiaan. Ternyata tidur ditemani suami lebih enak dari sendirian. Hihi. Jadi ada teman ngobrol apa saja dan kapan saja dan itu membuat hati saya jadi tenang.

Setelah menikah tidak ada lagi perasaan hilang seperti yang pernah saya rasakan dulu kala di usia 26. Usia 26 kala itu adalah usia kehilangan dan pencarian akan tujuan hidup yang lebih luhur.

Setinggi apapun karir yang dapat saya capai, pada akhirnya saya tak merasa bahagia. Semua pencapaian hanya dirasakan diri sendiri dan itu sangat membosankan.

Sebaliknya, ketika menikah ada banyak alasan saya harus bekerja keras. Membangun rumah tangga bersama suami, mempersiapkan diri jadi ibu, dan kelak juga bekerja untuk anak-anak penerus generasi.

Ada sejuta bayangan masa depan yang patut diperjuangkan sejak saat ini, sejak saya masih pasangan suami istri yang baru berumur sejagung. Indah sekali ya nikah. Hehe.

Mungkin Bunda yang lebih senior akan bilang kalau saya saja yang belum merasakan beratnya mengurus anak yang ngompol dan terbangun tengah malam minta ASI. Memang demikian adanya.

Tapi lebih baik begitu daripada hidup terkatung-katung sendirian di tengah samudra ibukota yang dijejali pekerjaan. Samudra pekerjaan tidak akan pernah menemukan muara yang pasti. Manusia hanya akan terombang-ambing di atasnya tanpa pernah sanggup mendarat di pulau peristirahatan.

Sementara pernikahan menempatkan manusia di atas bahtera yang tahu arah dan tujuan. Meski sama berada di atas samudra, tapi pasangan suami istri tahu harus kemana dan untuk apa.

Meski selanjutnya, kata emak-emak, hanya ada rempong yang tak berkesudahan. Mengurus suami, anak, pekerjaan, rumah dan lain-lain. Ketahuilah, Mak, ini lebih baik bagi seorang wanita karir yang sebelumnya tidak tahu tujuan hidup.

Menikah menjadikan seseorang menemukan kembali tujuan hidupnya yang sempat hilang dirampas usia nanggung jelang umur 30. Usia segitu memang rawan kehilangan tujuan hidup.

Hanya pernikahan yang sanggup menyelamatkan seseorang dari bahaya disorientasi akibat usia yang bertambah.

Tidak ada alasan saya menolak anugrah ini. Menikah itu jalan keluar dari hidup tanpa tujuan, bukan jalan keluar dari masalah. Setelah menikah masih ada banyak masalah, tapi sekarang ada sahabat paling setia yang siap menemani, dia adalah suami.

Yuk, kurangi mengeluhnya. Perbanyak syukurnya. Ingat lagi betapa tidak enaknya hidup sendirian. Hehehe.

 

*Seperti dituturkan oleh Y di YK*

Comments

Close Menu