Orang Tua Otoriter Buat Anak Jadi Pendendam

0
1404

Saya pernah jadi seorang ayah yang otoriter. Seorang lelaki yang mendidik anak pertamanya dengan bentakan dan ancaman. Hampir setiap hari, kalau tidak salah, Bony, anak laki-laki saya kena marah sebab suatu hal. Kadang hanya karena persoalan sepele, sesekali hanya jadi pelampiasan emosi saya saat lelah. Tentu saja, saya tak merasa bersalah sama sekali waktu itu.

Saya menginginkan Bony patuh sepenuhnya pada orang tua. Saya tak ingin ia jadi anak nakal atau gagal di masa depan. Itu sebabnya saya membentuk dia dengan disiplin ketat. Berharap ia tidak akan neko-neko. Kalau dipikir saat ini, saya memperlakukan Bony tak ubahnya tanah liat yang saya bentuk sesuai keinginan pribadi dengan mengabaikan hasrat Bony sendiri.

Seakan-akan Bony tak memiliki keinginan sendiri padahal dia punya. Seakan Bony tak memiliki cita-cita sendiri.

Saya menginginkan Bony jadi penerus pekerjaan saya di bidang hukum. Saya kira hal itu amat baik. Pekerjaan saya cukup baik setelah melewati perjuangan berpuluh tahun. Sudah terlalu banyak hal yang saya korbankan untuk sampai di sini. Kebanggaan seperti ini perlu diteruskan pada generasi selanjutnya, dan paling tepat adalah anak sendiri.

Sebab itulah Bony saya perlakukan tak ubahnya prajurit yang ditempa dengan kedisiplinan dan kepatuhan. Tidak ada alasan baginya untuk membantah. Sedikit saja Bony berleha-leha, saya berikan tatapan sinis padanya.

Gambar terkait

Foto-foto : Ilustrasi


Sikap otoriter ini berlangsung beberapa tahun sampai ia masuk SMA. Di sekolah menengah itu Bony tak lagi mampu meraih prestasi. Nilainya benar-benar anjlok dan dia bersikap tak peduli. Bukan sebab kalah saing dengan murid lain yang lebih cerdas darinya. Bukan pula sebab materi pelajaran yang sulit. Saya yakin kapasitas kecerdasan Bony sudah cukup untuk meraih banyak prestasi di SMA.

Sebab sembilan tahun di SD maupun SMP, Bony anak pintar. Saya yakin akan hal itu. saya juga yakin kalau anjloknya prestasi Bony disebabkan faktor lain. pertama kali mengerti nilainya yang anjlok, saya marah besar padanya.

Tetapi sesuatu mengejutkan saya. Ekspresi mukanya datar tak memperlihatkan ketakutan seperti biasanya. Bony diam dengan tatapan tak peduli pada ucapan saya. Selesai marah, ia bangkit dan meninggalkan saya tanpa mengucapkan sepatah kata. Bony menjadi anak yang cuek, tidak peduli pada orangtuanya.

Saya belum berhenti mendidiknya dengan gaya disiplin dan tegas, tetapi Bony di masa SMA berubah sikap. Semakin tak peduli dengan apapun yang saya ucapkan. Nampak lebih betah berada di luar rumah dan pulang tiap sore.

Bony terlihat berusaha mengurangi jam bersama orang tuanya. Kalaupun di rumah ia lebih memilih mengurung diri dalam kamar. Benar-benar di luar kendali saya lagi. Apakah optimisme saya pada Bony untuk jadi penerus karir di jalur hukum masih berlaku? Saya sendiri mulai pesimis dengan melihat perubahan perilaku Bony.

Anda pasti mengerti sebabnya. Perlakuan otoriter yang saya terapkan selama bertahun-tahun pada Bony membuat dirinya jadi sosok yang tak peduli. Setiap kali saya marahi, Bony mengumpulkan amarah sedikit demi sedikit.

Perasaan marah yang terus disimpan dalam hati dan akhirnya meledak dalam ketidakacuhan. Bony sudah bertambah besar dan mengerti kalau dirinya punya hasrat sendiri yang diabaikan orang tuanya.

Ia benar-benar jadi tidak dekat dengan saya. Mungkin sejak dulu, hanya saja masih tak ada jarak. Sebab saya dapat melihat muka murungnya saat dimarahi, atau kepatuhannya yang membuat saya senang. Saya pikir itu adalah relasi ideal antara anak dengan orang tua.

Sembilan tahun dalam ketaatan membuat saya melupakan fase pubertas remaja Bony. Bony tengah melewati fase peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa dan saya abai. Memperlakukannya dengan cara yang tak berubah sejak ia SD, padahal pikiran Bony terus mengembara dan matang.

Lalu, hubungan antara saya dengan Bony tidak nyambung. Tidak terjembatani. Ia terlihat mendengarkan ucapan saya namun sebenarnya tidak peduli. Sepertinya, Bony akan bertumbuh besar jadi seseorang dengan hati yang keras.

Saya terkejut dengan sikap Bony di luar rumah. Suatu kali saya melihatnya di samping jalan dari dalam mobil. Ia tengah tertawa bersama teman-temannya. Terlihat betul bahwa tawa Bony adalah tawa kebahagiaan.

Tak terlihat raut beban di mukanya. Tampaknya ia senang dan bergembira berada di luar sana ketimbang di dalam rumah. Sebab ekspresi yang ia tampilkan berbanding terbalik. Di depan ayahnya ia terlihat murung sementara di depan temannya terlihat gembira dan begitu lepas.

Hasil gambar untuk tertawa bersama teman

Foto : Ilustrasi


Saya kira ini suatu hal yang buruk. Mengapa saya tak bisa menjembatani hubungan di antara kami berdua. Padahal saya juga pernah muda. Tetapi tak bisa menjangkau hasrat muda Bony.

Apa semuanya sudah terlambat? Maksud saya, sikap Bonny akan terus demikian. Sebab gumpalan amarah yang menumpuk selama bertahun-tahun sudah tak bisa disembuhkan.

Ya, sikap otoriter saya yang membuat suasana dalam rumah jadi tidak nyaman. mungkin Bony berpikir kalau rumah tak ubahnya penjara yang membatasi geraknya. Ia jadi pendiam dan sedikit bergerak. Sebab saya sering marah ketika ia membuat sedikit kegaduhan atau mengubah sesuatu di dalam rumah.

Dulu, saya anggap kalau kemarahan dapat menjaga Bony berada di jalur ketaatan. Semakin dia patuh semakin baik ia. Tak akan sulit mencapai cita-cita saya. Ya, cita-cita ayahnya, bukan cita-citanya sendiri. Sebab seorang anak tak mengerti apa yang terbaik baginya. Begitu pikir saya dulu.

Sebuah pikiran yang keliru sebab mengabaikan keinginan anak itu sendiri. Di depan saya ia memang tampak menurut. Tetapi sebenarnya hal itu dilakukan untuk menghindari interaksi yang dalam dengan orang tuanya. Ia jadi pasif di rumah. Seperti menghilangkan diri agar saya tak terusik. Mungkin, ia lebih senang dianggap tidak ada.

Ya, saya sebagai ayahnya memang tak pernah mendengar pendapatnya. Hanya memberi perintah, perintah dan perintah. Tak pernah saya mau mendengarkan keinginan serta kondisi sesungguhnya. Bony hanya menjawab iya untuk membuat percakapan cepat selesai.

Padahal ia juga punya keinginan sebagaimana ayahnya. Tetapi keinginan itu terpaksa disimpan sendiri sebab saya tak pernah memberinya kesempatan. Saya gagal menjadi orang tua yang dapat memahami bahasa anak. Bahasa kami terpisah jauh dan tidak terjembatani.

Kalaulah ada dampak buruk pada anak, saya rasa hal itu terjadi akibat pola asuh otoriter yang pernah saya terapkan. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya pada Boni, saya hanya ingin yang terbaik. Itu saja.

Apa kemudian saya harus membiarkan putra pertama itu bersikap cuek terus menerus? Sebab bersikap keras padanya tidak akan membantu. Sampai saat ini Boni lebih suka berada di luar rumah dan berkumpul bersama teman-temannya. Saya merasa bersalah.

Kalaupun kelak ia tidak mau meneruskan bidang studi hukum seperti yang saya inginkan, saya ikhlas. Boni memiliki keinginannya sendiri yang pantas diperjuangkan. Saya belum tahu apa itu, tetapi jelas berbeda dengan ayahnya.

Tak apa. Saya hanya ingin memperbaiki pola asuh padanya saat ini. Mungkin bisa mengembalikannya merasa nyaman di dalam rumah. Kalaupun rasa sakit hati dalam diri Boni tak tersembuhkan, maka jelas, itu salah ayahnya yang pernah berlaku semena-mena.

Bersikap otoriter bukanlah cara mengasuh anak yang baik. Setiap anak memiliki keinginannya masing-masing, memaksakan keinginan orang tua pada mereka adalah sebuah kesalahan yang patut dihindari.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here