Setelah Hamil dan Melahirkan, Saya Mengerti Kalau Jadi Ibu Memang Penuh Perjuangan

0
1304
perjuangan ibu

Hari ini kita memperingati Hari Ibu Nasional. Di seluruh negeri mengingat kembali sosok ibu yang telah merawat dan membesarkannya. Sejak digendong sampai besar, ibu selalu hadir menemani kita. Kasih ibu memang sepanjang hayat. Demi anaknya, ibu berjuang sepanjang masa meski tubuhnya makin renta dan makin mudah lelah.

Di semua negara di dunia memiliki hari ibu. Jasa ibu memang luar biasa. Beruntung sekali kita dilahirkan dari rahimnya. Beruntung sekali ibu mau berjuang demi kelahiran kita, sebab proses melahirkan sungguh berat dan melelahkan.

Hanya ibu yang tahu rasanya melahirkan dan mengasuh anak. Hanya ibu.

Sejak kehamilan, ibu harus membawa anak selama sembilan bulan. Makin besar kandungan, makin tidak nyaman rasanya. Tubuh jadi berat. Ibu tidak bisa tidur sembarangan seperti biasa. Dia harus menjaga agar bayi dalam kandungannya terjaga dan selamat sampai lahir nanti.

Tiga bulan pertama kehamilan, ibu sering mual-mual dan kehilangan nafsu makan. Melihat makanan di meja makan pun tak menggerakkan seleranya, padahal ibu suka makan pada hari biasa. Tapi sejak hamil, nafsu makan menurun drastis.

Pinggul sakit hingga berjalan pun sulit. Tapi ia tetap tersenyum menantikan kehadiran ssi kecil.

Jelang kelahiran, perasaan bahagia bercampur dengan rasa takut. Ya, bahagia karena sebentar lagi dia jadi ibu dan takut karena terbayang betapa sakitnya melahirkan. Tapi ibu memilih melanjutkan proses tersebut, melahirkan meski harus bertaruh nyawa.

Di masa hamil tua, ibu saya pernah pingsan sebab masih memaksakan diri untuk bekerja. Saya tidak tahu apa penyebabnya, waktu itu saya masih anak kecil. Saya panik dan tidak mengerti harus berbuat apa. Untung saja banyak orang dewasa yang hadir dan menemani.

Sampai tibalah saat melahirkan.

Semua jenis kesakitan tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan melahirkan. Kita tahu banyak ibu yang meninggal saat melahirkan. Tapi apa karena itu mereka takut? Tidak, tidak sama sekali. Ibu akan berjuang melawan ketakutan demi sang buah hati.

Sementara ibu tengah berjuang di ruang persalinan, ayah hanya bisa menunggu. Ayah memang merasa sangat khawatir, tapi tetap saja, dia tidak dapat merasakan sakitnya melahirkan.

Ibu berhasil melewati proses itu, si kecil didekap dalam pelukan. Ibu pun menangis bahagai melihat wajah mungil anaknya. Ibu berjanji untuk merawatnya sampai dewasa kelak. Dia akan melindungi anaknya dari apa pun, bahkan tak ingin kulit anaknya tergores.

Tapi kadang sesuatu tak terduga  terjadi. Beberapa kali si bayi mungil yang sudah bisa bergerak jatuh dari ranjang. Tentu ibu menangis mengkhawatirkan anaknya. Ibu menyesal, mengapa ia harus meninggalkan anaknya, meski hanya sebentar.

Sebab itulah ibu berusaha menjaga anaknya selama 24 jam tanpa libur sama sekali. Kadang anak bangun tengah malam meminta ASI. Kita tahu tidur bayi di usia awal tidak teratur. Itu akan ibu lakukan selama anak masih menyusui, yaitu 2 tahun.

2 tahun bukan waktu yang singkat, apalagi untuk menjaga bayi sepanjang waktu. Sungguh, dibandingkan dengan pekerjaan apapun, mengurus bayi adalah pekerjaan paling berat.

Terima kasih, ibu. Kau sosok yang luar biasa.

Kita tahu, enam bulan pertama bayi hanya minum ASI. Selama itu kehidupan bayi sangat bergantung dengan kondisi ibunya. Apabila ibu sakit, maka bayi juga akan sakit. Maka ibu selalu berusaha menjaga kesehatan dan pola makannya. Bukan untuk dirinya, melainkan demi si kecil.

Meski nafsu makan tidak karuan, ibu akan memaksakan diri makan agar ASI selalu terjaga. Tidak boleh makan pedas meski suka pedas, tidak boleh kebanyakan makanan berlemak meski suka nasi padang.

Tentu banyak sekali perjuangan ibu yang tak bisa disebut semua, terlalu banyak.

Saking banyaknya, seorang anak tak akan pernah bisa menebus semua perjuangan ibu. Anak hanya dapat  berbakti dan berbakti dan berbakti. Hanya itu cara berterimakasih kepada ibu yang sudah mengurus kita dengan baik selama ini. Tidak ada cara lain yang dapat dilakukan.

Di hari ibu ini, saya hanya bisa menulis seperti ini. Mungkin ibu tidak akan baca sebab beliau memang tidak mengenal internet, tapi tak apa. Tadi saya sudah menelpon beliau. Ibu saya juga tidak tahu bahwa hari ini hari ibu. Baginya, semua hari sama saja.

Jadi, saya hanya menelponnya untuk menanyakan kabar dan mengajak berbicara. Maklum, saya tinggal jauh darinya. Begitulah nasib saya. Saya juga seorang ibu yang sudah merasakan proses melahirkan dan meyusuis, anak saya berusia 3,5 tahun saat ini. Sedang usil dan banyak tingkah.

Setelah jadi ibu, saya jadi bisa memaknai hari ibu lebih dalam. Namanya juga merasakan, bukan hanya mendengar atau membaca cerita orang.

Buat ibu di seluruh alam semesta, selamat Hari Ibu. Semoga ibu tetap sehat dan kuat ya mengasuh anak sampai besar nanti. Semua ibu adalah orang yang hebat.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here