Semuanya Punya Livia

0
1265

Suatu hari, saat saya sedang memasak di dapur, Livia mengikuti. Ia berdiri di belakang saya. Memperhatikan. Lalu selang tak berapa lama, ia mulai meminta peralatan yang saya pegang. Ia juga ingin melakukannya.

Ia meminta -tentu dengan agak memaksa- bawang merah yang sedang saya iris. Meminta panci. Sayuran. Air. Bahkan telenan.

Awalnya saya penuhi keinginan putri saya itu. Karena memang permintaannya belum “membahayakan” dirinya.

Saya beri ia beberapa sayuran, panci, maupun telenan. Namun bila ia sudah meminta barang pecah belah, saya lantas jadi pikir dua kali. Bukannya tidak mau, namun bila barang itu pecah bukankah malah membahayakan anak saya? Apalagi saat ia minta pisau.

Hadeuh, jadi bingung menghadapinya.

Bila diberi, maka peralatan itu bisa membahayakan. Bila tidak diberi, maka ia akan marah dan ngambek. Dipikirnya semua barang-barang di dapur itu juga miliknya. Boleh ia gunakan semaunya.

Tingkah balita yang seperti itu sebenarnya wajar; merasa semua adalah miliknya. Anak balita memang ada tahapan dalam pertumbuhan psikologis dan emosinalnya suka “merebut” barang kepunyaan orang lain.

Menurut ahli psikologi –yang infonya saya pada sebauh artikel parenting- anak usia dini memang belum punya konsep kepemilikan, hingga ia belum bisa membedakan mana yang miliknya dan mana milik orang lain. Kondisi ini “diperparah” dengan pola pikir anak yang masih konkret fungsional, selain sifat egosentris yang masih melekat kuat.

Di mata balita, dirinyalah yang jadi pusat dunia, hingga semua yang ada memang untuknya dan disediakan khusus untuk memenuhi kebutuhannya. Itu sebabnya, lagi-lagi dalam kaca mata batita, boleh-boleh saja, kok, merebut dan memiliki barang orang lain.

Pernah suatu ketika Livia mengambil tablet Ipad punya Ayahnya yang berada di atas meja. Ia pegang terus. Diminta lagi oleh ayahnya tidak ia berikan.

“Ini kan punya Livia,” katanya.

Ayahnya memaksa. Alhasil Livia menangis. Kalau sudah menangis bakal lama menenangkannya. Akhirnya Ayahnya mengalah.

Eh, ternyata Ipad itu hanya ia mainkan selama 10-20 menit. Selanjutnya ia letakkan sembarangan. Sebenarnya bukannya tidak boleh, namun kepikiran, “gimana nanti kalau dibanting?”

Selanjutnya bukannya berhenti, ia bisa jadi merebut barang lainnya; buku Ayahnya, handphone, hingga remote tv. Semua seakan adalah miliknya.

Saya berpikir, bahwa hal ini tidak bisa lagi dibiarkan. Bila terus berlanjut maka ada konsep yang belum dipahami oleh Livia, yaitu: kepemilikan.

Ia harus mengerti mana barang miliknya, mana yang punya orang lain. Mana yang boleh ia mainkan, mana yang tidak boleh ia mainkan.

Livia harus diajarkan tentang konsep kepemilikan dan berbagi.

Saya katakan pada anak saya, bahwa setiap barang yang ada di rumah ada yang punya. Bahwa setiap mainan yang ia temukan baik di rumah ataupun di luar rumah, ada yang mempunyai. Ia sudah punya beberapa barang, dan orang lain juga punya barang. Ia harus bisa membedakan mana miliknya dan mana yang bukan miliknya.

Saya katakan hal itu berulang-ulang. Setiap kali ia membawa barang ataupun mainan, selalu saya tanya “Itu punya siapa?”

Hingga pada suatu hari, Livia berkata pada saya bahwa peringatan saya terbawa dalam mimpinya. Hehehe.. Mungkin saking seringnya ya.

Sejak saat itulah Livia mulai paham. Ia tak lagi merebut barang punya Ayahnya, bahkan juga ia tak pernah merebut mainan punya temannya, adiknya ataupun milik orang lain. Livia telah mengerti mana yang menjadi kepunyaannya, dan mana yang menjadi kepunyaan orang lain.

Ups, tak lupa saya juga selalu menyatakan padanya, bahwa ia selalu memiliki cinta Ayah Bundanya. Selalu.

.

.

Oleh: Eva, asal Yogya Mamanya Livia.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here