HomeCurhatSaya Putuskan Berkampanye Rubella

Saya Putuskan Berkampanye Rubella

Berangkat dari rasa haru dan sakit hati yang mendalam sebagai ibu yang menyayangi anaknya. Anak pertama saya Dewi Agustin yang dipersembahkan Sang Maha Kuasa untuk dijadikan mahkota keluarga.

Isak tangisnya saat ia lahir 8 tahun yang lalu membuat kami bahagia, “Serasa keluarga lengkap dengan kehadirannya”, begitulah kalimat yang terucap dari ayahnya waktu itu yang saya ingat.

Binar matanya yang begitu berkilau dengan senyum manis sembari mengecup keningku saat itu, mungkin ia masih tak percaya jika ia sudah menjadi seorang ayah dan menandakan begitu ia sangat bahagia.

Tapi takdir berkata lain, belum puas kami merasakan kebahagian dan keceriaan yang mengisi heningnya waktu setiap hari dengan suara tangisan serta tawa Dewi, keadaan berubah dalam sekejap, berselimuti rasa takut, bimbang dan tak bisa dikiaskan dengan kata-kata, yang pada akhirnya batin mengendap dan tertahan untuk bisa tetap tersenyum di depan anak saya.

Saya dan ayahnya, saat di belakang Dewi begitu rapuh, mencibir rasa sakit yang  berkucuran air mata yang tak bisa dibendung dengan rasa kecewa yang sangat teramat karena tidak mampu menjaganya lebih baik. Hanya doa yang bisa saya persembahkan setiap waktu “Tuhan, sembuhkan anak saya dari penyakit Rubella.”

Apa yang terjadi dengan Dewi Agustin? Ia terjangkit penyakit rubella, bermula dari bintik merah di wajahnya, 1-5 hari lamanya menular hingga ke seluruh tubuhnya. Saya tidak tau apa penyebab sebenarnya, sebagai ibu yang setengah mati menyayanginya, dengan selalu memberikan menu 4 sehat 5 sempurna setiap harinya, seolah tak berhasil menjaga kesehatannya.

Bahkan baju sampai dengan kamar tidurnya saya jaga dengan steril dari bakteri yang akan menimpa dirinya. Tapi takdir dan kehendak kuasa tak bisa dihalangi oleh siapapun. Hingga pada akhirnya saya pun sadar menjaga anak hanya di rumah tidaklah cukup, di luar rumah juga perlu pengawasan yang intens.

Saya sungguh merasa kasihan padanya, ia tergeletak dalam kamarnya, mata dan seluruh tubuhnya yang sawo matang itu sudah tak mulai tampak, kecuali merah memar, dan jeritan tangis yang membuat saya semakin tak tega untuk mendengarnya.

“Ma, mama, gatal ma, perih ma,” begitu tuturnya setiap waktu. Saya melangkahi aturan dokter untuk menjaga jarak darinya. Tapi aku ibunya yang melahirkannya. Begitulah dilema yang kurasa sejak 1 bulan yang lalu.

2 minggu yang lalu sehabis ia datang dari sekolah, ia bercerita yang membuat saya semakin terpukul. Ia diejek sama teman-temannya, mereka mengusirnya agar ia tidak dekat-dekat. “ Ma dewi tidak mau sekolah lagi, dewi malu,” isaknya.

Walaupun ayahnya sudah melarangnya tapi ia tetap memaksa untuk masuk sekolah,  “Ma dewi tidak mau ketinggalan pelajaran sekolah” ungkapnya. Aku tahu anakku anak yang paling rajin dan mudah bergaul dengan teman-temanya, sebab itu pula dokter mengatakan jika dewi terkena penyakit rubella mungkin karena di sekolahnya ada anak anak yang terjangkit penyakit rubella.

Penyakit ini sungguh sangat berbahaya, tidak hanya mampu melumpuhkan pori dan struktur tubuh anak-anak kita. Melainkan yang lebih parah lagi adalah bisa mengganggu psikologinya karena korban bullying di sekolahnya. “ Dewi penyakitan, Dewi penyakitan, “ begitulah ucapan yang kerap kali ia dapat di sekolahnya.

Sebagai orangtua, saat ini saya dan ayahnya berusaha untuk membahagiakan dan membuat ia tak merasa kesakitan. Saya hanya berharap semoga Tuhan bisa menyembuhkannya agar kami bisa melihat ia tumbuh dan menggapai cita-citanya yang ingin menjadi seorang dokter anak jika dewasa nanti.

Dengan pengalaman seperti ini, saya bermaksud untuk menyampaikan pentingnya imunisasi pada anak, betapa bahayanya penyakit Rubella. Bukan sebab karena ini menimpa anak saya saja, tapi tujuan mulia agar bisa menyalamatkan anak-anak bangsa dari penyakit menular Rubella.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *