HomeCurhatTutur Untuk PapaSekolah Terbaik adalah Sekolah yang Membuat Anak Nyaman dan Gembira
anak pertama kali sekolah

Sekolah Terbaik adalah Sekolah yang Membuat Anak Nyaman dan Gembira

Tepat satu tahun yang lalu anak saya memasuki sekolah dasar untuk yang pertama kalinya. Itu pengalaman yang cukup menegangkan. Sebab sebelumnya ia jadi murid Taman Kanak-kanak di dekat rumah saja. Tentu saya mudah mengawasi. Lagipula, teman-teman di TK juga teman di samping rumah. Saya bisa mempercayakan si anak di TK sebab pengawasannya tidak terlalu sulit.

Namun untuk SD, saya memilih sekolah yang dirasa terbaik di kota tempat tinggal saya dan berjarak cukup jauh. Berbagai kriteria saya pertimbangkan dengan matang. Tak boleh asal memilih.

Usai diterima sebagai murid SD terbaik di kota, saya merasa bangga. Anak tunggal saya akan memasuki sekolah jempolan dengan guru terbaik yang ada.

Tes masuknya saja begitu banyak. Tidak sedikit calon murid yang tak bisa masuk ke sekolah itu. mereka tertolak. Tetapi Feby adalah salah satu yang diterima tanpa halangan.

Bayangan akan kecerdasan dan kesuksesan anak saya menghiasi pikiran. Seakan-akan dengan belajar di SD itu masa depan anak sudah begitu cerah. Saya merasa senang sekaligus bangga. Meski ternyata, optimisme itu berbanding terbalik dengan kenyataan. Saya dipaksa legowo dan menerima kenyataan.

Itu terjadi hanya enam bulan sejak Feby masuk sekolah itu.

SD terbaik tak menjamin kenyamanan anak belajar. Feby mengalami itu. Di lingkungan baru yang jauh dari teman-teman semasa TK, ia kudu belajar beradaptasi. Pembelajaran materi yang ketat ternyata tak cocok dengan karakter anak saya.

Ia musti menghafal banyak mata pelajaran dan terus bersaing dengan murid lain yang tak kalah cerdas, bahkan mengungguli dirinya. Sepulang dari sekolah ia sering terlihat murung sebab tidak mendapat nilai yang baik di sekolah.

Saya yang terlanjur memiliki harapan terlalu tinggi padanya menjadi kecewa. Memarahi dirinya seakan-akan dia adalah anak gagal yang tidak rajin belajar. Saya ajak pulang dan menanyainya soal aktivitas dan nilainya di sekolah.

Ia menjawab jujur bahwa nilainya tidaklah tinggi dan mengaku kesulitan mendapat teman yang akrab. Saya beri dia peringatan agar belajar dengan lebih baik dan meningkatkan nilainya. Soal teman, saya abaikan. Menganggapnya soal waktu. Tinggal sekolah beberapa bulan lagi agar Feby bisa beradaptasi dengan yang lain.

Pendeknya, bulan pertama bersekolah, Feby merasa tidak nyaman.

Bulan demi bulan terus berjalan dan saya larut dalam kesibukan bekerja. Feby terus bersekolah tetapi perhatian saya padanya menguap. Saya percaya saja pada para guru dan sistem pendidikan sekolah itu sebab tidak ada alasan pada sekolah yang sudah terbukti memiliki segudang prestasi itu.

Sampa pada enam bulan saya mengunjungi kembali sekolah untuk mengambil rapor Feby. Duduk bersama wali murid yang lain dan mangantre menunggu giliran. Setengah jam usai menunggu saya dipanggil masuk ke ruangan bertemu dengan wali kelas Feby.

“Pak Anton?” tanya wali kelas

Saya jawab ya, kemudian obrolan dimulai. Wali kelas itu menjelaskan sesuatu yang membuat saya terkejut. Ia bilang kalau nilai Feby di sekolah termasuk buruk. Saya terkejut dan tidak segera menerima pernyataan itu. Setahu saya, Feby anak yang cukup pintar. Sewaktu tes dia menjadi calon murid unggulan.

Tetapi mengapa nilainya tidak bagus dalam semester pertama itu. Tentu saya merasa heran dan tidak mengerti. Namun saya terima saja rapor itu dan berniat menanyai anak perempuan saya sesampainya di rumah nanti.

Feby menjawab kalau dia sudah sebisa mungkin belajar dengan keras namun tetap tak paham dengan materi yang diajarkan. Ia bahkan merasa tidak betah bersekolah di sana. Lingkungan baru yang ditawarkan sekolah tidak berhasil membuat Feby beradaptasi. Ia merasa tidak betah di sana. Ya, tidak nyaman.

Saya hanya seorang single father. Tak ada tempat curhat pada istri. Pengakuan Feby yang membuat saya terkejut tidak bis langsung saya tanggapi. Sempat berfikir bagaimana cara membuat anak yang saya anggap cerdas itu kembali bersemangat di sekolah dan bisa meraih banyak prestasi.

Saya berkonsultasi pada seorang teman. Tak disangka, dia menyarankan Feby pindah sekolah saja. Awalnya saya menolak sebab sekolah Feby saat ini merupakan tempat terbaik. Saya anggap teman saya itu iri sebab hanya menyekolahkan anaknya di dekat rumah yang kualitas serta fasilitasnya sangat berbeda dengan SD Feby.

Tetapi bukan itu intinya. Kata teman saya, kenyamanan adalah hal pertama yang harus dirasakan anak di sekolah. Perasaan nyaman akan membuatnya merasa senang sehingga proses belajarnya jadi mudah.

Tidak penting apakah sebuah sekolah memajang banyak prestasi di muka halaman sekolah atau berstandar internasional. Jika anak tak merasa nyaman, semua itu percuma. Sebab anak akan terpaksa menjalani proses belajar dan hal itu membuatnya cepat bosan.

Teman saya benar. Sekolah terbaik mungkin tidak cocok bagi Feby. Bukan sebab ia tidak cerdas, melainkan lingkungan baru itu tidak cocok dan membuat Feby sulit belajar.

Mungkin Feby tak memiliki banyak teman di sana. Mungkin juga ketidaknyamanan membuatnya sulit menghafal mata pelajaran. Atau budaya baru yang dibawa teman-temannya tidak cocok dengan Feby yang sebelumnya selalu berada dekat dengan rumah.

“Anak yang udah sekolah akan lebih sering bertemu dengan teman-temannya daripada orang tua sendiri. Itu sebabnya dia harus ngerasa nyaman di sekolah. Toh dia yang ngerasain, bukan ayah atau ibunya.”

Iya, hanya Feby yang merasakan segala hal yang terjadi di sekolah, bukan ayahnya ini. Jadi kenapa saya harus memaksakan padanya untuk tetap bersekolah dan meraih prestasi di tempat yang membuatnya merasa tidak nyaman.

Akhirnya saya menuruti saran teman tadi. Saya tanyakan Feby apakah ia mau pindah ke sekolah yang dekat rumah dengan taman-taman lamanya. Seketika itu ia mengangguk dan tersenyum. Matanya berbinar memancarkan aura kebahagiaan. Jadi itu sebabnya.

Ia tidak ingin terlalu jauh dari rumah dan teman lamanya.

Sudah satu semester dia kembali masuk sekolah di dekat rumah. Belum lama ini saya kembali mengambil rapornya dan nilainya lebih baik dari satu semester sebelumnya. Di rumah, ia terlihat lebih gembira. Mengerjakan PR atau menggambar di bukunya.

Saya lebih tenang melihatnya begitu. Meski sekolah yang kini ditempati Feby bukanlah yang terbaik di kota. Tapi itu tidak penting, sebab sebanyak apapun prestasi yang pernah diraih sebuah sekolah, jika sang murid tidak berbahagia maka itu percuma.

Lebih penting memenuhi kebutuhan belajar anak. Dari buku bacaan, seragam dan menemaninya belajar atau mengerjakan PR di malam hari. itu membuat Feby senang.

Sebaiknya, proses pembelajaran anak seharusnya berjalan menyenangkan. Seorang anak bisa menikmati setiap detik pelajaran dan menyerap ilmu yang disampaikan gurunya. Jangan sampai anak merasa terbebani sebab mata pelajaran yang bertumpuk dan persaingan antara siswa yang membuatnya terbebani secara psikis.

Jelang tahun ajaran baru ini, bijak-bijaklah dalam memilih sekolah untuk anak. Sekolah terbaik untuk seorang anak adalah sekolah yang membuatnya merasa nyaman dan gembira.

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *