Mitos Wanita Hamil

Published by Listi Fatimah on

Tuturmama Mitos Wanita Hamil

Dua tahun sudah aku mengarungi biduk rumah tangga bersama suamiku. Meski tak pernah terucap keinginan untuk segera memiliki momongan dari bibirnya, tetapi aku tahu di lubuk hatinya ia menginginkan seorang anak.

Banyak yang bilang, seorang wanita baru disebut sempurna setelah menjadi istri dan mampu melahirkan keturunan. Pernah suatu ketika kami pergi ke hajatan di kampung sebelah. Dengan rasa gemas Mas Yanto, suamiku, menggendong anak temannya yang baru berusia dua tahun. Tampak dari sorot matanya, kalau dia mendamba seorang penerus.

“Kalau kita punya anak, pasti akan lucu seperti anak si Tono ya, Dek?” tuturnya padaku, yang semakin membuatku yakin atas pemikiranku.

“Makanya, kalian segera bikin anak. Jangan menunda-nunda.” Teman suamiku turut menyahut.

Bukannya kami tak ingin segera memiliki momongan, segala upaya telah kami usahakan. Mulai dari berobat medis hingga ke orang pintar, tetapi mungkin belum waktunya kami dipercaya untuk memiliki anak. Kadang, aku merasa kasihan melihat Mas Yanto.

Setelah berusaha dan berdoa tiada henti, di tahun ketiga pernikahan, saat kami sudah mulai putus asa, akhirnya Tuhan mengabulkan doa kami. Aku yang setiap pagi merasa mual serta pusing, dinyatakan hamil setelah periksa di klinik desa. Bahagia melingkupi perasaan kami berdua.

Usaha dan penantian kami akhirnya membuahkan hasil. Di masa kehamilanku, Mas Yanto begitu perhatian dan memanjakanku. Hampir sebagian besar pekerjaan rumah ia yang urus. Hal tersebut membuatku semakin bahagia dan merasa bersyukur memiliki suami sepertinya.

“Mas, aku ke pasar dulu ya,” pamitku pagi itu.

Entah mengapa, sejak kehamilanku memasuki usia enam bulan, aku sangat senang pergi ke pasar. Melihat deretan penjual menjejerkan dagangannya membuatku bahagia. Untungnya pasar tidak jauh dari rumahku, berjalan kaki sekitar sepuluh menit sudah sampai.

Baca Juga: Rumah yang Tak Lagi Ramah

Puas berkeliling melihat-lihat jejeran pedagang di pasar, aku memutuskan segera kembali ke rumah. Dengan membawa tas anyam berisi barang belanjaan, aku berjalan lewat rute yang berbeda dari rute sewaktu berangkat. Sengaja ingin melihat pemandangan sawah dengan tanaman padi yang sebagian mulai menguning.

Hari masih pagi, sehingga masih banyak orang di sawah. “Dari mana, Yuk?” tanya Mbak Tinah salah satu tetanggaku yang sedang menyiangi rumput di sawahnya.

“Pulang dari pasar, Mbak. Sengaja lewat sini, pengen lihat pemandangan di sawah,” jawabku menjelaskan.

“Sudah berapa bulan kandunganmu, Yuk? Perutmu terlihat besar.”

“Sudah jalan enam bulan, Mbak.”

“Eh, Yuk, Mbak kasih tahu ya. Wanita hamil, apalagi hamil besar, jangan sering-sering ke pasar. Kalau bisa malah sementara jangan ke pasar, bahaya. Takutnya nanti kenapa-kenapa sama janinmu.” Ucapan Mbak Tinah membuatku  agak was-was.

“Iya, Mbak, terima kasih.” Aku mengiyakan, meski tidak sepenuhnya percaya ucapan Mbak Tinah tentang wanita hamil. Itu hanya mitos, pikirku.

Sebulan berlalu, malam ini ada acara tujuh bulan kehamilanku. Semoga dengan adanya syukuran ini, bayiku bisa sehat dan lahir dengan selamat. Keesokan harinya bersama Mas Yanto aku mendatangi bidan desa untuk memeriksa kandungan.

“Semuanya normal, Bu. Jangan lupa minum vitaminnya ya. Kalau ada keluhan bisa datang lagi ke sini,” tutur Bu Bidan usai melakukan pemeriksaan terhadapku.

“Terima kasih, Bu. Permisi.”

Karena hari masih pagi, aku mengajak Mas Yanto mampir ke pasar. Sudah dua minggu aku tidak ke pasar. Saat hendak melangkah memasuki pasar, sejenak aku teringat perkataan Mbak Tinah tempo hari. “Ah, itu hanya mitos,” gumamku.

Sekarang hari minggu, pasar lebih ramai. Saat berdesakan tak sengaja ada seorang wanita seusiaku yang mendesak perutku.

“Maaf, Mbak. Enggak sengaja,” ujarnya seraya tersenyum. Wanita yang terlihat seusiaku itu pun berlalu sebelum aku sempat menjawab perkataannya.

Baca Juga: Tidak Perawan Sebelum Menikah yang Berakhir Duka

Malam hari menjelang tidur entah mengapa perasaanku tidak enak. Tiba-tiba aku kembali terngiang ucapan Mbak Tinah tentang mitos wanita hamil. “Apa mungkin karena aku terlalu memikirkannya, sehingga memengaruhi perasaanku?” Batinku bertanya.

Kuputuskan untuk memejamkan mata. Namun, tiba-tiba aku merasakan sakit pada perutku. Bulir keringat mengalir dari dahi. Rasa melilit seakan diremas dari dalam perut mulai kurasakan. “Ya, Tuhan. Apakah aku akan melahirkan?”

“Mas, Mas Yanto!” Kupanggil suamiku dengan suara tertahan, menahan sakit.

“ Kamu kenapa, Dek?” Mas Yanto tampak panik dan berlari ke arahku.

“Sepertinya, aku mau melahirkan. Cepat, panggil Bu Bidan!” teriakku dengan nafas ngos-ngosan.

Tak berselang lama, Mas Yanto kembali bersama Bu Bidan.

“Tarik nafas, Bu. Lalu mengejan dengan kuat. Ikuti aba-aba saya.” Bu Bidan memberikan instruksi.

“Euugh!” Dengan sekuat tenaga aku mengejan sampai akhirnya lahirlah putraku. Bersamaan dengan itu, Mas Yanto memanggilku.

“Dek, bangun. Dek, bangun.”

Ah, rupanya aku hanya mimpi melahirkan. Kejadian tadi benar-benar seperti nyata, napasku masih memburu dengan keringat membasahi sekujur badan. Rasa sakit itu nyata aku rasakan.

Tunggu!

Kusibak selimut yang menutupi tubuhku. Darah.

“Darah apa ini, Mas?!” Lalu kuraba perutku.

“Bayiku mana, Mas?!”

Mas Yanto dan aku kebingungan, pasalnya perutku pun mengecil. Aku seperti habis melahirkan, tetapi tak ada bayiku. Aku yang dilanda rasa kalut dan kelelahan, jatuh pingsan. Tak ingat lagi apa yang terjadi selanjutnya.

Baca Juga: Ladu Ketan Hitam, Lengket Meski Dijeda Pertengkaran

Besoknya saat aku tersadar, kerabat dan tetangga telah berkumpul di rumahku. Mereka menunjukkan simpati atas kejadian yang menimpaku. Mereka pun sama sepertiku, kebingungan. Aku sudah tak lagi menyandang predikat wanita hamil.

“Bagaimana mungkin, bayi dalam perut bisa hilang hanya dalam semalam?” Pertanyaan serupa yang ada di pikiranku terlontar dari mulut mereka. Aku hanya bisa meratapi nasib, kehilangan bayi dengan cara tak wajar.

Setelah hal yang menimpa janin dalam kandunganku, kini semakin banyak yang percaya mitos itu. Bahwa wanita hamil pamali pergi ke pasar, takut nanti ada orang jahat yang mengambil bayi dalam perut dengan cara yang tidak wajar. Kami warga desa, termasuk saya percaya akan mitos tersebut.

Meski pascakejadian, Bu Bidan sempat memberi penjelasan. Bahwa, yang terjadi padaku adalah kehamilan kosong. Di mana tidak ada janin di dalam perut, hanya ada kantong janin saja. Namun, kami tetap meyakini apa yang dianggap Bu Bidan sebagai mitos belaka.

“Ibu-ibu, inilah salah satu alasan kenapa saya senantiasa menganjurkan wanita hamil untuk melakukan USG minimal tiga kali selama masa kehamilan,” kata Bu Bidan.

Empat tahun berlalu semenjak kejadian itu, kini aku tengah hamil kembali setelah melahirkan bayi kembar delapan bulan yang lalu. Sejak kejadian itu, aku selalu berhati-hati pada setiap mitos wanita hamil.

Sumber Gambar: americanpregnancy.com


0 Comments

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

dhankasri hindisextube.net hot bhabi naked rebecca linares videos apacams.com www tamilsexvidoes lamalink sexindiantube.net chudi vidio sex mns indianpornsluts.com hd xnxxx shaving pussy indianbesttubeclips.com english blue sex video
savita bhabhi xvideos indianxtubes.com xxx bombay live adult tv desitubeporn.com mobikama telugu chines sex video indianpornsource.com video sex blue film sex chatroom indianpornmms.net old man xnxx aishwarya rai xxx videos bananocams.com sex hd
you tube xxx desixxxv.net xossip english stories sanchita shetty pakistaniporns.com mom sex video cfnm video greatxxxtube.com sex marathi videos mmm xxx indianpornv.com sexxxsex xvideosindia indianhardcoreporn.com ajmer sex video