Rasa yang Tertinggal dalam Pernikahan

Published by Sarina on

Tuturmama – “Dek.Tunggu!” teriak seseorang sambil mengejar ke arahku. Langkahku terhenti saat mendengar suara lelaki yang sampai saat ini masih aku rindukan itu, sebuah rasa yang tertinggal.

“Lama tidak berjumpa ya?” tanyanya yang kini telah berada di sampingku. Ia tersenyum, terlihat wajahnya tampak sangat bahagia.

Aku mengangguk, berusaha menetralkan perasaan di hati. Pertemuan kami untuk pertama kalinya setelah hampir dua tahun tidak berjumpa.

“Ternyata kamu masih sama, tidak ada yang berubah.”

“Aku masih orang yang sama kak,” jawabku singkat, rasanya tak ingin melanjutkan pembicaraan ini lagi. Takut hatiku akan luluh dengannya.

Dia tersenyum, senyum yang selalu membuatku jatuh cinta saat melihatnya.

“Jadi rindu sekolah Dek, tempat yang mempertemukan aku dan kamu,” ucapnya yang sontak membuatku menoleh ke arahnya. Sejenak mata kami beradu, sampai akhirnya pandangan kami sama-sama menatap ke depan. Berpegang pada pinggiran Jembatan Ampera dan merasakan hembusan angin yang sejuk bersama rasa yang tertinggal.

Baca Juga: 5 Rempah Sehat dan Berkhasiat untuk Wanita

“Maaf,” lirihnya, terdengar helaan napas pelan.

“Untuk apa Kak?”

“Kita bukan anak sekolahan lagi yang kalau ada perasaan langsung bilang suka ataupun sayang, sekarang kita sudah sama-sama dewasa. Selama dua tahun aku menghilang untuk berkerja keras dan mempersiapkan diri untuk menghalalkanmu Dek, aku ingin menyempurnakan agamaku bersamamu. Maukah kamu menjadi istriku?”

Lelaki itu menghadap ke arahku, mengeluarkan kotak berisi cincin dari saku celananya. Udara seolah mulai menipis, sesaknya di dadaku kembali terasa. Rasa bahagia dan sedih menyatu begitu saja.

“Seorang lelaki telah melamarku Kak, dan bulan depan insyaa Allah kami akan menikah,” jelasku kepadanya dengan terbata-bata, berusaha menahan air mata yang meminta untuk keluar meratapi rasa yang tertinggal ini.

Hening.

Aku berusaha melihat ke arahnya, ia mengacak rambutnya dengan gusar. Ekspresi bahagia di wajahnya kini berubah menjadi sendu, senyum yang ia tampakan menjadi hilang.

“Berarti aku terlambat ya, Dek? Hehe. Dulu aku tidak berniat memintamu untuk menungguku, karena aku tau menunggu itu membosankan. Siapapun lelaki yang bisa mendapatkan hatimu itu sangatlah beruntung.”

Kak Adit mulai tertawa. Terlihat matanya kini berkaca-kaca, salahkah aku telah melukai hatimu? Perasaanku masih sama hingga saat ini, bahwa namamu yang masih terukir di hatiku. Hanya saja aku menghargai perasaan Arya.

“Maaf,” lirihku, membuat hatinya hancur sama saja melukai hatiku. Ia melangkahkan kakinya pergi menjauh setelah tadi meminta pamit.

Baca Juga: 9 Cara Mendidik Anak Korban Perceraian Secara Psikologi

Aku terduduk lemas, kakiku seperti mati rasa dan saat itu juga air mataku jatuh tanpa bisa kutahan lagi, dadaku terasa sakit saat melihatnya meninggalkanku begitu saja. Inginku berkata rindu kepadanya tapi tetap saja aku tidak mampu untuk menyampaikan.

****
Malam kini menyapa, aku duduk di teras rumah untuk menikmati indahnya bintang di langit. Berusaha melupakan hal yang terjadi tadi sore dan juga melupakan perasaanku kepada Kak Adit, berdoa rasa itu segera lenyap membawa pergi rasa yang tertinggal ini.

Ibu berjalan mendekat lalu duduk tepat di sampingku.

“Bu, pilih mencintai atau dicintai?” tanyaku kepada Ibu dengan lembut.

“Pilihlah seseorang yang akan membuatmu bahagia. Yang jika kamu bersamanya maka keimananmu bertambah. Jika merasa bimbang dengan pilihan hati, maka kamu bisa sholat istikharah untuk meminta petunjuk sama Allah.”

“Tadi aku bertemu dengan Kak Adit Bu, ternyata saat bertemu dengannya aku sangat bahagia. Aku masih mencintai lelaki itu, tetapi aku tidak ingin menghancurkan kepercayaan Arya yang selama ini mencintaiku dengan tulus. Aku bingung Bu, mencintai di antara dua pilihan.”

Ibu tersenyum, “Semua itu adalah pilihanmu Ana, antara Adit ataupun Arya. Biarkan Allah yang memilihkannya untukmu, berdoa saja dan mintalah yang terbaik. Ini sudah malam sayang, ayo kita masuk dan istirahat.”

Kami masuk ke rumah dan aku membaringkan tubuh di kasur sambil menatap langit-langit kamar. Bayangan Kak Adit pergi meninggalkanku teringat jelas dalam ingatan, air mataku luruh begitu saja tanpa memberi aba-aba.

“Sakit.” Aku masih memegang dada yang kini terasa nyeri akibat rasa yang tertinggal.

****

Hari ini Arya mengajakku ke Mall terdekat untuk mencari cincin pernikahan kami nanti. Aku berusaha bahagia dan tetap tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Setelah menemukan cincin yang pas, kami berhenti di sebuah Kafe. Dua cangkir es cappucino dan mie ayam sudah kami pesan.

“Kudengar Kak Adit kembali ke Kota Palembang, apa ia menemui, Na?” Tanya Arya yang masih mengaduk-aduk minuman yang ada di atas meja.

Baca Juga: Mengenal 4 Gaya Pengasuhan Orang Tua

Aku mengangguk, lalu menaruh capucino yang tadi kuminum.

“Sudah kuduga. Ternyata ia yang menjadi alasan matamu sembab, kamu masih mencintainya, kan? Jangan membohongi hatimu dan terpaksa mencintaiku.” Arya menunduk, tak berani menatap ke arahku.

“Jika kamu ingin kembali padanya, silahkan. Undangan pernikahan belum kita sebar dan biarkan nanti aku akan memberi penjelasan kepada orang tuaku,” sambungnya lagi. Lelaki yang selama dua tahun ini selalu ada di sampingku dalam suka dan duka itu terlihat pasrah menunggu keputusanku.

“Mencintai ataupun dicintai, rasanya sangat sulit untuk kupilih. Dia datang di saat yang tidak tepat Ar, di saat aku membuka hati dan membiarkan kamu untuk memiliki hatiku sepenuhnya. Seharusnya ia tidak datang, kan? Seharusnya ia tidak perlu mencariku dan menjelaskan semua. Aku tidak mencintainya lagi … sungguh aku tidak mencintainya,” jelasku pada Arya penuh dengan penekanan pada kalimat terakhir.

Aku berkata tidak mencintai Kak Adit tapi hatiku berkata lain, masih ada rasa yang tertinggal. Air mataku lagi-lagi menetes tanpa henti, memalukan. Bahkan di depan calon suamiku aku malah menangisi lelaki lain.

“Kamu menangis?”

“Ah, ini pasti karena aku memasukkan banyak cabe di mie ayamku, rasanya sangat pedas sekali, haha,” ujarku berbohong sebelum kemudian mengajaknya beranjak. “Ayo pulang Ar, hari mulai sore!”

Sepanjang perjalanan pulang kami berubah menjadi canggung. Arya yang biasanya membuat lelucon hingga aku tertawa, berubah menjadi sangat pendiam, hening, bahkan terasa sangat risih.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, aku masih duduk di depan kaca. Gadis yang memakai pakaian khas Palembang dengan riasan pengantin terduduk lemas, harusnya aku memang bahagia dengan pernikahan ini, sebuah pesta setelah persiapan pernikahan dengan baik.

Bukankah ini sendiri adalah pilihanku? Memilih Arya ketimbang Kak Adit untuk menjadi suamiku.

Baca Juga: 5 Godaan Menjelang Pernikahan, Pasangan Muda Wajib Waspada

“Bismillah. Aku tidak boleh menangis, atau nanti makeup ini akan luntur.” Aku berusaha memberi semangat pada diri sendiri, menyeka air mata yang menetes.

Aku membuka tirai jendela untuk melihat ke arah luar, hampir semua tamu undangan telah datang termasuk Kak Adit. Lelaki berjas hitam itu tampak bercanda ria dengan Arya. Seutas senyum terukir di bibirku, tanpa sadar ia menoleh ke araku yang terus memperhatikannya.

“Astaga, ia melihat kesini!” seruku langsung menutup tirai jendela.

Jantungku berdebar dengan kencang menunggu Arya mengucapkan akad nikah, merasakan perasaan gelisah. Sampai akhirnya acara inti akan dimulai.

“Saya terima nikah dan kawinnya Putri Ana Binti Adam dengan maskawin seperangkat alat sholat di bayar tunai! ” Terdengar seorang lelaki berucap, tapi itu bukan suara Arya. Kak Adit, yah aku tau benar suara khas lelaki itu.

Aku langsung berlari keluar kamar untuk memastikan bahwa aku tidak salah dengar, dan ternyata Kak Adit yang menjabat tangan Ayah.

Arya tersenyum ke arahku.

“Sah!” Semua orang berteriak dengan semangat.

Aku berjalan mendekat dan meminta penjelasan kepada Arya, pernikahan bukanlah sebuah permainan.

“Cantik. Tapi sayangnya sudah jadi istri orang lain,” puji Arya sambil cengengesan.

“Kenapa?”

Baca Juga: Cerpen : Kisah Lara Mencintai dan Mengikhlaskan

“Aku tahu Na, kamu mencintai Kak Adit. Kamu nangis bukan karena kepedesan makan mie ayam, tapi karena kamu benar-benar mencintainya. Kamu mencintai dalam diam dari kita sekolah sampai saat ini, aku minta maaf karena telah memaksamu untuk mencintai aku dan seharusnya aku paham jika cinta tidak bisa tumbuh terpaksa.”

Hatiku tersentuh mendengar ucapan yang Arya lontarkan, lelaki yang mempunyai hati yang baik. Beliau mengantarkanku untuk duduk di samping Kak Adit, mata kami beradu. Seperti mimpi saat aku bisa menikah dengan orang yang selama ini namanya kusimpan dalam doa.

Aku meraih tangannya lalu menciumnya, aku memejamkan mata saat lelaki yang kini resmi menjadi suamiku mengecup dahiku dengan lembut.

“Aku memintamu langsung kepada Sang Pencipta, dalam setiap doa dan sujudku bahwa kamu adalah orang yang selama ini aku cintai. Kamu adalah orang yang ingin tetap aku jaga di dalam hati, agar suatu saat aku bisa menjadikanmu bidadariku dalam ikatan halal.”

“Aku mencintaimu saat kita bertemu pada pertama kali, mulai saat itu aku meminta juga kepada Allah untuk menjaga hatiku untukmu. Aku percaya jika kamu yang terbaik maka bagaimanapun caranya kita akan bertemu kembali, aku ingin tetap menjaga hatiku dalam batasan agar aku tidak membuatmu berdosa dalam zina,” paparnya meski kini sudah tak ada lagi rasa yang tertinggal.

Sumber Gambar: freepik.com

dhankasri hindisextube.net hot bhabi naked rebecca linares videos apacams.com www tamilsexvidoes lamalink sexindiantube.net chudi vidio sex mns indianpornsluts.com hd xnxxx shaving pussy indianbesttubeclips.com english blue sex video
savita bhabhi xvideos indianxtubes.com xxx bombay live adult tv desitubeporn.com mobikama telugu chines sex video indianpornsource.com video sex blue film sex chatroom indianpornmms.net old man xnxx aishwarya rai xxx videos bananocams.com sex hd
you tube xxx desixxxv.net xossip english stories sanchita shetty pakistaniporns.com mom sex video cfnm video greatxxxtube.com sex marathi videos mmm xxx indianpornv.com sexxxsex xvideosindia indianhardcoreporn.com ajmer sex video