rabiah al adawiyah

Rabiah Al Adawiyah, The Mother of the Grand Master: Ibu Para Sufi Besar

Diposting pada

Tuturmama – Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah al-Bashriyah ini merupakan nama lengkap dari Rabiah Al Adawiyah atau biasanya dipanggil Rabiah Basri, tokoh sufi perempuan. Sosok yang terkenal dengan sebutan the mother of the grand master atau Ibu para sufi besar ini terkenal dengan sikap zuhudnya.

Rabiah lahir pada 713-717 M atau 95-99 H di Kota Basrah. Ia adalah ibu dari para sufi besar setelahnya. Tak banyak yang menekuni tasawuf dari kalangan wanita. Namun Rabiah yang juga terkenal dengan Al – Qaysyah ini menjadi pakar di bidang ilmu tersebut. Jika bicara siapa sufi di kalangan wanita, maka namanya lah yang paling terkenal dan populer.

Pandangan-pandangan spiritualnya terus hidup di kalangan sufi selanjutnya. Kemasyhuran Rabiah disebabkan banyak pemikirannya yang mempengaruhi para sufi dan cendekiawan muslim ternama. Seperti Rabah bin Amr Al Qaysi, Abu Thalib Al Makki, As Suhrawandi, Al Ghazali hingga Jalaluddin Rumi. Bahkan Malik bin Dinar, Sufyan As Sauri dan Syaqiq Al Balkhi pernah berguru langsung kepada Rabiah Al Adawiyah.

Konsep Mahabbatullah Rabiah Al Adawiyah

Semasa hidupnya, Rabiah memiliki banyak pemikiran sufi. Bahkan praktik ibadah spiritualnya masih banyak di kaji hingga saat ini. Salah satu pemikiran Rabiah Al Adawiyah yang terkenal adalah mengenal konsep cinta kepada Allah atau mahabbatullah.

Untuk memperjelas pengertian al-hubb yang diajukan Rabi’ah, yaitu hubb al-hawa dan hubb anta ahl lahu, saya kutip tafsiran beberapa tokoh berikut. Abu Thalib Al-Makiy dalam Qut Al-Qulub -sebagaimana dijelaskan Badawi- memberikan penafsiran bahwa makna hubb al-hawa adalah rasa cinta yang timbul dari nikmat-nikmat dan kebaikan yang diberikan Allah SWT.

Adapun yang dimaksud nikmat-nikmat adalah nikmat materiil, tidak spiritual karenanya hubb di sini bersifat hubb indriawi. Walaupun demikian, hubb al-hawa yang diajukan Rabi’ah ini tidak berubah-ubah, tidak bertambah dan berkurang karena bertambah dan berkurangnya nikmat. Sebab, Rabi’ah tidak memandang nikmat itu sendiri, tetapi memandang memandang sesuatu yang ada di balik nikmat.

Adapun al-hubb anta ahl lahu adalah cinta yang tidak dari kesenangan indrawi, tetapi dari Dzat yang di cintai. Cinta yang kedua ini tidak mengharapkan balasan apa-apa. Kewajiban-kewajiban yang di jalankan Rabi’ah timbul karena perasaan cinta kepada Dzat yang di cintai.

Sepanjang sejarahnya, konsep Cinta Ilahi (Mahabbatullah) Rabi’ah ini telah banyak di bahas oleh berbagai kalangan. Sebab, konsep dan ajaran Cinta Rabi’ah memiliki makna dan hakikat yang terdalam dari sekadar Cinta itu sendiri. Bahkan, menurut kaum sufi, Mahabbatullah tak lain adalah sebuah maqam (stasiun, atau jenjang yang harus dilalui oleh para penempuh jalan Ilahi untuk mencapai ridla Allah dalam beribadah) bahkan puncak dari semua maqam.

Hujjatul Islam Imam al-Ghazali misalnya mengatakan, “Setelah Mahabbatullah, tidak ada lagi maqam, kecuali hanya merupakan buah dari padanya serta mengikuti darinya, seperti rindu (syauq), intim (uns), dan kepuasan hati (ridla)”.

Karya Sufistik Rabiah Al Adawiyah

Rabi’ah memang tidak mewarisi karya-karya sufistik, termasuk sya’ir-sya’ir Cinta Ilahinya yang kerap ia senandungkan. Namun begitu, Sya’ir-sya’ir sufistiknya justru banyak di kutip oleh para penulis biografi Rabi’ah, antara lain J. Shibt Ibnul Jauzi (w. 1257 M) dengan karyanya Mir’at az-Zaman (Cermin Abad Ini), Ibnu Khallikan (w. 1282 M) dengan karyanya Wafayatul A’yan (Obituari Para Orang Besar), Yafi’I asy-Syafi’i (w. 1367 M) dengan karyanya Raudl ar-Riyahin fi Hikayat ash-Shalihin (Kebun Semerbak dalam Kehidupan Para Orang Saleh), dan Fariduddin Aththar (w. 1230 M) dengan karyanya Tadzkirat al-Auliya’ (Memoar Para Wali).

Rabi’ah Al-Adawiyah merupakan tokoh wanita yang bisa kita contoh dalam kehidupan zaman sekarang. Baik dalam kezuhudannya, kesederhanaanya, ibadahnya terhadap Allah, dan rasa cinta kepada Allah yang begitu besar sehingga enggan untuk berpaling dari-Nya.

Rabi’ah tidak pernah menikah. Walaupun banyak pemuda dari kalangan para sufi yang ingin meminangnya. Tetapi beliau tidak menerima satu pemuda pun untuk menikahinya. Karena beliau khawatir cintanya terhadap Allah akan terbagi dengan makhluk-Nya.

Sumber Gambar: Iqra.id

Spread the love