Orang Tua yang Berpotensi Melakukan Kekerasan pada Anak

Published by Chita Khumaidah on

Tuturmama – Seseorang dengan pengetahuan yang kurang mengenai kebutuhan, perkembangan, dan pengasuhan, memiliki resiko besar untuk melakukan kekerasan pada anak atau keluarga. Latar belakang yang berbeda serta luka pengasuhan di masa lalu bisa menjadi salah satu penyebabnya.

Memarahi anak ketika tidak berhasil dengan apa yang mereka lakukan merupakan salah satu contoh dari masalah tersebut. Orang tua terkadang menerapkan teknik time-out tanpa mengetahui prinsip dan resiko yang berada di belakang teknik tersebut.

Teknik time-out yang berkepanjangan dan tidak beriringan dengan penjelasan kepada anak beresiko menjadi pengabaian. Sementara pengabaian terhadap anak juga akan memunculkan dampak kekerasan pada anak.

Orang tua yang memiliki sejarah kekerasan pun memiliki resiko lebih besar untuk kembali melakukan kekerasan pada anak-anak mereka. Terutama bagi yang tidak mendapatkan pertolongan untuk menyelesaikan trauma yang telah mereka terima.

Sumber Gambar: Jangan Menyentuh Anak Saya Sembarangan!

Seseorang yang mengalami kekerasan dalam pengasuhan seringkali meniru pengasuhan tersebut meskipun tahu bahwa hal itu tidak benar. Secara tidak sadar ia akan melakukan apa yang orangtuanya lakukan dahulu kepada anak-anaknya.

Selain itu, orang tua yang menggunakan obat-obatan terlarang atau minuman keras, juga memiliki peluang lebih besar untuk melakukan kekerasan fisik dalam keluarga. Tidak adanya kontrol perilaku ketika sedang mabuk seringkali berakhir dengan kekerasan dalam rumah tangga.

Selain itu, kondisi keluarga berikut juga meningkatkan resiko kekerasan dalam rumah tangga. Di antaranya adalah menikah pada usia muda, pendidikan rendah, orang tua tunggal, jumlah anak yang besar, serta pendapatan keluarga yang rendah.

Beberapa kondisi tersebut dapat meningkatkan stres di dalam keluarga dan meningkatkan peluang konflik antar anggota keluarga.

Orang Tua Muda

Orang tua yang memiliki usia terlalu muda atau remaja masih dalam proses individu mencari identitas. Yakni dengan kadar emosi yang belum matang. Sehingga kelahiran anak pada usia remaja akan menghambat remaja tersebut mencari identitasnya dan berujung pada frustasi berlebihan pada usia mereka.

Sebagian besar remaja belum memiliki resolusi konflik yang baik. Sehingga rasa frustasi yang mereka alami akan orang tua lampirkan kepada anak mereka yang sebenarnya tidak bersalah.

Pendidikan Rendah

Orang tua dengan berpendidikan rendah juga memiliki kemungkinan besar berpendapatan yang rendah pula. Frustasi yang terjadi karena masalah finansial pun dapat meningkatkan peluang terjadinya kekerasan pada anak.

Orang Tua Sibuk

Orang tua yang bekerja keras dalam memenuhi kebutuhan keluarga juga dapat mengabaikan kebutuhan emosional anak. Sebab dalam kondisi tersebut, orang tua terlalu memusatkan perhatian mereka pada kebutuhan finansial daripada kebutuhan emosional anak mereka.

Jumlah Anak yang Banyak

Selain itu orang tua dengan jumlah anak yang besar juga meningkatkan peluang terjadinya kekerasan dan pengabaian. Orang tua akan sangat sulit membagi perhatian kepada seluruh anak-anaknya. Sehingga akan menyebabkan kecemburuan pada beberapa anak yang merasa kurang mendapat perhatian.

Perhatian kepada setiap anak akan berkurang apabila salah satu di antara mereka ada yang rentan sakit atau memiliki kebutuhan khusus. Pengabaian pada anak lain juga terjadi karena perhatian terpusat pada anak yang memiliki kebutuhan khusus tersebut.

Kehadiran pengasuh yang bukan merupakan bagian dari anggota keluarga tanpa pengawasan juga meningkatkan resiko terjadinya kekerasan terhadap anak. Pengasuh yang bukan anggota keluarga memiliki toleransi yang lebih rendah terhadap perilaku anak-anak.

Sumber Gambar: Belajar Mendidik Anak dengan Rumus 7×3

Sehingga mungkin saja mereka melakukan hukuman fisik dan ancaman pada anak. Rendahnya pengawasan dan kontrol dari orang tua terhadap perilaku pengasuh anak membuka peluang terjadinya kekerasan. Nah, pengawasan orang tua secara langsung atau kakek dan nenek yang teratur dapat mengurangi resiko terjadinya kekerasan pada anak.

Budaya yang Keras

Selanjutnya adalah orang tua yang berasal dari budaya yang memiliki pendidikan keras. Yakni yang mendukung tindak kekerasan sebagai hukuman atau cara untuk meningkatkan kemampuan anak. Tipe orang tua ini memiliki pengaruh yang paling tinggi dalam meningkatkan resiko terjadinya kekerasan pada anak.

Orang tua yang memiliki pembenaran terhadap kekerasan yang ia lakukanlah yang sangat berbahaya. Hal ini karena mereka pasti akan melakukan kekerasan dengan alasan mendisiplinkan dan mendidik anak-anak mereka.

Keluarga yang Terpencil

Keluarga yang tinggal di daerah terpencil tanpa akses komunikasi dengan pihak luar juga meningkatkan peluang terjadinya kekerasan. Kurangnya pengawasan sosial dan tidak adanya kontrol dari masyarakat terhadap keluarga tersebut dapat meningkatkan peluang terjadinya kekerasan.

Hal ini juga dapat terjadi dalam keluarga yang terisolasi secara sosial tanpa hidup terpencil. Mereka yang tinggal di lingkungan tanpa berhubungan sama sekali dengan tetangga-tetangganya juga memiliki peluang yang sama. Menutup akses komunikasi keluarga dengan lingkungan sama dengan menutup akses anak untuk meminta tolong apabila terjadi kekerasan di dalam keluarga.

Dampak Kekerasan pada Anak

Kekerasan yang anak terima tentunya memiliki dampak pada perkembangan mereka kelak. Dampak tersebut akan menetap dan berubah menjadi masalah apabila tidak segera mendapat penanganan dari pihak yang profesional.

Sumber Gambar: Banyak Janda Usia Dini, Akibat Pergaulan Bebas?

Beberapa dampak yang mungkin anak alami sebagai penerima tindak kekerasan dalam hal ini adalah perkembangan fisik. Yaitu memar atau luka pada tubuh, keterlambatan perkembangan motorik, serta masalah dalam pertumbuhan fisik.

Untuk perkembangan kognitif dapat berakibat pada menurunnya prestasi, sulit konsentrasi, dan kerusakan otak yang mengakibatkan rendahnya IQ anak. Kemudian dalam segi perkembangan sosial emosional, kekerasan dapat mempengaruhi mental anak menjadi takut yang berlebihan.

Bahkan anak juga bisa mengisolasi diri sendiri dan kehilangan kemampuan untuk percaya kepada orang lain. Lebih parahnya anak bisa menjadi depresi, kesulitan untuk berbaur dengan lingkungan sosial, hilangnya rasa percaya diri, kenakalan remaja, terjerumus dalam pergaulan yang tidak sehat, atau bahkan meniru tindak kekerasan yang telah mereka terima.

Lalu untuk dampak terparahnya jika anak sampai tidak kuat menanggung semua beban, maka anak tersebut akan berpikir pendek untuk mengakhiri hidupnya.

Sumber Gambar: freepik.com


0 Comments

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

dhankasri hindisextube.net hot bhabi naked rebecca linares videos apacams.com www tamilsexvidoes lamalink sexindiantube.net chudi vidio sex mns indianpornsluts.com hd xnxxx shaving pussy indianbesttubeclips.com english blue sex video
savita bhabhi xvideos indianxtubes.com xxx bombay live adult tv desitubeporn.com mobikama telugu chines sex video indianpornsource.com video sex blue film sex chatroom indianpornmms.net old man xnxx aishwarya rai xxx videos bananocams.com sex hd
you tube xxx desixxxv.net xossip english stories sanchita shetty pakistaniporns.com mom sex video cfnm video greatxxxtube.com sex marathi videos mmm xxx indianpornv.com sexxxsex xvideosindia indianhardcoreporn.com ajmer sex video