Tak Selamanya Anak Kurang Gizi Karena Orangtuanya Tak Mampu

0
287
Ilustrasi

Saya lahir dan besar di Wonosobo, sehabis lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) Saya memilih untuk menikah, karena memang orang tua saya tidak mampu lagi untuk melanjutkan pendidikan saya di sekolah tinggi.

Suami saya bekerja di Jogjakarta, pada akhirnya saya juga ikut dengannya. Tiga bulan bersamanya di Jogja rasa bosan menghampiri, saya hanya ingin beraktivitas dan keluar dari kontrakan rumah pengap yang disewa oleh suami. Akhirnya sama memutuskan untuk melamar kerja menjadi sales di salah satu perusahan online, Alhamdulillah saya diterima.

Singkat cerita, selama 6 bulan berada di Jogja dan 3 bulan bekerja, akhirnya saya hamil. Pada kandungan yang ke 8 bulan 15 hari saya ambil cuti, tiba saatnya pada usia kandungan 9 bulan 36 hari anak pertama saya lahir.

Seperti biasa dengan adat jawa dan kebetulan saya Islam, pada usianya yang ke-7 hari anak saya diberi nama Sukron Hidayat. Rasa sukur atas kelahiran anak ini saya rayakan dengan meriah dengan mengundang kerabat, teman dekat serta tetangga rumah di kampung, ya karena memang sejak Hidayat lahir, ibu saya dan mertua langsung membawanya pulang ke Wonosobo.

Selama saya melewati 90 hari bersamanya, saya dihubungi oleh pihak perusahaan meminta agar kembali ke Jogja untuk bekerja. Pada akhirnya saya menyusul suami dan rutin bolak-balik Jogja-Wonosobo di akhir pekan.

Dari sejak itu, anak saya pun sudah jarang sekali diberikan asupan ASI diganti dengan susu formula. Sebenarnya saya pribadi ingin memutus kontrak kerja, tapi pasti keputusan ini tidaklah gampang, banyak yang harus dipikirkan lagi. Yang jelas kebutuhan keluarga akan bertambah seiring datangnya si mungil di dalam keluarga. Terpaksa saya titipkan Hidayat bersama neneknya hingga ia berusia 7 tahun.

Pengalaman ini memberikan saya sedikit pelajaran yang berarti. Tentunya pada anak kedua nanti yang saat ini masih berada 3 bulan dalam kandungan, saya tidak ingin ia bernasib sama dengan kakaknya Hidayat yang tumbuh seperti anak kekurangan gizi, di mana setiap orang yang melihatnya selalu prihatin.

Tubuhnya kurus, penglihatannya sudah mulai terganggu, dan parahnya lagi ia sekarang sering sakit-sakitan. Dipastikan setiap akhir pekan belakangan ini aku sering membawanya ke puskesmas di kecamatan.

Hasilnya positif, Hidayat kekurangan gizi. Saya sendiri tidak tahu apa yang terjadi di rumah selama ia bersama neneknya, padahal saya tidak pernah membuat keluarga di kampung merasa kekurangan. Ya, karena bisa dibilang saya dan suami memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, apalagi jika untuk urusan makanan.

“Ma apakah ibu kamu tidak pernah dikasih uang buat ngerawat Dayat?” Tiba-tiba suami bertanya di dalam mobil sehabis pulang dari rumah sakit. “Uangnya mama buat untuk apa saja?” tegasnya kembali pada saya, seolah menuduh saya tidak pernah memberikan uang pada ibu saya.

“Ya Allah Pap, Demi Allah Mama tidak pernah mengambil uang sepeser pun ketika Papa ngasih uang saya langsung kasih ibu kok.”

“Terus kenapa ya Ma, kok anak kita bisa kekurangan gizi, kan kita bisa malu sama tetangga, seolah kerja kita hanya buat diri kita sendiri tidak buat anak kita,” suami saya jadi merasa bersalah.

“Ma salah satu di antara kita harus mengalah deh Ma, berhenti kerja,” ungkapnya kembali.

Mas Arman terus membujuk saya agar mau berhenti bekerja, bisa tinggal di Jogja maupun di Wonosobo. “Dari kemarin kita memang terlalu sibuk kerja ma, sampai lupa merawat anak kita sendiri, kan dampaknya jadi begini.” Suami saya tidak mau anak saya tidak terawat dengan baik.

Akhirnya saya keluar dari kantor, dan saya merawat Hidayat langsung di Jogja. Dari situ saya menyadari jika selama ini saya tidak pernah merawat anak, saya hanya merasa melahirkan saja tapi tidak di sampingnya selama ini. Hingga saya bingung bagaimana menjadi ibu.

Satu karena aku lulusan IPS di waktu SMA, dan selama ini pula saya percaya jika ibu di rumah, sebab ia orang yang telah membesarkan aku tentunya pikirku ia adalah orang yang berpengalaman, aku yakin dia bisa juga membesarkan Hidayat, ternyata itu salah.

Kata dokter ibu tetaplah panduan kehidupan terbaik buat anak-anaknya.

Dari situ saya belajar banyak hal, bagaimana memberikan nutrisi kepada anak, bahkan tidak malu belajar dari teman dekat,  serta sering konsultasi ke dokter. “Ibu harus rutin memberikan asupan makanan yang bergizi seperti sayur-sayuran dengan rutin,” demikian anjuran dokter.

“Untuk nafsu makannya, ibu bisa memberikan madu, agar makannya makin lahap” kata dokter lagi.

Dari situ anak saya mulai membaik dan perkembangan gizinya bertambah. Tentu saya baru merasa jika saya sebagai seorang ibu yang harus bertanggung jawab pada kesehatan gizi anak-anaknya.

Dari sini pula,  saya bisa menyimpulkan bahwa terkadang meningkatnya angka gizi buruk yang mencapai  5,7 % serta 13,9 % kekurangan gizi bukan disebabkan karena banyak penduduk Indonesia miskin, melainkan karena banyaknya orang tua yang tidak tahu apa saja makanan yang bergizi pada anak.

Ditambah lintas generasi. Semisal nenek dengan saya sendiri sebagai generasi melenial, mempunyai konteks yang berbeda. Kasusnya seperti saya menitipkan anak karena tuntutan urban, hingga menjadi penyebab anak kita tidak bisa terkontrol dengan baik, walaupun secara materi bisa kita berikan.

Oleh karena itu bunda, hati dan pendekatan orang tua pada anaknya adalah yang paling baik untuk perkembangannya dibadingkan orang lain walaupun itu termasuk dari keluarga kita sendiri. Karena naluri seorang ibu akan selalu mempunyai nilai jauh lebih berarti kepada anaknya.

*Cerita di atas berdasar kisah teman saya, Yuli (nama samaran) yang diceritakan ke Tim Tutur Mama

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here