Suamiku Bang Toyib, Jarang Pulang, Jarang Ngobrol Sama Anak & Istri

0
544

 

Ayah anakku jarang pulang. Iya, suamiku itu orang lapangan yang pekerjaannya kerap pindah-pindah dari satu kota ke kota lain. Dia kerja di perusahaan kontraktor, jadi jelas, tuntutan pekerjaan mengharuskannya bepergian ke banyak kota. Melelahkan, jelas.

Bayangin aja, istri sama anak jarang banget ditemeni. Kami tinggal berdua di rumah. Ketemu ayahnya kalau sudah selesai proyekan aja. Nah, seminggu kemudian dia pergi lagi deh. Kadang sampai berbulan-bulan lho enggak di rumah.

Iya, suamiku sedang bekerja mencari nafkah buat anak dan istrinya. Dia juga bilang enggak akan selamanya bekerja jadi orang lapangan yang jarang di rumah. Suamiku itu, kayak Bang Toyib aja. Jarang pulang, jarang pulang.

Aku tetap beryukur meski sering ditinggal. Itu resiko pekerjaannya dan resiko menjadi istrinya. Suamiku sedang berjuang demi masa depan keluarga, itu saja.

Aku yakin, tidak sedikit istri yang memiliki suami jarang pulang. Jarang di rumah karena pekerjaan yang butuh tempat dan waktu di luar. Akhirnya keluarga ditinggalkan beberapa hari atau minggu. Mungkin memang ini jalan hidupnya, mesti kuat-kuat nahan kangen sama suami. Toh dia lagi berjuang dan bekerja keras demi keluarga, bukan lagi piknik atau bersenang-senang.

Beruntung saja, dia suami yang bertanggung jawab dan sayang keluarga. Kini anakku sudah mengerti dan tidak tertlalu mempermasalahkannya. Masalah komunikasi juga sudah teratasi dengan baik.

Beda dari dulu, saat anak pertamaku usia empat tahun, waktu sudah paham ayahnya dan sering nanya, “Ayah kemana, Bunda?”

Aku jawab seadanya dan dia tampak sedih. Sewaktu ayahnya pulang, dia coba nahan ayahnya biar enggak pergi lagi. Aku jadi ikutan sedih ngeliat Arya, anakku, merengek sama ayahnya. Kutahan Arya dan coba menghiburnya.

Hmm, begitulah resiko punya suami yang jarang pulang. Sayangnya dia memang harus pergi dan tak dapat dihindari. Ini bisa menakibatkan hal yang tak diinginkan.

Seperti anak jadi jauh dari anak, ya itu masalah berjangka panjang. Anakku memang tidak terlalu mempermasalahkan jika ayahnya pergi. Hanya merengek sebentar sebelum berangkat.

Besoknya dia sudah lupa dan bermain dengan riang gembira, seakan lupa kalau ayahnya tidak di rumah. Itulah anak-anak.

Tapi aku selalu khawatir jika suatu saat nanti hubungan anakku dengan ayahnya akan jadi buruk. Tidak dekat, tertutup, dan tidak peduli dengan kondisi ayahnya. Tentu saja hal itu akan terjadi jika sang ayah hanya membiarkannya saja di masa kecil.

Sebab itulah aku mendesak suamiku untuk lebih aktif menghubungi si kecil saat berada di luar kota. Bisa dengan menelpon atau video call.

Di awal suamiku cuek seperti kebanyakan laki-laki. Menganggap hal itu sepele sebab saat pulang dia mau menemani si kecil. Tapi tetap saja, itu Cuma beberapa hari.

Hari pertama pulang, si kecil agak canggung dengan ayah sendiri. Seperti malu-malu. Duh, anakku, kenapa itu bisa terjadi?

Aku merasa kasihan melihat anakku yang merasa asing dengan ayahnya. Seorang ayah yang seharusnya jadi teladan bagi anak laki-lakinya malah terasa jauh, jauh, dan jauh sekali.

Makanya aku desak si suami dengan seabrek alasan. Kumarahi juga sih biar manut. Hehe.

Jadi deh suamiku sekarang lebih aktif menghubungi kami. Setiap malam usai bekerja dia sempatkan mengajak video call untuk melihat kondisi anaknya. Dengan cara ini dia bisa menjalin hubunga yang lebih baik.

Kalau dia pulang juga aku paksa buat sering main sama anaknya. Dasar, suami bandel ya.

Mungkin suami Bunda lebih perhatian dengan anak, mungkin juga selalu dekat dengan anak setiap saat. Bersyukurlah, waktu bersama keluarga sangat berarti dibanding kesenangan yang lain.

Bagi Bunda yang maish LDM (Long Disctande Marriage) dengan suami bersabarlah, sebab semua akan menjadi lebih baik ke depannya. Semoga suami Bunda tetap dekat dengan anak, meski jauh, meski jarang pulang seperti Bang Toyib.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here