Simpel! Penghilang Lelah Ibu Adalah Menatap Wajah Anaknya yang Sedang Tidur Pulas

0
552
kebahagiaan ibu

Suatu pagi Aurel yang berusia 11 bulan rewel. Tiba-tiba ia menangis terus tanpa berhenti. Saya yang sebelumnya sedang masak langsung pergi ke kamar si kecil untuk mengeceknya. Dia tidak sedang sakit atau lapar. Sebelumnya Ia sudah makan bubur bayi dan perutnya pasti sudah terisi dengan baik.

Jadi fix, masalahnya bukan sakit atau lapar. Karena sedang masak, saya minta suami untuk menenangkan Aurel, mumpung ini hari minggu dan libur kerja. Saya berharap suami akan ngurusi Aurel. Itung-itung bagi tugas mengasuh anak.

Kalau di hari kerja saya yang urus, waktu liburan seharusnya suami mau ambil bagian.

Jadilah suami gendong Aurel, saya melanjutkan masak di dapur.

Sudah lima menit sejak saya tinggal ke dapur, tangis Aurel masih saya dengar. Ini kenapa suami enggak bisa nenangin si kecil ya, batin saya bertanya-tanya. Karena tidak tahan lagi mendengar tangisan Aurel, saya tinggalkan dapur dan mematikan kompor.

Di kamar, ayahnya Aurel masih menggendong si kecil sambil berusaha sebisanya. Bikin ekspresi muka lucu dan menyanyikan lagu. Tapi tetap saja, Aurel menangis. Jadi, saya harus ambil alih dari tangan suami.

Aurel mungkin sedang ingin sama ibunya. Walau ayahnya gendong terus, Aurel enggak akan diam. Tetap nangis.

Dan benar saja, waktu saya gendong sedikit demi sedikit Aurel jadi tenang. Dia tidak menangis lagi seperti sebelumnya. Saya tersenyum melhat perubahan ini lalu melirik suami yang masang wajah heran.

“Dia lagi pengen sama ibunya,” kata saya menjelaskan.

Akhirnya saya timang Aurel selama lima belas menit sampai tidak menangis lagi. Setelah seperempat jam, saya menidurkannya kembali pelan-pelan. Lalu kembali melanjutkan tugas sebagai ibu yang hebat, memasak.

Lelah juga kalau harus melakukan beberapa pekerjaan secara bersamaan. Lelahnya ibu ya begini, harus siap melakukan beberapa pekerjaan sekaligus dalam waktu bersamaan. Masak sambil nenangin anak, mandiin anak, jagain kalau lagi sakit, dan ngurus rumah. Capek banget pokoknya.

Saya melanjutkan masak di dapur lagi. Baru lima menit saya tinggal, Aurel menangis lagi lebih keras. Saya menghela nafas, heran dengan kejadian ini. Kenapa dia harus mengacaukan jadwal masak saya. Tinggal sebentar lagi selesai bikin bumbu buat sayur kedua, tapi malah begini.

 

Ya, sekesel apapun, saya tetap mementingkan Aurel. Entah masakan jadi atau tidak, say apergi meninggalkannya lalu kembali menemukan Aurel menangis di kamar. Ayahnya ahnaya geleng-geleng membiarkan sang istri mengambil alih.

Seketika Aurel berada dalam pelukan, ia menjadi tenang. Masih sama, dia hanya ingin digendong ibunya. Ditinggal masak sebentar saja tidak mau.

Ini hal umum, semua ibu pasti pernah mengalaminya.

Mau tidak mau, saya gendong lagi Aurel. Tapi karena 15 menit kurang, saya gendong sambil masak. Ini resiko jadi emak, ribet tapi harus selesai semua. Enggak boleh ada yang ditinggalkan, masak atau si kecil.

Semuanya harus selesai dalam waktu secepatnya. Enggak papa, mau gimana lagi. Sya lanjut masak sambil gendong Aurel di tangan. Susah juga dan bikin gerakan saya melambat.

Mana berat badan Aurel terus nambah. Gendong dia butuh tenaga lebih saat ini, beda banget dari saat Aurel berusia 2 atau 3 bulan.

Ini rasanya jadi ibu, masak sambil gendong anak yang berat. Tubuh saya jelas jadi nambah capek. Capek banget deh pokoknya. Setelah masak lalu menyapu dan membersihkan rumah.

Aurel cuman mau digendong ibunya, tidak ayah.

Akhirnya, setelah semua pekerjaan yang melelahkan selesai, saya menemaninya tidur. Mengajaknya bicara sebentar dan tertawa. Sebentar kemudian, dia tidur nyenyak juga.  Entah akan bangun lagi atau tidak nanti.

Yang jelas, saya menemani dan melihatnya tidur pulas. Membahagiakan sekali melihat anak tidur pulas. Seluruh rasa pusing, lelah, dan jenuh yang sejak pagi nempel di kepala langsung rontok saat melihat wajah mungil si kecil terlelap.

Sungguh melelahkan pagi ini, melakukan banyak tugas rumah dan menggendong si kecil yang sudah tumbuh besar. Beberapa bulan lagi, mungkin saya tidak akan lagi bisa menggendongnya. Tubuhnya tumbuh sehat dan saya senang.

Memang kebahagiaan ibu sederhana. Melihat anak sehat atau tumbuh. Hari ini, kebahagiaan emak jadi lebih sederhana, yaitu melihatnya tidur pulas.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here