Saat Anak Bermain Dengan Makanannya

1
213

Saat usia Jundi, putra saya, memasuki 1 tahun 6 bulan, gigi serinya sudah tumbuh sempurna. Ditambah bonus sepasang geraham sebelah kiri.

Mungkin ini juga menjadi salah satu alasan mengapa pepaya menjadi salah satu buah yang tidak akan ditolaknya. Selain rasanya yang manis dan warna jingganya yang menarik, tekstur buahnya juga lembut, sehingga  akan mudah memprosesnya dalam mulut tanpa perlu energi lebih untuk mengunyahnya.

Sekitar jam sepuluh pagi, dua jam sebelum masuk jadwal makan siang Jundi. Saya siapkan camilan buah. Seperempat potongan pepaya California berukuran sedang saya potong-potong dadu. Ukurannya kira-kira muat untuk sekali suap mulut kecilnya.

Saya letakkan sepiring potongan papaya lengkap dengan sendok garpu tepat didepannya yang sudah anteng menunggu cemilannya datang.

Tanpa menunggu lama, dengan tangan mungilnya ia langsung mengambil sendok garpu dan bersiap menusuk potongan pepaya.

“Eits…jangan lupa berdoa dulu ya” kata saya.

Lalu saya mencontohkannya dan mengeraskan bacaan doa, dia segera menaruhnya kembali sendok garpunya dan mengikuti gerakan saya. Menengadahkan kedua tangan, bibirnya komat kamit plus manyun-manyun. Lucu sekali melihatnya.

“Aaaaiin…” kemudian dia mengusap pipinya (bukan mukanya he..he..)

Tak menunggu lama perlahan tapi pasti dia melahap satu persatu potongan buah papaya. Sesekali menyodorkan potongan papaya untuk menyuapi saya yang menunggunya makan. Akhirnya potongan pepaya ronde pertama ludes tak tersisa.

“Mas Jundi tunggu sebentar ya, bunda ambilkan pepaya lagi” saya tinggalkan jundi ke dapur, sendok garpu masih digenggamnya.

Tak berapa lama potongan pepaya sudah siap. Jundi masih semangat menyambutnya. Kali ini saya biarkan ia makan sendiri. Saya tinggalkan untuk melanjutkan pekerjaan rumah yang masih tertunda.

Tak berapa lama saya tinggalkan, terdengar suara Jundi tertawa terkekeh kekeh, saya terus melanjutkan pekerjaan. Dia masih tertawa juga. Penasaran dibuatnya, akhirnya saya segera mendatanginya.

O la..la..apa yang terjadi?

Pepaya di piring sebagian sudah berpindah tempat, menempel di dinding dan berserak di karpet. Kotor sekali. Seperti tidak peduli dengan kehadiran saya dia masih terkekeh dan melempar lempar papaya yang masih tersisa.

Pepaya itu ia jadikan mainan lempar-lemparan. Haduuh.

Saya tak langsung menghentikannya. Saya juga tak memarahinya. Bagi saya, wajar anak usia satu tahun bertingkah begitu. Memarahi anak juga tak bakal menyelesaikan persoalan bukan?

Saya ingat isi sebuah buku tentang pengasuhan anak, bahwa usia 0-3 tahun memang merupakan fase pertumbuhan kemampuan motorik dan sensorik anak.

Saya segera mengambil beberapa koleksi toples sebanyak 4 warna dan rangkaian manik-manik warna-warni mainan Jundi. Di sudut yang berbeda saya jajar 4 toples. Saya ambil jarak sekiranya jundi sampai untuk melemparkan manik manik ke dalam toples.

“Mas Jundi lihat! Bunda punya permainan” yang dipanggil hanya melirik dan berusaha menusuk nusuk papaya yang mulai lumat.

Ya…saya dicuekin. Tak habis pikir dengan kehebohan yang saya buat buat saya lemparkan satu persatu manik manik ke dalam toples.

Jundi mulai tertarik, dia meninggalkan piringnya dan mendatangi saya.

“Uh..uh..uh…” dia meminta manik manik yang saya bawa.

“Ini mas masukkan ke toples hijau” saya berikan manik manik warna hijau, dia melemparkan ke arah toples merah dan tidak masuk he..he.. Tak masalah. Biarkan ia terus mencoba.

Ketika sedang sedang asyik dengan permainannya. Saya bisa meninggalkannya untuk membersihkan potongan pepaya yang berserakan.

Alhamdulillah urusan beres, tak perlu pakai emosi, tangisan, dan si kecilpun bisa melakukan permainan yang bermanfaat. Barangkali ada Mama yang pernah mengalami hal serupa?

Saat anak bermain dengan makanannya, tak perlulah Mama marah-marah pada anak. Tak perlulah Mama sebal dan jengkel pada anak. Ingat ya Ma, marah pada anak pun tak bakal menyelesaikan masalah lho. Apalagi bila sampai membentak anak. Jangan ya Ma! 

Banyak aktivitas permainan yang bermanfaat yang bisa mengalihkan perhatian anak dari memainkan makanan. Anak bisa dialihkan bermain dengan mainannya atau kegiatan lain.

Selamat mencoba ya Ma…

.

.

Oleh: Tantri Mega Sanjaya, Asal Jambi.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here