Sedihnya Ibu Ketika Jauh Dari Anak

0
2096

Sebagai seorang istri aku hanya mempunyai satu prinsip dasar, yakni patuh atas perintahnya. Begitulah yang kusampaikan pada suami seusai akad nikah di penghulu waktu dulu. Tapi sebelumnya, aku juga mengajukan satu sarat mutlak pada suami, dalam kondisi apapun suamiku tidak boleh melakukan poligami.

Semenjak itu, kehidupan kami berjalan selayaknya pasangan baru, aku selalu dimanja, dan sebagai istri, aku selalu memasakkan sup, lauk pauk serta hidangan mewah lainnya untuk suami. Tak lupa Mencuci pakaian dan mengurus seluruh kebutuhan rumah tangga, semua itu hanya untuk mencari sunnah-Nya. Walaupun Islam mengajarkan pada saya, bahwa semua pekerjaan rumah tangga bukanla urusan seorang istri melainkan kewajiban seorang suami, tapi ini semua kulakukan demi menunjukkan pengabdian sebagai seorang istri.

3 tahun pasca menikah, saya pun hamil, tentu ini adalah kabar gembira, karena memang momen ini sudah sekian lama ditunggu oleh keluarga, termasuk suamiku Mas Agung Laksono.

“Akhirnya aku akan menjadi ayah, dan bisa membuktikan jika aku sempurna sebagai lelaki,” katanya saat mengetahui kabar tentang kehamilanku.

“Tuhan telah mendengar do’a kita Mas,” kataku

“Iya sayang, ini sungguh anugerah Tuhan yang luar biasa,” ujar suamiku

Kebahagian ini pun tersiar hingga ke orang tua Mas Agung dan keluarga saya sendiri di kampung. Seperti lazim yang dilakukan adat Jawa, kami menjalani ritual selamatan atas kandungan ini.

9 bulan 10 hari, akhirnya anakku Ayu Andira Lahir, tepat pada 15 April 2009. Semenjak itu aku merasa keluarga bertambah, dan aku menyayanginya sepenuh jiwa. Bahkan aku tak pernah sedikitpun melewati waktu bersama anakku Ayu Andira.

Sebagai orang tua, tentunya aku akan selalu bersamanya, mendidiknya, dan juga harus siap repot atas segala hal tentangnya. Dari makan, minum susu, memberikan vitamin, gizi yang bagus, dan mencuci bajunya agar ia terbiasa tampil bersih dari sejak usia dini.

Di umur yang masih anak-anak, suami saya menegaskan supaya saya tidak terlalu dekat dengan anak, hal ini sungguh membuat aku tak berkutik akan keputusannya, karena saya terikat janji akan selalu patuh padanya.

“Ma, kamu hanya boleh mendidik anak sampai usia 7 tahun, setelah itu Ayu harus keluar dari rumah,” kata suamiku.

“Masudnya mas?” tanyaku.

“Ayu harus dimasukkan pondok,” jawabnya singkat.

“Memang kenapa harus mondok Pa?, kan sekolah unggulan di sekitar kita banyak !” balasku.

“Papa sudah tidak percaya dengan pendidikan formal lagi sekarang, pokoknya harus mondok,” jelasnya tegas.

Aku hanya bisa bilang “Iya,” pada suamiku. Namun aku masih belum bisa membayangkan, sekarang usianya baru 5 tahun, jadi tinggal dua tahun lagi ia akan jauh dariku.

Jangan ditanya apakah aku bisa melepasnya dengan sepenuh hatiku. Tentu jawabnya tidak. Apalagi sampai jauh darinya. Apa yang diinginkan oleh banyak para ibu, tak lain adalah ia ingin bersama dengan anak-anak selamanya.

Umur 7 tahun terlalu singkat bagiku untuk melepas anak pergi jauh dari orangtuanya. Kehadirannya bagiku tidak hanya sebagai anak, melainkan sebagai teman di rumah. Apalagi mas Agung tidak membolehkan aku untuk bekerja.

Baca juga :

Kenapa Mama Tidak Pernah Mencium Bibirku?


Ayah & Bunda, Hentikan Kebiasaan Bohong pada Anak! 


Istri yang Baik adalah Istri yang Menghargai Kerja Keras Suaminya

Aku merasa kesepian, jenuh, dan aku juga mulai tidak nyaman jika hanya menjadi mahkota ratu yang tidak bisa kreatif. Bagiku lelaki dan perempuan yang membedakan adalah kelamin semata, tidak di wilayah lainnya.

Selain itu, aku masih ingin lama menjadi ibu, membangunkannya di pagi hari, mengajaknya untuk bersih-bersih halaman rumah dan menceritakan aneka dongeng. Tapi apa daya, lagi-lagi aku tak bisa memaksa kehendak suami, aku hanya bisa menjadi diri yang terkurung tidak berdaya.

Terkadang aku berpikir, kenapa Tuhan menciptakan segumpal darah menjadi janin dalam rahim dan dilahirkan oleh ibu, jika aku harus seperti ini. Dan apakah suami tidak mengerti betapa anak adalah bagian nafas dari seorang ibu, jika ia luka, maka ibu adalah orang yang paling teriris pertama kali.

“Papa, setelah aku menjadi makmummu dengan segala kepatuhanku, sebagai seorang istri aku juga boleh berpendapat kan, karena kehidupan berumah tangga tak selamanya bisa dengan mudah diterjemahkan oleh suami, oleh sebab itu izinkan aku berpendapat,” ujarku suatu malam pada suami.

“Silahkan berpendapat ma, apa yang mau di sampaikan?” tanya suamiku.

“Mama hanya ingin sedikit bebas, dan tidak terpenjara dalam kehidupan papa, untuk kali ini saja, aku mohon, jangan pernah pisahkan aku dengan anakku,” pintaku.

“Tidak bisa ma, dia harus mondok, itu sudah keputusan papa,” tegas suamiku.

“Pa, semua memang keputusan papa, tapi mama harus tegaskan bahwasanya sampai kapanpun mama akan sedih, dan akan selalu merasa sendiri jika tak ada Ayu di sampingku.” kataku sambil terisak.

Suamiku pun mendekatiku sambil meyakinkan apa yang dilakukan ini semua demi masa depan anak kami, dia merasa yakin hal ini adalah yang terbaik buat Ayu.

Dan lagi-lagi aku sebagai istri pun tak kuasa berdebat panjang lagi dengannya. Yang pasti perasaanku tak bisa diungkapkan lagi, aku berdoa dalam hati semoga masih ada harapan lain yang bisa mendekatkan aku dengan anakku.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here