Pendapat Ibu Tentang Ayah yang Selalu Dibanggakan

0
182

Ibuku selalu kelihatan lebih perkasa di depan mataku. Entah benar apa tidak, yang jelas aku mengalami situasi dimana seorang ayah begitu kaku, pemalas, dan maunya serba praktis. Bayangkan saja pekerjaan yang berkaitan dengan hal teknis saja ia tidak bisa, tidak usah besar-besar disuruh pasang tabung gas saja sama ibu tidak bisa dan harus minta bantu sama tetangga.

Pada mulanya seolah saya senang mempunyai ayah yang cukup bermatabat, ia seorang guru PNS yang banyak di dambakan banyak orang dimuka bumi ini. selain menjadi pendidik ia juga sedikit banyak duit walaupun kenyataanya pelit.

Bertambah usia sebenarnya saya tidak melihat ia sebagai hero, selain marah-marah sama ibu. Aku melihat ia sangat angkuh, dan congkak terhadap keluarga. Tapi kata ibu ayah tetaplah hebat dan tanggu telah menyekolahkanku.

Sejauh itu aku masih belum mempunyai alasan untuk mengatakan hal yang sama, dan ayah seperti itu bukan tempat yang nyaman di dunia untuk berpangku. Faktanya aku anak yang tidak berani menatap mata ayah.

Bahkan kata ibu aku harus bisa seperti ayah tidak seperti ibu? Ia memastikan omongannya supaya aku bisa mengerti maksudnya, ia menatapku dengan tulus hingga empat kelopak mataku saling menatap.

“ Nak, Ayahmu itu pekerja keras, ayahmu itu sayang sama kamu dan ibu.”

Aku hanya menganguk ia saja. Aku tau pula bahwa ketulusan dan renda hati itu adalah kunci menjadi ibu. Walaupun ibu kerapkali menjadi korban, diperintah sana sini oleh ayah dengan senaknya saja.

Sebagai lelaki katanya aku harus tegas dan tanggu, tapi aku berbeda, setegas apapun aku sebagai seorang lelaki ingin mempunyai hati nurani dan kasih sayang seperti ibu.

Entah berapa kali aku bertanya tentang ayah, kenapa ia menjadi orang yang tak kelihatan dewasa di depan mata anak-anaknya, dan tidak mau mengalah sama ibu di saat ada masalah? Ibu hanya geleng-geleng kepala, dan seperti biasanya ia selalu bisa membela ayah.

Aku bertanya kenapa ayah begitu istimewa buat ibu ?

Yang saya ingat dari perkataan ibu saat itu, apapun yang terjadi pada ayah ia tetap ayahku, seburuk apapun sifatnya ia tetap seorang ayah di mata orang lain. “ Jadi jangan pernah kamu katakan pada orang lain, yang malu bukan siapa-siapa tapi kamu sendiri.” Tegasnya.

Saya berpikir lebih keras dan lebih mengerti betapa lembutnya hati seorang ibu, betapa ia penuh kasih, dan iklas menjalani hidup walaupun badai menerpa ia tetap tegap berdiri.

Dari pengalaman itu saya berusaha untuk mengenal ayah lebih dekat, saya belajar untuk menjabat tangan pada ayah sebagaiman pak ustadz ajarkan, dan di dukung sepenuhnya oleh seorang ibu. Mungkin ini momen yang tepat.

Tentu pada  mulanya aku merasa sangat takut melihat wajah ayah yang sangat garang itu, aku tidak mempunyai nyali untuk berdiri tegak didepannya, jujur seluru badan sangat gemetaran.

Ceritanya aku gagal di hari pertama, akhirnya aku langsung kepangkuan ibu, berbaring malas sembari bercerita akan kejadian aneh yang menimpa diriku yang setiap waktu juga tak berani ngomong sama ayah.

Tutur ibu pada akhirnya sangat lirih dan adem didalam hal memberikan kepercayaan pada aku untuk tidak takut pada ayah. Seperti biasa Ibu kembali memberikan alasan yang masuk akal dan bisa diterima oleh aku sebagai anak kecil yang masih polos.

“ anakku sambutlah ayahmu disaat nanti ia sehabis kerja dan ambil tanganya. Ibu jamin ia akan bahagia” tegasnya.

Kata ibu lagi, sebenarnya ayahmu itu sangat menyangimu, disaat malam sebelum ia tidur ia selalu bertanya tetang kamu, baik perihal sekolah maupun kegiatan lainya.

Saya memastikan omongan ibu, sore itu pada akhirnya aku menyambut ayah dengan mengambil tangan kanannya. Tentu ia sangat kaget, tersenyum sinis dengan mata yang mungkin tidak bisa di percaya.

Berikutnya aku diam saja setelah itu di depan ayah, tanpa disuruh ayah langsung peluk aku dan menggendongnya. Ternyata benar kata ibu diam-diam ayah sebenarnya penuh perhatian dan rindu pada anaknya cuma ia tidak punyak nyali kecuali hanya melalui perantara ibu.

Terakir perihal kemalasan ayah yang pertama saya ceritakan. Semua apa yang ayah lakukan adalah hal yang wajar, setiap orang mempunyai keterampilan yang berbeda, sebab itu kenapa saling menolong itu penting.

Diluar sana tidak hanya ibu yang tau, tapi saya juga menjadi saksi jika Ayah disayang banyak orang sebab ia baik dan tidak perna mencari masalah, ia guru yang bijak dan paling disenangi murid-muridnya.

Itu sebabnya ayah sangat dicintai oleh seorang ibu.

Ibu selalu berkata dan saya tidak mungkin lupa, jika selayaknya seorang istri selalu memberikan yang terbaik pada suami, dan suami mencintai istri dan anak-anaknya. Jadi tidak semua yang ayah katakan itu salah, kadang ada benarnya juga.

Oleh sebab itu ibu selalu bangga mempunyai ayah walaupun ia tidak bisa memasang tabung gas. Sekali lagi, terimakasih ibu selalu setia pada Ami, dan ayah. Dari ibu aku bisa mengerti menjadi ayah, dan menyangi istri hari ini.

By, Ami Bandung

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here