HomeCurhatTutur Untuk MamaSelingkuh, Hanya Soal Pilihan

Selingkuh, Hanya Soal Pilihan

Tersebutlah pada suatu hari percakapan sepasang suami suami istri…

“Kenapa ya Yah makin banyak aja orang yang suka selingkuh?” si istri membuka percakapan.

Hmmm… jawabnya sambil meletakkan HP yang dipegangnya.

“Suka selingkuh itu kecenderungan Ma.”

Tentu saja si istri yang rajin memasak meski jarang enak itu tak lantas menelan mentah-mentah hipotesis waton suloyo yang dikatakan suaminya.

“Maksudnya kecenderungan? Bakat gitu? Atau gawan bayi?” Tanya si istri lagi.

“Ya semacam itu lah.”

“Jadi Ma… selingkuh itu bukan karena rumah tangganya tidak bahagia atau dia tidak puas sama istrinya. Ndak ada itu. Orang selingkuh itu ya karena mau selingkuh aja, mau dia bahagia atau enggak.”

“Orang yang nggak suka selingkuh nggak akan selingkuh sekalipun dia nggak bahagia, dan sebaliknya orang yang punya kecenderungan selingkuh dia akan tetap selingkuh meski kehidupan rumah tangganya sempurna dan baik-baik saja,” jelasnya makin sok tau.

Btw saya sudah pernah bilang belum kalau suami saya tampak sangat gorjes saat dia sedang menjelaskan ke-soktahuannya dengan sangat percaya diri? O iya, ada satu hal lagi yang membuat ketamvanannya naik satu level di mata saya, yaitu saat  dia ngelawak dengan muka serius, lempeng dan gak ketawa sama sekali. Macam Cak Lontong pas lagi stand up comedy gitu lah. It’s so cooolll.

Oke. Abaikan bagian memualkan ini.

Kembali ke topik. Selingkuh.

“Kalau selingkuh itu kecenderungan berarti semacam takdir gitu? Genetik? Allah kasih kecenderungan orang ini suka selingkuh, orang ini nggak suka selingkuh. Kasihan dong orang yang dikasih takdir hobi selingkuh.” Tanya si istri masih belum puas dengan jawaban yang diberikan suaminya.

“Ya justru itu Ma, di situ ujiannya. Mampu nggak dia mengalahkan kecenderungan ingin selingkuhnya itu. Pas ingin selingkuh, pas ada yang mau menanggapinya. Ya sudah jadilah perselingkuhan. Jadi yang salah dua-dua nya, yang selingkuh karena udah selingkuh dan yang diajak selingkuh kenapa mau.”

“Tapi setiap orang dikaruniai akal untuk berfikir serta memutuskan apakah dia mau memilih selingkuh, yang berarti mengkhianati komitmen atau mempertahankan komitmen yang sudah disepakati bersama dulu di awal pernikahan apapun masalah mereka saat ini,” jelasnya panjang lebar.

Si istri cuma mengangguk-angguk sambil mbatin “Karepe lah Pak, sing penting njenengan bahagia.”

“Lha kalau kamu tipe yang cenderung suka selingkuh enggak Yah?” Tanya istrinya lebih lanjut.

“Enggak lah Ma… tenang aja. Di silsilah keluargaku gak ada sejarahnya ada yang pernah selingkuh,”  jawabnya jumawa. Jawaban yang mungkin agak absurd tapi cukup memuaskan hati istrinya. Haha. Cemen lu tri, dikasih jawaban kaya gitu aja udah langsung percaya.

“Oke deh Pak I do trust you ya. Jaga selalu hatimu, saat jauh dariku tunggu aku kembali.”

(Tampaknya si istri ini pernah bercita-cita jadi penyanyi namun nggak kesampaian. Bentar-bentar nyanyi. Bentar-bentar nyanyi. Nyanyi kok bentar-bentar.

-Tamat-

S e l i n g k u h. Adalah salah satu hal yang ditakutkan dalam sebuah rumah tangga selain hama tikus dan coro yang merajalela di dapur rumah tentu saja.

Dan asal tahu saja, pelaku selingkuh nggak didominasi oleh kaum pria/suami sahaja Banyak juga wanita/istri yang terperosok ke dalam konflik perselingkuhan ini.

Alasan yang biasa mereka kemukakan antara lain: tidak bahagia dalam rumah tangga, terjebak pada perkawinan yang salah, tidak dimengerti pasangan, tidak puas dengan pelayanan yang diberikan pasangan, sudah jenuh and so on. Alasan-alasan yang diada-adakan dan dicari-cari sebagai pembenaran diri.

Dan selingkuhlah yang mereka pilih sebagai solusi dari semua permasalahan itu, dengan slogan andalannya yang hampir mirip pegadaian, ‘Mengatasi Masalah dengan Masalah’.

Saya tak hendak menuliskan tentang hal-hal yang harus dilakukan untuk mencegah perselingkuhan dalam rumah tangga. Satu-satunya cara yang harus dilakukan agar tidak selingkuh ya ‘Jangan selingkuh!!’ Dan itu kembali lagi pada kekuatan iman, kejernihan akal dan kemampuan mengendalikan diri masing-masing orang.

Saya lebih tertarik menuliskan beberapa fakta selingkuh yang mungkin belum banyak diketahui. Fakta-fakta ini saya rangkum dari beberapa situs hasil gugling-gugling saya ya karena gugling is my middle name.

1. Jenis musik mempengaruhi kecenderungan selingkuh

Ada yang gemar musik rock n roll? Ternyata penyuka rock n roll punya kecenderungan lebih besar untuk selingkuh, yaitu 41 persen. Sementara musik pop 16 persen, country 11 persen, klasik 7 persen, hip-hop 2 persen (entah ini siapa yang neliti dan gimana caranya). Kenapa dangdut koplo dan campur sari nggak masuk dalam penelitian itu? Kenapa? Jawab aku Mas!

2. Selingkuh itu bisa jadi karena genetik

Menurut sebuah penelitian, kecenderungan berselingkuh seseorang itu terkait dengan DNA. 50 persen orang dengan alel panjang hormon dopamin memiliki kecenderungan untuk selingkuh di belakang pasangan mereka. Sementara individu dengan alel singkat hormon dopamin cenderung setia. (Jangan tanya saya alel itu apa atau siapa karena saya tahunya farel suaminya fitri).

Intinya adalah “Pakne, ternyata kamu benar. Nggak waton suloyo seperti kataku. Tak salah aku memilihmu menjadi imamku.” Halah.

Ternyata banyak pasangan yang rumah tangganya bahagia, harmonis dan baik-baik saja,  ketahuan salah satunya berselingkuh di belakang hari.

3. Wanita lebih bahaya saat berselingkuh

Biasanya laki-laki selingkuh hanya karena masalah fisik saja. Berbeda dengan wanita yang sekalinya selingkuh bisanya melibatkan perasaan. Emosional. Nah ini lebih berbahaya karena meninggalkan kesan mendalam. Rela melakukan apapun untuk selingkuhannya, termasuk mengganyang harta suami demi si selingkuhan.

4. Selingkuh bukan berarti cinta hilang

Perselingkuhan justru sering terjadi saat kehidupan rumah tangga sudah settle/mapan. Menetap, punya anak, dan tercukupi kebutuhannya. Bukan pada awal-awal perjuangannya membangun rumah tangga bersama pasangan. Saat tiba fase mapan ini, beberapa pasangan justru merasakan kekosongan jiwa, kehampaan, kesepian dan rasa cinta yang mulai memudar. Mereka memenuhi kekosongan hati itu dengan selingkuh. Dan ini mereka lakukan bukan karena tak cinta lagi dengan pasangannya.

5. Istri seringkali tahu jika suaminya selingkuh

Intuisi istri itu sekuat sinyal kartu seluler di dekat tower BTSnya. Hanya dari sehelai rambut yang berbeda panjang dari rambutnya saja, mereka bisa mencium sesuatu yang beda dari suaminya. Atau dari perubahan bau keteknya. Biasanya tak pakai minyak wangi, biasanya tak suka begitu, solali lali ola ola la (yak bala jaer mana suaranya. *palmface)

Kadang para istri tahu jika suaminya selingkuh, tapi tak mau mengakui. Denying. Mencoba berfikir positif menghadapi keanehan-keanehan yang dilakukan suaminya.

6. Laki-laki berselingkuh dengan sahabatnya.

Ini mah udah jamak terjadi ya. Witing tresno jalaran saka kulino. Perselingkuhan biasanya berawal dari ‘persahabatan’ lawan jenis (eh, sama jenis juga bisa sih, jaman edan, apa yang nggak bisa)  dan dimulai dari tempat kerja dimana mereka bisa lebih intens bertemu setiap hari.

Jaga suamimu baik-baik. Nggak usah terlalu banyak menuntut suami biar lebih begini lebih begitu. Karena suami yang sering kau kau tag-tag namanya dalam artikel-artikel “wahai suami na na… itu” terkadang adalah suami yang didambakan wanita/istri lain di muka bumi ini. Camkan itu nisanak! (Diambil dari status yoanita astrid, mama muda beranak tiga yang hobi curhat di medsosnya. Puasass??)

Oke. Segitu dulu aja ya. Hayati ngantuk Bang,  ini sudah hampir subuh.

Ingat ya, selingkuh itu pilihan! Anda udah dewasa dan berakal sehat untuk bisa memutuskan segala hal yang hendak anda pilih beserta segala konsekuensi baik buruknya.

Salam setia!

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *