Tak Semua Perilaku Ibu Pada Anaknya Baik, Kadang Malah Menghancurkan Mentalnya

0
390
ibu berlaku buruk

Tak ada larangan bagi setiap ibu untuk mencintai dan menyayangi  anaknya sendiri, sebab memang sudah tugasnya sebagai seorang ibu yang melahirkannya. Tapi, tidak semua kasih sayang yang diberikan menghasilkan efek positif pada anak. Jika caranya salah, hal itu malah dapat menghancurkan mentalnya. Banyak kasus demikian terjadi dan  saya sendiri merasakan hal itu terjadi pada anak peremppuan saya.

Hubungan saya dengan anak pada mulanya baik, tapi semenjak dia SMA mulai memburuk dan dia menjauh. Sejak itu saya sadar jika pola asuh yang saya terapkan memiliki kesalahan. Walau hanya ada satu niat dari tindakan itu, yaitu demi  masa depan dia.

Nama anak saya adalah Indah. Saya selalu merawatnya dengan rasa was-was karena tak ingin dirinya terjebak dalam dunia gelap di masa depan. Layaknya seorang ibu, merawat anak perempuan harus ekstra hati-hati, berbeda dengan merawat anak laki-laki. Anak perempuan lebih rentan dan berisiko, hamil di luar pernikahan bisa menghancurkan masa depannya.

Hal itulah yang menjadi masalah besar selama membesarkan Indah. Selain bersyukur karena Ia menjadi permata keluarga, saya juga waswas, selalu waspada. Sebab itu saya tak mau jauh darinya.

Layaknya permata, Indah harus selalu dirawat dan dijaga setiap waktu. Bahkan, semenjak kecil saya selalu ada di sampingnya, baik saat Indah pergi jauh di acara liburan sekolah,  maupun kegiatan ulang tahun temannya. Hal itu berlaku sampai saat Ia SMA, saya selalu disampingnya memantau segala kegiatan.

Saya selalu berusaha mengontrolnya sepanjang waktu. Keterlaluan memang.

Selain itu, masih banyak cara lain untuk mengontrol Indah. Selain menemaninya setiap kali pergi, saya juga mendekati teman-temannya. Kelakuan ini dianggap sangat wajar bagi seorang ibu yang sayang anaknya. Prinsipnya, seorang ibu harus tahu banyak informasi tentang anak perempuannya sebagai bentuk kepedulian padanya.

Tapi semua yang saya lakukan malah membuat Indah kehilangan kendali sehingga kerap menolak kasih sayang ibunya.

Ia mulai sering protes tiap kali saya mau ikut acara-acara sekolahnya. Ia pernah marah di pagi hari saat mencoba ikut membantu urusan rumah tangga, seperti memasak dan belanja sebab saya melarangnya.

Dalam aturan saya, Indah memang dimanja, tidak boleh ikut urusan rumah tangga termasuk dapur, “ Pokoknya  Indah harus fokus sekolah, belajar, dan Les. Itu saja. Biar mama yang urusin pekerjaan rumah. Indah cukup belajar,” kata saya.

Beberapa alasan lain tidak bisa dimengerti Iindah. Saya kerap memarahinya karena kehilangan kendali. Pada saat itu saya berpikir, kenapa anak yang semula disayang justru berbalik melawan.

Suatu hari indah sangat marah hingga membentak saya. Tensi darah saya seketika ikut naik, larut dalam pertikain antara ibu dan anak. Kejadian  itu sangat membekas di hati saya. Bagaimana mungkin darah daging sendiri yang saya rawat sepenuh hati, diberi suplemen madu setiap hari, dan susu sebelum tidur malah tidak berterimakasih.

“Kamu telah kubesarkan, kamu telah aku rawat dengan baik, aku berikan fasilitas tanpa pamrih, menyekolahkanmu, bekerja setiap hari tanpa lelah, dan tak pernah mengeluh di depanmu, Indah,” ungkapku.

Kalimat itu terucap begitu saja. Saya tak sadar ikut terbawa emosi yang seharusnya tak saya katakan padanya.

Seketika itu, Indah yang baru pulang dari acara ulang tahun temannya langsung lari ke kamar tanpa aku tau terlebih dahulu alasan kemarahanya, serta apa yang terjadi padanya. Hingga kenapa aku harus juga marah-marah dan membentaknya hingga ia jadi paranoid.

Ia menutup pintu, akhirnya saya juga lari mengejarnya. Ternyata ia telah mengunci kamarnya dari dalam, membuat aku semakin khawatir padanya.  dan aku juga mengetuk-ngetuk pintu sembari memanggil-manggil namanya.

“Indah sayang, buka pintunya dong.”

Ia tetap tidak mau membukanya, tangisnya aku dengar membuatku makin merasa bersalah dan kasihan padanya. Pasti ia menganggap ibunya buruk. Kini rasa panik muncul karena tak tega melihatnya menagis terlalu lama, apalagi bentakan itu semakin membuat ia trauma.

 

“ Mama jahat, mama mempermalukan indah di depan teman-teman,” teriaknya dari dalam kamar.

“Mama salah apa, sayang? apa yang mama lakukan bikin Indah malu? Apa Indah malu punya ibu seperti mama?” tanyaku padanya.

“Kenapa selalu ikuti indah ke mana saja pergi.  Indah sudah gede, enggak mau dibilang anak manja.”

“Mama cuma khawatir anak mama terjerumus hal-hal buruk. Sebab itu, mama selalu ingin bersama Indah.”

“Enggak juga gitu caranya, ma, setiap hari Indah selalu dikatain anak mama. Indah malu. Indah sudah sering bilang sama mama buat jadi  anak yang baik, enggak mungkin ngelakuin hal buruk yang buat mama malu,” ungkapnya di balik pintu.

Saya sangat khawatir, namanya seorang ibu. Godaan lingkungan bisa membuatnya terpengaruh. “Dipaksa, habis itu coba-coba, hingga menjadi candu. apa yang tidak mungkin di zaman sekarang. Apa yang kita pertahankan selama ini bisa saja runtuh dalam waktu singkat,” aku membatin.

Haruskah saya melepas Indah begitu saja dengan modal kepercayaan semata? memberikan kebebasan seluas mungkin. Bagaimana kalau kebebasan membuatnya terjebak pada narkoba, sex bebas, dan miras. Itu membuat aku takut.

Saya menangkap hal penting dari pertikaian antara indah dan saya. Saya harus lebih peka sebagai ibu. Sebenarnya, saya bisa percaya. Ia berjanji menjaga dirinya demi ibu yang disayanginya. Tapi, yang membuatnya tidak terima adalah campur tangan ibunya dalam setiap tindakan dan hal itu membuat hungungan kami sedikit memburuk.

Sejak kejadian itu saya sadar, proses tumbuh kembang anak memiliki cerita sendiri. Kapan Indah harus selalu bersama bundanya, kapan pula ia harus tumbuh bersama lingkunganya.

Ibu hanya jadi tempat bersandar ketika ia mengeluh atau ada masalah yang tidak bisa diatasi sendiri.

Sebenarnya, rasa cemasku selama ini berlebihan. Tugas paling penting buat ibu adalah membangun kepercaayan di antara ibu dan anak. Jangan terus ditekan sebab hal itu mebuat anak menjauh dari ibunya sendiri. Percayalah pada anak sendiri.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here