HomeCurhatTutur Untuk MamaSemua Ibu Ingin Anaknya Cerdas, Tapi Kebanyakan Tidak Mau “Membayar Harganya”
tanda anak cerdas

Semua Ibu Ingin Anaknya Cerdas, Tapi Kebanyakan Tidak Mau “Membayar Harganya”

Alkisah terjadilah dua percakapan diantara mamah muda dan anaknya yang masih bawah tiga tahun.

“Mah, itu apa, Mah?” tanya si kecil.

“Itu mobil,” jawab si Mamah sambil mainan hape.

“Mah, sini Mah…” si kecil malah lari-lari ke teras. “Ini apa Mah?”

“Jangan lari-lari! Udah dibilang dari tadi! Jangan mainan pasir lagi, abis mandi!”

Si kecil pun seketika terdiam. Terlihat ia mau menangis tapi tidak jadi. Takut dimarahi ibunya.

Akrab dengan kejadian di atas Mah? Ya, hal-hal itu mungkin biasa kita lakukan. Termasuk saya sendiri juga melakukannya. Lalu apa hubungannya dengan judul tulisan ini ya?

Baca juga: Wahai, Ayah Bunda.. Jangan Suka Marah-Marah, Buatlah Anak Nyaman dan Senang di Rumah

Mah, Pah..

Apakah Anda ingin anak tumbuh cerdas? Pintar? Jawabannya pasti; IYA, SAYA MAU. Tapi coba deh renungkan, siap belum untuk “membayar harganya?”

Karena bisa jadi, bisa jadi lho ya, kita semua ingin anak pintar tapi terkadang belum siap untuk membayar harganya.

Tenang deh, harga yang saya maksud disini bukan harga berbentuk uang kok. Jumlahnya juga tidak milyaran.

Jadi gini, maksud saya. Pelan-pelan saja semoga pembahasan ini cocok dengan Mamah Papah.

Coba kita renungkan terlebih dahulu, sebenarnya ciri-ciri anak cerdas itu apa? Sudah saya cek nih Mah dari berbagai artikel di media. Dan saya rangkumkan buat Mamah Papah.

Pertama, anak sangat aktif. Nah, ini ciri paling mencolok kalau anak cerdas. Anak aktif itu anak yang bergerak linch, fokus perhatiannya baik, lebih sabar, dan suka dengan kegiatan yang butuh banyak gerakan fisik.

Tapi….

Saat anak-anak kita suka lari-lari, suka lompat-lompat, suka berjalan kesana kemari karena pengen tahu apa itu, Mah.. Apa itu, Pah… apakah kita membiarkan dan membimbingnya atau justru melarangnya?

Apakah kita lebih suka anak-anak kita duduk manis, diam sambil nonton televisi atau gadget daripada kegiatan fisik yang tentu perlu lebih banyak perhatian orang tua? Apakah Mamah dan Papah masih suka membentak saat anak aktif?

Nah, inilah yang saya maksud bahwa kebanyakan kita mungkin tidak mau membayar harganya. Melarang anak aktif padahal hal itu sangat baik untuk menumbuhkan kecerdasan anak. Jadi gimana dong…

Baca juga: Merdeka ala Emak-Emak Rempong

Kedua, punya kosa kata banyak alias ceriwis. Sukanya ngomong muluu. Kalau punya anak yang ceriwis seneng apa susah..? Pastinya seneng tho, namun kadang sebel juga. Jujur saja, saya soalnya juga gitu.

Kadang suka sebel kalau si kecil ceriwis tiada henti. Apalagi saat banyak kerjaan. Duh, kadang malah saya suruh diem. Kalau tidak mau diem, senjata utamanya adalah di setelin youtube. Padahal hal ini bisa membuat ketergantungan anak pada gadget lho. Gak baik.

Maka sebisa mungkin tanggapi ceriwisnya si kecil. Jawab pertanyaan-pertanyaan dia dengan baik dan lembut. Agar ia tidak takut untuk bertanya, yang akhirnya bertanya itu bisa menumbuhkan kecerdasannya. Memang perlu kesabaran ekstra.

Tapi, Mamah pengen anaknya cerdas kan? Jadi, ya mesti sabar dan mau membayar harganya dengan mendengar dan menyimak ceriwisnya si kecil.

Ketiga, tertarik pada banyak hal. Cenderung usil. Kalau si kecil gak bisa diam, maunya usil mulu. Kalau dalam bahasa jawa “nritik” maka hal itu adalah modal agar anak bisa tumbuh pintar. Karena usil dan pengen tahu adalah salah satu sifat orang-orang cerdas lho Mah..

Bisakah kita sabar menghadapi tingkah anak yang usil? Pas di rumah, ada aja yang ia kerjakan. Kadang berantakin meja rias ibunya karena pengen tahu berbagai pernak pernik kosmetik. Kadang obrak abrik rak buku cuma sekadar pengen ambil aja. Kadang merusak tatanan baju yang sudah dirapikan ibunya.

Bisa sabar? Kalau bisa, maka Mamah sudah membayar harga agar anak tumbuh cerdas.

Namun Bunda sebaiknya juga perlu waspada apabila ciri-ciri anak cerdas itu kelewat batas. Karena bisa jadi anak malah tumbuh menjadi nakal.

Anak nakal dan anak cerdas tentu sangat berbeda. Anak nakal belum tentu adalah ciri anak cerdas. Lalu dimana bedanya?

Baca juga: Jadilah Ibu yang Sabar dan Penyayang Bukan Pemarah

Bedanya ya di tingkah laku si kecil ya Mah. Perhatikan aja tingkahnya, kalau ia bertingkah laku brutal dan lewat batas, menyimpang dari norma-norma umum, suka memukul temannya, dan lainnya, maka ini disebut nakal lho Mah..

Nah, kalau anak cerdas itu, kata ahli, ia lebih cenderung aktif, kritis, penuh rasa ingin tahu dan sering bertanya. Seperti yang saya sampaikan di atas ya Mah..

Udah ah, nanti saya ngelanturnya kepanjangan. Tulisan ini juga refleksi saja pribadi saja yang kadang suka tidak sabaran menghadapi tingkah laku si kecil. Plus sebagai renungan bahwa membuat anak cerdas itu ternyata caranya sangat mudah. Tidak perlu mahal.

Bisa kita lakukan sejak anak-anak usia dini. Dengan memberikan stimulus dan sikap sebagai orang tua yang tepat, maka insya Allah, anak-anak kita akan tumbuh menjadi anak yang cerdas.

Kembali ke judul tulisan di atas, Semua Ibu Ingin Anaknya Cerdas, Tapi Tidak Mau “Membayar Harganya,” bahwa kadang kita semua -para orang tua- yang seringkali mematikan potensi anak-anak kita sendiri untuk tumbuh.

Dengan apa kita mematikannya? Dengan ucapan-ucapan kita, dengan bentakan-bentakan kita, dengan sikap-sikap kita yang tidak mendukung si kecil. Dengan kekurangsabaran kita. Dengan semua yang tidak kita ketahui bahwa ternyata sikap kita itu salah pada anak-anak.

Astaghfirullah…

Karena itu, kalau kita ingin anak-anak kita cerdas, sudah siapkah kita “membayar harganya”..?

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *