Semenjak Jadi Ibu, Saya Miliki Daya Cipta

Semenjak Jadi Ibu, Saya Miliki Daya Cipta

Di usia yang ke 20 saya lulus kuliah dengan predikat tercepat dan terbaik dari jurusan ilmu komunikasi. Setelah itu saya melangsungkan ke jenjang yang lebih berat dibandingkan kuliah, yakni pernikahan. Menikah dengan pria pilihan saya, namanya Mas Wisnu, senior di lain fakultas.

Singkat cerita, setelah saya menikah, akhirnya saya ikut tinggal bersama dengan suami yang sekarang bekerja di salah satu perusahaan ternama di Surabaya. Selama menjalani pernikahan saya tidak bisa meninggalkan kebiasaan saya yang sedikit gaul, tampil beda, dan maunya selalu dimanja. Belanja, jalan-jalan dan makan di tempat-tempat yang mewah adalah kewajiban yang harus di penuhi oleh seorang suami.

Untung saja suamiku baik dan sedikit penyabar, ia terkadang mau lama-lama menunggu ketika saya meminta ditemani ke salon setiap bulannya. Seperti kebiasaan generasi milenial, aku suka foto-foto setelah itu, kemudian posting di IG, Facebook, dan sosmed lainya. Itu wajar menurut saya karena perawatan tubuh termasuk yang paling penting, jadi tak salah juga dibagikan lewat sosmed, cara ini bukan hanya sekedar pamer ke orang lain, tapi ada ajakan untuk mengajak para wanita untuuk lebih peduli penampilannya.

Bukannya ingin sombong, tapi untuk urusan menjaga penampilan, saya memang harus menyisihkan sedikit biaya, terlebih wajah saya juga banyak yang bilang cantik. Hhmm ini saya sampaikan karena ukurannya saya lihat dari banyaknya orang yang menyukai setiap postingan yang saya bagi, bahkan likenya saja  pernah dalam sekali post di IG mencapai 2K.

Hal lainnya dari saya adalah tidak suka dengan barang-barang yang kotor, saya orangnya gampang jijikan. Pernah suatu ketika saya komplain pada pengantar makanan gara-gara gelasnya kurang bersih. Pokoknya bisa dibilang saya orangnya rempong dan menyebalkan, itu juga menurut beberapa teman waktu di kampus dulu.

Baca juga :

Ini Rahasia yang Perlu Diketahui Para Suami untuk Redakan Amarah Istri


Beruntunglah Istri yang Miliki Suami Hebat Seperti Ini


Suamiku Lelaki Paling Romantis di Dunia

Parahnya juga saya cepat emosi dan rapuh ketika ada masalah. Untung saja saya memiliki suami baik, terpelajar, pengertian, dan selalu memberikan motivasi untuk selalu bangkit.

“Ma, keindahan itu bukan persoalan tampil gaya, tapi dilihat dari kelembutan hati dan mau berprilaku baik pada orang lain.”

Begitulah suami sering menasehati saya. Tapi nasehat itu seolah masuk kuping kanan keluar kuping kiri, entahlah di mana ia akan hinggap. Tapi dalam hati masih membekas harapan saya bisa menjadi orang yang lebih baik.

Tiba pada saatnya do’a itu terkabul sedikit demi sedikit dengan hadirnya seorang pangeran di dalam rumah tangga. Yaitu anak saya.

“Saya akan beri nama jagoan kita Surya Darma, “

Begitulah bisik ayahnya kala itu, dan ia juga mengatakan bahwa ia senang dan sangat bahagia serta selalu berdo’a agar kehidupan ke depan bisa tambah lebih baik.

“Amin sayang !!” kata saya pada suami saat di rumah sakit.

“Pa, kenapa harus Surya Darma ?” tanyaku.

“Karena dia adalah do’a bagi papa, dengan kelahirannya, diharapkan bisa menjadi putra sang fajar dalam rumah tangga ini Ma,” jelas suami.

Foto-foto : ilustrasi

“Bukannya kehidupan kita dari kemarin baik-baik saja pa?”

“Mungkin saja bagi mama, tapi bagi papa belum tentu he he..tapi yang jelas tambah lebih baik aja Ma,” Tuturnya.

Jelas saja saya tersentak kaget, kenapa tiba-tiba suami berkata demikian, apakah selama ini ia tak nyaman bersama saya. Tiba-tiba perasaan sedih hadir, ada sentuhan hati paling dalam berjalan halus yang membuat detak jantung ini terasa lambat.

Kesedihan itu sangat berarti, hingga membuat saya tak bisa membahasakan apakah harus bersedih atau marah pada diri sendiri. Sebab baru kali ini saya merasa bersedih dan memikirkan suami, sebelumnya saya benar-benar tidak peduli dengan apa yang membuat ia tak nyaman.

Baru kali ini saya merasakan naluri sebagai istri, dan tidak hanya melahirkan anak tapi juga kesadaran menjadi ibu, yang datang secara alami sejak Surya Darma lahir.

“Mas Maafin Anggi selama ini ya..?” Saya berkata pelan

“Kenapa sayang ?” jawab suami.

“Ya, Mama minta maaf saja, takut selama ini sejak kita menikah selama yang sudah hampir 2 tahun membuat papa tersinggung atau tidak nyaman dengan kelakuan Mama,” balas saya

“Tidak sayang, Mama tidak pernah salah, sebagai imam dalam rumah tangga, yang layak disalahkan tetap adalah imamnya Ma.” Ia tetap merendah, betapa indahnya punya suami sepertinya.

Saya terharu mendengarnya, sebaik inikah suami saya selama ini, sedangkan ia sudah berkali-kali saya abaikan. Jauh dari harapan mendapatkan saya sebagai istrinya, yang ada justru petaka menimpanya.

“Aku berhutang budi padamu Mas Wisnu,” batinku.

Akhirnya, saya tidak hanya baik pada suami pada akhirnya, saya justru lebih kuat, terlatih dan tidak mudah egois. Ini karunia Tuhan yang mungkin belum sempat disyukuri sebelumnya. Betapa saya termasuk perempuan merugi tidak bisa menjalani hidup dengan baik bersama suami selama ini.

Naluri keibuan ini membuat saya selalu mengalah dalam setiap hal, saya jadi tidak mau makan sebelum anak makan dan minum susu, bahkan juga pada suami sendiri. Saya pastikan jadi yang terakhir untuk makan jika mereka belum makan. Itulah mungkin peran seorang ibu, saya yakin setiap ibu akan merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan.

Walaupun terkadang, saya akui menjadi ibu memang semakin menambah banyak kerjaan, tentunya juga pengeluaran. Tapi saya coba menjalaninya dengan nyaman dan penuh rasa kasih sayang. Saat ini saya juga disibukkan berjualan online kebutuhan anak-anak, seperti susu, madu anak, dan baju. Akun IG dan FB yang sudah like juga banyak.

Begitulah perjalanan hidup saya  sebagai Anggi yang saat ini telah menjadi seorang ibu.

“Your the best Ma…!!, selalu menjadi yang terbaik buat keluarga …” puji suami.

Comments

Close Menu