Sudahkah Kita Menjadi Ayah yang Hebat..?

Sudahkah Kita Menjadi Ayah yang Hebat..?

Barangkali setiap laki-laki di dunia ini selalu mendambakan dirinya menjadi seorang ayah yang hebat.

Menjadi pahlawan bagi anak-anaknya. Misalnya saja, saat anaknya takut gelap, lampu padam, ayah hadir untuk menenangkan hatinya. Saat ia takut untuk keluar rumah, bersama ayah semua rasanya aman tentram.

Ayah saya mungkin tidak hebat seperti super hero. Kalau ayah hebat adalah ayah yang tidak pernah membentak anaknya, maka ayah saya bukan seperti itu.

Ayah saya termasuk ayah yang galak. Suara yang keras sudah menjadi santapan setiap hari. Kadang hal-hal sepele dihadiahi oleh gertakan. Misalnya saja karena salah meletakkan handuk, tidak rapi, langsung saja gertakan muncul.

EIts, tapi tak cuma bentakan, tapi juga pukulan. Ya, sewaktu kecil ayah langganan banget memukul saya. Tiap kali ia emosi, tangannya selalu lincah menyasar pantat saya.

Tapi saya juga tahu bahwa ayah adalah orang yang sayang pada anak-anaknya. Dan rela melakukan hal apa saja untuk anaknya, bahkan kadang hal yang tidak rasional sekalipun. Dan itu pernah dilakukan ayah.

Dulu saat saya masih SD, saya sempat terjatuh karena bermain bola. Tidak ada cedera serius sebenarnya, hanya saja saat saya berjalan apabila dilihat dari belakang maka akan terlihat sedikit pincang.

Awalnya tidak ada yang tahu, dan saya pun tidak merasa kesakitan. Biasa saja. Hingga suatu hari saat saya berjalan ke kamar mandi, ayah melihat saya berjalan dengan agak pincang.

“Loh, sikilmu ngopo?” tanyanya.

“Rapopo kie, Pak,” jawab saya.

“Kok mlakune pincang ngono. Waduh, ndelok kene..”

Di lihatnya kaki saya. Ia usap-usap, diperhatikannya seperti dokter ahli. Setelah tak diketahui ada yang aneh, ia membiarkan saya masuk ke kamar mandi.

Ternyata ayah menganggap serius soal “cedera” saya itu.

Selang beberapa hari kemudian ia mengajak saya ke dokter untuk di rontgen apabila ada yang retak. Hasilnya? Nihil. Ya, karena memang kaki saya tidak retak. Dokter pun mengatakan tak ada yang salah, dan ia juga tak bisa menjawab kenapa jalan saya agak pincang.

Ayah saya tak menyerah. Dibawanya saya ke tukang pijat. Ke ahli akupuntur. Ke banyak macam pengobatan tradisional. Namun hasilnya tetap sama saja.

Melihat hasil yang tidak memuaskan itu, saya ingat ayah menangis malam-malam. Ia sesenggukan sambil mengelus-elus kaki kanan saya. Membuat saya terbangun namun saya tak ingin menganggunya. Saya teruskan pura-pura tidur hingga benar-benar tertidur.

Usaha terakhir ayah untuk menyembuhkan saya adalah usaha yang tidak rasional. Malam-malam saya diajaknya ke lapangan. Disuruhnya saya menunjukkan lokasi jatuh. Lalu ia keluarkan kembang mawar tujuh rupa dan menyan.

Ia nyalakan api dan membakar menyan sambil komat kamit.

Mungkin ia minta agar jin penunggu lapangan tidak mengganggu. Tidak membuat saya sakit. Mungkin dikiranya saya kualat. Dalam kultur masyarakat Jawa hal-hal semacam ini wajar dilakukan. Ayah saya memang tidak berpendidikan tinggi, pun tidak berilmu agama yang mumpuni, maka ia meyakini bahwa yang ia lakukan itu sah-sah saja. Semata demi kesembuhan anaknya.

Kini setelah puluhan tahun kemudian, saya baru sadar bahwa kaki saya sebenarnya normal-normal saja. “Pincangnya” saya disebabkan karena perbedaan beberapa senti panjang kaki. Dan itu masih wajar, yah seperti beda tinggi antara jari manis dan telunjuk. Saya masih bisa main bola. Bahkan saya membayangkan jadi seperti Hiro Ito yang kakinya juga panjang dikit sebelah.

Itulah salah satu tanda betapa besarnya kasih sayang ayah.

Tentu setiap ayah punya cerita masing-masing. Yang menjadi tanda betapa seberapa pun kurangnya kita menjadi ayah yang hebat -menurut pengertian umum dan para ahli- tapi tetap ada satu dua kisah yang menunjukkan bahwa kita adalah ayah hebat.

Kalau kita belum bisa menjadi ayah seperti yang diajarkan dalam buku-buku parenting, janganlah putus asa. Janganlah rendah diri.

Terus belajar saja.

Sembari menyaksikan betapa ajaib dan cepatnya anak-anak kita tumbuh dewasa.

“Cinta seorang Ayah kadang memang tak terlihat, tapi kita dapat merasakannya…”

Comments

Close Menu