Pena Anyelir

Published by Sundari Nur Apriliani on

Tuturmama – Pena Anyelir

Pagi ini, langit terlihat murung. Hitam pekat tanpa seri. Seperti wajah Anyelir. Dia duduk sendiri di taman bermain, memandangi buku yang penuh oleh lumpur. Tidak ada air mata yang menggenang. Dia hanya memandang buku itu dengan tatapan kosong.

Seragam putih merah yang dikenakan Anyelir sama kotornya dengan buku itu. Tidak lama dia bangkit dari duduknya dan berjalan pulang. Ada ragu yang menghampiri Anyelir kala ia melangkah memasuki pekarangan rumahnya sendiri.

Dia melangkahkan kaki, tapi sedetik kemudian menarik langkahnya dan terdiam. Sampai ada yang menepuk pundaknya, dia melonjak karena terkejut.

“Bajumu kenapa? Ya ampun, kamu jatuh di mana?” ucap seseorang yang menepuk pundak Anyelir. Dia Reza, kakak Anyelir yang berusia 12 tahun. Melihat itu adalah kakaknya, linang yang sedari tadi dia tahan mencuat begitu saja.

“Tadi… Anye didorong oleh Didit dan Akmal di lapangan,” dengan sesenggukan dia menjelaskan apa yang terjadi.

“Terus, Didit ambil buku Anye dan melemparnya. Lihat,” sambil menunjukkan buku yang tadi berlumuran lumpur.

“Buku Anye kotor, catatan Anye tidak bisa terbaca. Bagaimana, Bang? Bunda pasti marah.” Ucapnya sambil berlinang air mata.

Reza yang mendengar hal itu segera menarik Anye ke belakang rumah. Ternyata ada tempat rahasia di balik semak-semak dekat gudang, tempat persembunyian Reza kalau Bunda memarahinya. Setelah mengajak Anye ke tempat rahasia itu, Reza keluar lagi dan kembali dengan seember air dan sepasang baju.

“Cepat ganti bajumu, baju kotornya biar Abang yang cuci.”

Mendengar hal itu Anyelir segera mengganti pakaiannya. Mereka pun bergegas masuk ke dalam rumah. Bunda ternyata sedang mandi. Dengan jantung yang berdetak cepat mereka seakan seperti pencuri yang masuk ke rumah sendiri. Mereka berlari kecil menuju kamar.

Baca Juga: Aku Sukses karena Menjadi Korban Bully Kakakku Sendiri

Fiuh! Untung saja Bunda sedang mandi.” Ucap Reza. Anyelir masih terlihat murung.

“Nanti sore kita ke rumah Lili, ya. Pinjam catatannya. Kamu catat ulang saja nanti lihat dari Lili. Sekarang kerjakan PR yang lain dulu.”

Anyelir hanya mengangguk dan berlalu ke kamarnya. Di dalam kamarnya Anye masih murung dan sesekali meneteskan air matanya. Kemudian dia mengambil sebuah catatan di dalam laci meja belajarnya dan sebuah pena yang lucu dengan bentuk bunga anyelir di ujungnya, karena itu Anye menyebutnya ‘Pena Anyelir’.

Untuk Ayah,

Ayah, hari ini Anye sedih. Didit dan Akmal mengejek Anye lagi. Kapan Ayah akan pulang? Buku catatan kesayangan Anye juga kotor kena lumpur. Anye takut tadi pas pulang dimarahi Bunda. Untung saja Bang Reza membantu Anye. Ayah… Anye kangen Ayah.

“Anak-anak, kalian sudah pulang? Ke bawah kita makan!”

Teriak Bunda dari bawah. Langkah kaki kecil itu dengan tergesa menghampiri Bundanya dan duduk dengan tenang. Namun, ketenangan itu mengundang kecurigaan. Pasalnya anak-anaknya tidak pernah diam kalau sudah menyangkut makanan. Setelah selesai makan, Anyelir baru saja hendak beranjak, tapi Bunda selalu tahu apa yang terjadi.

“Jadi, adakah yang ingin kalian katakan pada Bunda?” Tanyanya membuat mereka kembali duduk dan gelisah. Meskipun Bunda tidak marah, tatapannya mampu membuat siapa saja membeku. Melihat anak-anaknya hanya diam, dia pun mulai beranjak.

“Tidak ada? Kalau begitu bisa jelaskan kenapa baju Anye ada di jemuran padahal belum Bunda cuci?”

“Tadi, Anye jatuh kena lumpur. Abang yang cucikan baju Anye. Takut Bunda marah.” Jawab Anye dengan menunduk karena takut. Melihat hal itu, Bunda menghampiri Anye kemudian memegang kedua pundaknya dan memeluknya.

“Apa Bunda semenakutkan itu sampai kamu tidak ingin menatap Bunda? Tidak apa-apa, Nak. Ada yang terluka?” mendapati itu Anye kembali menangis sesenggukan dan menggeleng menjawab setiap pertanyaan Bundanya. Reza yang melihat itu ikut bergabung ke dalam pelukan tersebut.

Baca Juga: Puisi Relativitas Hidup

“Ke depannya kalau ada apa-apa bilang sama Bunda, ya. Untuk Abang juga terima kasih sudah mencucikan baju Anye. Tapi lain kali jangan sembunyi-sembunyi seperti itu ya.” Ujar Bunda pada anak-anaknya.

“Iya, Bunda. Kami minta maaf.” Ujar mereka serempak.

“Bunda, kapan Ayah akan pulang? Apa Ayah tidak merindukan kita?” tanya Anye yang membuat Bunda dan Reza saling bertatapan.

“Sayang, kau tahu, Ayah sudah berada di Surga. Sudah ada di sisi Allah. Ia tidak akan pulang sayang, tapi kita akan berkumpul lagi nanti.”

Sore hari Reza dan Anyelir pamit ke rumah Lili untuk meminjam catatan. Lili adalah sahabat Anye sejak kecil karena Ibu mereka berteman. Di perjalanan pulang, mereka mampir dulu ke taman bermain.

Reza pamit untuk membeli es krim di toko sebelah. Selagi menunggu, Anye bermain dengan kucing di sana dan bertemu dengan Didit serta Akmal. Didit dan Akmal adalah anak nakal yang selalu mengganggunya. Melihat mereka mengganggu adiknya,  Reza berlari sekencang-kencangnya dan memarahi mereka untuk tidak mengganggu Anye lagi.

“Hei, kalian! Ganggu Anye lagi, Abang laporin sama ibu kalian ya!”

Melihat kehadiran Reza, mereka pun lari terbirit-birit. Anye adalah anak yang pendiam, tertutup, dia tidak bisa menunjukkan kelemahannya di hadapan siapapun kecuali kakaknya. Melihat adiknya masih diam dan menahan tangisnya, Reza mencoba memeluk dan mengusap kepalanya. Seketika itu pula tangisnya pecah.

“Sssttt sudah tidak apa-apa. Mereka tidak akan ganggu Anye lagi. Anye lihat kan sudah Abang marahi tadi. Kalau mereka masih ganggu Anye bilang sama Abang ya.” Dalam tangisnya Anye mengangguk. Mereka pun memakan es krim yang dibeli Reza tadi.

“Sudah, tidak apa-apa. Ada Abang di sini.”

Baca Juga: Gadis Kecil itu Aku

Di depan meja belajar, catatan tua dan pena anyelir kembali menemani Anye.

Untuk Ayah,

di Surga.

Ayah, Bunda bilang Ayah sudah ada di Surga. Ayah, sepertinya besar nanti Anye ingin seperti Ayah. Seorang penulis yang hebat. Anye juga ingin punya banyak buku seperti buku karya Ayah yang berjejer di rak buku Anye dan Bang Reza.

“Anye! Sini, Nak. Ada Didit dan Akmal.” Mendengar hal itu, aku berlari menuruni tangga dan melihat ada Ibu Darsih, Ibu Ami beserta Didit dan Akmal duduk di ruang tamu. Didit dan Akmal menundukkan pandangannya. Tidak lama aku mendengar langkah tergesa, ternyata itu Bang Reza.

“Anye… kami minta maaf sudah mengganggumu akhir-akhir ini. Kami sudah keterlaluan. Maaf, ya.” Mendengar hal itu, aku tersenyum dan mengangguk. Memaafkan mereka. Mengulurkan tangan dan menjadi teman.

Anye kembali meraih pena anyelir dan buku catatannya.

Untuk Ayah,

di Surga.

Hari ini Anye senang sekali. Didit dan Akmal datang untuk meminta maaf karena sering ganggu Anye. Bunda bilang sesama manusia harus saling memaafkan, jangan menaruh dendam, jika kita menaruh dendam itu artinya hati kita tidak baik. Allah tidak suka, betul kan Ayah? Anye memaafkan mereka Ayah. Kami pun sering bermain bersama. Ayah membaca surat-surat Anye kan. Anye selalu kangen Ayah. Suatu hari nanti kita kumpul sama-sama ya Ayah di Surga nanti. Salam sayang dari Anye.

Sumber Gambar: freepik.com


0 Comments

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

dhankasri hindisextube.net hot bhabi naked rebecca linares videos apacams.com www tamilsexvidoes lamalink sexindiantube.net chudi vidio sex mns indianpornsluts.com hd xnxxx shaving pussy indianbesttubeclips.com english blue sex video
savita bhabhi xvideos indianxtubes.com xxx bombay live adult tv desitubeporn.com mobikama telugu chines sex video indianpornsource.com video sex blue film sex chatroom indianpornmms.net old man xnxx aishwarya rai xxx videos bananocams.com sex hd
you tube xxx desixxxv.net xossip english stories sanchita shetty pakistaniporns.com mom sex video cfnm video greatxxxtube.com sex marathi videos mmm xxx indianpornv.com sexxxsex xvideosindia indianhardcoreporn.com ajmer sex video