Tempat si Bungsu

Published by Rezki Amalya on

Tuturmama Mempunyai seorang kakak adalah hal yang diinginkan beberapa orang. Sering kali teman dan rekanku merasa ingin berada di posisiku sebagai anak bungsu. Semata-mata agar dapat merasakan bagaimana menjadi seorang adik dan mendapatkan kasih sayang dari seorang kakak.

Mempunyai seorang saudara yang lebih tua memang menyenangkan. Aku sering mendapat perlindungan dan mendapatkan uang jajan tambahan darinya. Terkadang kakakku juga mentraktirku.

Tetapi, mempunyai kakak tak selamanya menyenangkan bagi si bungsu sepertiku. Kerap kali aku merasa terlalu jauh darinya dari segi apa pun, terutama di mata orang tuaku.

Kakakku itu sedang menempuh pendidikan di bangku perkuliahan dan dia telah berpenghasilan. Benar, ia bekerja paruh waktu sembari mengejar pendidikannya di salah satu kota yang cukup besar.

Aku sendiri masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Usia kami tak terlalu jauh dan kami sama-sama perempuan.

Aku mulai merasa dibedakan sejak libur semester pekan lalu.

Orang tuaku kerap kali membanggakan kakakku sebagai anak pertamanya dan akan menjadikanku sebagai pembanding karena terlalu banyak diam di matanya. Aku memang anak yang pendiam dan jarang berbicara.

Meski mereka tak tahu, aku diam-diam sering mencari info pekerjaan ataupun mengerjakan tugas orang lain demi mendapatkan bayaran.

Fakta-Fakta di Balik Anak Sulung, Tengah, Bungsu, dan Tunggal

Ibu selalu menuntutku untuk menjadi seperti kakak. Dia selalu mengatakan umur tak selamanya menjadi penghambat untuk mendapatkan pekerjaan.

Saat mendengar itu rasanya hatiku begitu terluka. Jika berbicara dengan teman-temannya pun, yang dibanggakan hanya kakakku. Selalu saja dia.

Maka dari itu aku juga berinisiatif untuk mencari pekerjaan paruh waktu meski sedikit sulit untuk anak sebayaku.

Tempat si Bungsu dalam Keluarga

 

Hari ini aku merasa dibandingkan lagi.

Aku pulang terlambat karena harus menyelesaikan tugas sekolahku. Karena tugas ini tugas kelompok, maka aku pergi ke rumah temanku untuk mengerjakannya.

Tugas yang satu ini kuakui cukup sulit. Buktinya, kami semua baru pulang ketika langit mulai gelap dan memasuki pukul sembilan malam.

Saat itu baterai ponselku habis dan mati total. Aku jadi tak sempat memberi kabar orang di rumah bahwa aku akan pulang terlambat.

Saat pulang, aku langsung disambut oleh kemarahan ibu. Tentu saja aku terkejut. Aku pun mencoba menjelaskan situasi yang terjadi tetapi, ia tak mendengarkanku.

Sekali lagi ia membandingkan aku dengan kakakku. “Lihat kakakmu, dia tidak pernah pulang sampai larut malam begini. Kamu ini sukanya keluyuran,” omelnya dengan sedikit gertakan.

Aku mencoba menjelaskan kronologinya secara pelan. Tetapi, ibuku takmendengarkan penjelasanku.

Rasanya aku ingin lari saat itu. Apa pun yang aku katakan tak ibu dengar. Sebagai si bungsu, aku merasa tidak punya tempat dalam keluarga.

Lagi-lagi selalu kakak. Selalu dia yang lebih baik di mata orang tuaku.

Ciri Orang Tua Egois pada Anak, Apakah Anda Termasuk?

Sedangkan aku di matanya hanya anak pendiam yang tak mengerjakan apa-apa. Seperti seorang anak nakal yang tak kenal waktu. Padahal aku juga sedang berusaha.

Dalam  hal-hal kecil pun kakak selalu lebih baik di matanya. Terkadang aku merasa bukan anak dari ibuku.

Sangat jelas, rasa sayangnya lebih besar untuk si Sulung. Sedangkan aku si Bungsu juga menginginkan itu.

Bukankah aku yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih? Apakah karena kakakku telah mendapatkan pekerjaan? Apa karena itu kakak mendapatkan tempat nomor satu di hati ibu?

Si Bungsu juga Butuh Kasih Sayang

Terkadang, ibu sering membeli baju baru untuk kakak. Ketika aku bertanya di mana punyaku, dia selalu bilang bahwa kakakku lebih butuh padahal kami sama-sama butuh.

Tak jarang aku menyampaikan keluh kesahku kepada kakakku sendiri dan aku bersyukur ia memahamiku dan selalu bisa membuatku merasa baik setelah bercerita padanya.

Masalahnya bukan di kakakku. Dia adalah orang baik. Hanya saja, cara orang tua kami dalam memandang tak begitu baik.

Orang tuaku tidak bisa membagi perhatiannya secara adil untuk si Sulung dan si Bungsu. Terutama ibuku.

Kata-katanya terkadang menyakitkan. Meskipun hanya hal kecil, kakakku selalu mendapatkan tempat pertama di keluargaku.

Terbukti ketika aku pernah mendapatkan penghargaan di suatu acara bergengsi. Saat itu kakakku juga mendapatkan penghargaan, tetapi posisiku lebih unggul darinya.

Saat pulang aku merasa senang karena mendapat juara kedua, aku dapat membuktikan kepada ibu bahwa aku juga anak yang pintar. Tetapi harapan dan ekspektasiku tak sesuai dengan kenyataan.

Rupanya kakakku lebih disambut. Ia tetap jadi nomor satu di mata ibu.

Buruknya 8 Dampak Orang Tua Pilih Kasih Terhadap Anak

Senyum yang kubawa pulang itu perlahan sirna. Ada perasaan sesak kala melihat ibu tersenyum riang saat melihat kakakku membawa pulang piala.

Padahal di sana ada aku juga, yang turut mendapatkan penghargaan lebih tinggi. Tetapi senyum yang kudapat dari ibu hanya sebatas senyuman. Tidak ada binar di matanya.

Dia kembali membangga-banggakan kakakku, memberitahu kepada dunia betapa hebatnya kakakku. Lantas, bagaimana denganku? Di mana tempatku?

Aku menurunkan piala yang kubawa dengan lunglai dan menuju kamar. Kakakku telah menjelaskannya kepada ibu. Tetapi memang, ibuku selalu menganggapnya hal biasa.

Bersikap Adil pada Anak Itu Penting

Menjadi si bungsu tak selamanya menyenangkan. Jika kakakmu lebih unggul, kau hanya akan menjadi pembanding.

Jika kakakmu menang di suatu lomba, kau juga hanya akan menjadi seorang pembanding.

Di keluargaku, sulung selalu berada di tempat pertama. Sedangkan si Bungsu berada di tempat terakhir yang jauh.

Mempunyai kakak itu adalah suatu anugerah yang tak bisa semua orang dapatkan. Aku senang menjadi salah satu penerima anugerah tersebut.

Hanya saja, cara orang tuaku yang tidak adil dalam memberikan kasih sayang membuatku tak senang menjadi anak bungsu.  Aku sangat ingin merasakan posisi kakakku meski sebentar saja.

Jika teman-temanku berkata ingin berada di tempatku, aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman.

Semoga saja ke depannya, orang tuaku mengerti bahwa aku dan kakakku memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Agar mereka dapat membagi kasih sayangnya dengan adil.

Sumber Gambar: livingly.com

Anak Percaya Diri Berasal dari Ucapan Mama


Rezki Amalya

Penyuka Sastra. Selamat menikmati tulisanku dan semoga bermanfaat.

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

dhankasri hindisextube.net hot bhabi naked rebecca linares videos apacams.com www tamilsexvidoes lamalink sexindiantube.net chudi vidio sex mns indianpornsluts.com hd xnxxx shaving pussy indianbesttubeclips.com english blue sex video
savita bhabhi xvideos indianxtubes.com xxx bombay live adult tv desitubeporn.com mobikama telugu chines sex video indianpornsource.com video sex blue film sex chatroom indianpornmms.net old man xnxx aishwarya rai xxx videos bananocams.com sex hd
you tube xxx desixxxv.net xossip english stories sanchita shetty pakistaniporns.com mom sex video cfnm video greatxxxtube.com sex marathi videos mmm xxx indianpornv.com sexxxsex xvideosindia indianhardcoreporn.com ajmer sex video