Meski Merengek dan Menangis, Anak Kudu Diajarin Mandiri Sejak Kecil Biar Enggak Nempel Terus Sama Ibunya

0
573

Salah satu moment paling berat dari mengasuh anak adalah membiarkannya sendiri di kamar atau ruang tamu agar dia belajar mandiri. Mengajarkan hal itu itu emang enggak mudah. Bahkan bisa dibilang salah satu tahap pengasuhan yang cukup berat, sebab setiap anak pasti sangat lengket sama orangtuanya. Anak saya misal, maunya digendong dan bareng sama ibunya terus.

Waktu ditinggal sebentar aja buat ke dapur dia langsung menangis. Ya Tuhan, enggak ada jeda waktu sedikit aja buat istirahat menenangkan diri atau melakukan pekerjaan rumah.

Bulan ini saya mulai bertekad untuk mengajarkan si kecil mandiri. Bukan mandiri dalam artian mencari uang dan makan sendiri, tetapi agar tidak minta digendong melulu. Ya, namanya juga bayi kan, Bun, maunya dimong aja.

Ini langkah kedua setelah saya berhasil menyapih si kecil. Hmm, proses menyapih itu berat banget ya. Kudu dilakukan meski anak nangis gak ketolongan. Ibu mana yang tega ngeliat anaknya menangis, enggak ada.

Menyapih jadi momen emosional buat si bayi dan juga ibunya. Tapi bagaimanapun, semua ibu pada akhirnya harus memutuskan untuk menyapih si bayik.

Tak berhenti di sana, selanjutnya saya sedang berusaha mengurangi kelengketan anak pada ibunya. Kan enggak mungkin si kecil akan terus-terusan bergantung sama ibunya. Maunya ditemenin terus dari pagi sampai malam.

Suatu saat nanti anak harus bisa mandiri dan bergaul dengan teman-teman sebaya, bukan hanya ibu dan ayah saja.

Buat ibu yang sedang dalam proses seperti saya, semangat ya. Sebagai ibu, kita ingin anak kita tumbuh besar menjadi sosok mandiri. Namun proses menuju mandiri memang tidak mudah. Butuh kemauan dan ketahanan.

Kalau pengin anak mandiri, jangan jadi ibu yang sedikit-sedikit enggak tegaan sama anak. Misal nih, ibu mau masak jadi anak kudu ditinggal sendirian di kamar.
Waktu baru sampai dapur si bayik nangis manggil-manggil ibunya. Lah, si ibu yang enggak tega akhirnya balik ke kamar bayi dan gagal masak. Hmm, enggak bisa kayak gini terus lho, Bun.

Kalau sedikit-sedikit anak nangis karena ditinggal ibu, ya biarin aja. Emang kudu tega dan siap melihat anak merasa tidak nyaman, emang mau sampai kapan anak lengekt terus sama ibunya?

Cepat atau lambat semua ibu harus tahu kapan waktunya melepas anak biar mandiri, biar enggak lengket terus.

Anak saya, Kania,mulai bersekolah di Paud. Ini ujian pertama yang cukup serius, yaitu meninggalkan anak di sekolah. Seperti kebanyakan anak kecil, Kania menangis saat saya tinggalkan di sekolah.

Saat pertama kali masuk kelas, mata Kania tampak pelirik kanan kiri, khawatir dan resah dengan keberadaan orang lain. Sementara itu saya tinggalkan dia dan melihatnya dari luar kelas.

Apa Kania sanggup melewati hari pertamanya? Saya bertanya dala hati. Dan ya, tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan jawabannya.

Seperempta jam usai saya tinggalkan di kelas, Kania mulai panik dan memanggil ibunya. Maunya saya biarkan saja, namanya juga latihan mandirir. Tetapi semenit kemudian Kania menangis dengan suara kencang sehingga mau tidak mau saya harus masuk dan menenangkannya.

Enggak enak kan sama guru dan walimurid lain. Bikin ribut aja. Hehe.

Untung tidak kania saja yang begitu, masih banyak anak yang enggak bisa ditinggal barang beberapa menit saja. Berat juga ya memandirikan anak, kud tega-tegaan di awal.

Memandirikan anak selalu jadi momen emosional, buat anak maupun ibunya.Kalau ayahnya sih santai-santai aja, enggak ngerti sih dia gimana perasaan meninggalkan anak sendirian di luar sana.

Yang kayak gini memang urusan perasaan ibu dan anak. Ikatan batin keduanya sangat kuat hingga mau meninggalkan satu atau dua jam saja beratnya minta ampun.

Pada akhirnya anak harus mandiri, kan?

Memang banyak ibu yang belum berani mengajarkan kemandirian pada anak bahkan sampai usia 2 sampai 3 tahun. Padahal di usia tersebut anak sudah bisa lho diajari mandiri. Jadi sebenarnya, ini persoalan si ibu yang belum berani melepaskannya.

Saya tahu ini sangat berat, penuh pertimbangan dan kekhawatiran. Takut kalau anak ditinggal kenapa-kenapa. Padahal ya enggak sih, harus berani, itu aja.

Memang, di awal anak akan merengek atau menangis ingin ditemani ibunya. Mana ada ibu yang tahan ngeliat anak nangis, bawaannya pengin langsung mememluk buat menenangkannya.

Makanya, penting banget tekad dan motivasi di hati ibu, Meski anak menangis, ya biarin aja dulu. Latih secara bertahap dan konsisten. Sejak usia 2 tahun, mulai tinggal sebentar-sebentar.

Awalnya tinggal sepuluh menit ke dapur, kita lihat nih apakah anak menangis atau tidak. Sepuluh menit dah bisa tambahin sampai setengah jam dan seterusnya dan seterusnya. Begitu terus sampai anak bisa ditinggalkan.

Selain itu, kalau ditinggal, bekali dengan mainan yang dia suka. Jadi dia tetep ngerasa nyaman meski ibunya lagi sibuk masak atau beres-beres rumah. Gitu deh.

Alhamdulillah, Kania udah bisa saya tinggal di rumah. Dia di kamar atau di ruang tamu, saya sibuk ngerjain tugas rumah. Lain halnya di luar rumah, di sekolah misal.

Hmmm, masih proses panjang dan butuh beberapa minggu lagi sepertinya sampai dia bisa diitinggal di sekolah. Rencanannya sih kalau sudah masuk TK sudah mandiri dan siap ditinggal sama ibunya.

Kalau anak mandiri, orangtua juga senang. Dia juga bisa belajar berinteraksi sama teman dan orang lain selain ayah dan ibunya di rumah. Biar pas gede gaul dan bisa bersosialisasi. Hihi.

Buat Bunda yang sedang dalam proses mengajarkan kemandirian buat si kecil, semangat. Harapannya anak enggak lengket terus, maunya ditemeni sepanjang waktu. Jangan, jangan.

Kudu konsisten, mungkin agak tegaan. Hehe. Sebab di masa depan nanti, dia akan hidup mandiri dan menentukan arah hidupnya sendiri.

Mengajarinya mandiri sejak kecil adalah investasi buat masa depan anak. Tetap semangat ya, Bunda.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here