Tidak Ada Ibu Sempurna di Dunia Ini, Tapi Selalu Ada Ibu yang Dicintai Anaknya

Tidak Ada Ibu Sempurna di Dunia Ini, Tapi Selalu Ada Ibu yang Dicintai Anaknya

“Kau begitu sempurna. Di mataku kau begitu indah…”

Lirik dari grup band itu sanjungan yang amat ingin di dengar semua wanita. Semua istri akan senang saat seorang suami mengatakan kalau istrinya adalah perempuan terbaik di dunia. Apalagi kalau diucapkan di depan teman-teman kantor atau dituliskan di caption media sosial dia.

Saya sih gitu.

Rasanya tuh seneng campur bangga kalau diakui di depan publik. Hehe.

Meski begitu, tetap saja, sebenarnya saya bukan seorang istri yang sempurna. Masih terlalu banyak kekurangan yang menempel di diri. kalau disebutin mungkin terlalu banyak dan butuh waktu berhari-hari buat diceritai. Namanya juga manusia biasa, sehebat apapun saya berusaha, tetep banyak kekurangan yang musti ditambal disana-sini.

Baca Juga: Sekolah Terbaik adalah Sekolah yang Membuat Anak Nyaman dan Gembira

Tugas kita hanyalah terus belajar tanpa berhenti. Belajar dari satu kesalahan untuk mempeerbaikinya. Saya selalu mencoba mengambil pelajaran dari setiap kesalahan yang saya buat.

Terutama kesalahan saya dalam merawat si kecil Angga.

Seringkali saya merasa menyesal usai memarahi Angga. Saat masih menyusui, kadang saya mengabaikannya. Ya, namanya juga bayi. Dia selalu minta ASI dua jam sekali, kan. Enggak peduli siang atau malam. Enggak peduli ibunya sedang sehat atau sakit.

Di sanalah saya sering enggak sabaran. Kalau kondisi badan lagi enggak fit nih, bawaanya pengin marah mulu. Angga semungil itu yang belum bisa ngomong dan ngurusin kebutuhannya sendiri jadi korban sasaran kemarahan saya.

Suatu kali waktu saya sedang kena flu dan demam, saya membiarkannya saja menangis minta ASI. Saya kelewat pusing dan ogah-ogahan nenenin dia. Ya udah deh, saya bangunin suami yang udah tidur pules buat ngasih dia susu formula. Eh,pas dibikinin si bayi enggak  mau minum. Akhirnya suami yang begadang nenangin dia sampai akhirnya si bayi mau minum juga.

Sementara saya sudah tidur sendirian di kamar meninggalkan mereka berdua.

Tiap kali ingat itu, bawaanya pengen nangis mulu. Inget kesalahan lama saat membiarkan si bayi menangis. Padahal waktu itu Angga belum berumur dua tahun. Ya, bunda tahu sendirilah, umur segitu harusnya seorang ibu harus ngasih ASI sebanyak yang bayi mau. Tapi itu terjadi sebab emosi yang udah enggak bisa saya tahan.

Baca Juga: Cara Agar Seorang Ibu Tidak Depresi Setelah Melahirkan

Lain waktu saat Angga sudah sudah agak gede dan ngerti banyak hal, soal paling utama adalah perhatian. Saya sudah kembali bekerja dengan waktu yang sangat padat. Dari jam 9 sampai jam lima sore. Ditambah dengan jarak tempuh sampai kantor yang cukup jauh plus jalan macet tiap pulang kerja. Akhirnya waktu ngeliat Angga sangat sedikit, kasian banget.

Tiap liat ibunya pulang, bawaanya dia selalu manja. Lompat-lompat minta digendong dan dideongengin tiap malem. Seringkali saya menolak membacakan dongeng untuknya sebab rasa capek yang sudah tidak tertahankan.

Meski ngambek, saya tinggalin Angga di kamarnya. Dia selalu menangis kencang dan suamilah yang akhirnya mengalah mau menemani.

Kalau nemenin Angga tidur, saya enggak sepenuhnya fokus ke dia. Tangan kanan peluk badannya, tangan kiri ngumpet-ngumpet pegang Gadget buka instagram liat tokok online. Itu berarti kan si Angga dikasih setengah perhatian. Atau perhatian palus malah.

Kalau dia ceita sebelum bobok, saya iyain aja tanpa mendengarkan apa yang sebenarnya diceritain sama anak itu. Ya Tuhan, banyak banget dosak ibu satu anak ini. Huhuhu.

Ibu saya yang jauh lebih berpengalaman sering bilangin, kalau saya perlu mengurangi pegang Gadget waktu ngasuh anak. Bikin enggak fokus ngerawat Angga. Ya, bener juga sih. Tapi gimana lagi coba, waktu itu Ibunya Angga emang lagi kerja keras dari pagi sampai pagi lagi. Berangkat pagi tanpa mikir apapun selain kerjaan.

Nah, pas pulang waktunya deh bersosial. Kadang ngumpul sama temen di caffe mana gitu sampai agak malem. Jadi pas sampai rumah, Angga udah tidur. Giliran pulang ke rumah, emaknya Angga lebih suka megang handphone atau buka laptop buat buka media sosial atau negramein grup wasap emak-emak muda.

Baca Juga: Saat Dua Anak Cemburu dan Saling Berebut Perhatian Orang Tua

Andai saja saya jadi ibu di zaman dulu, mungkin godaannya enggak sebanyak sekarang. Bisa fokus ngerawat anak tanpa takut diganggu facebook, instagram, path, atau online shop.

Seorang istri bukanlah Supermom yang sempurna tanpa celah kekurangan.

Saya menyadari hal itu sepenuhnya. Pernah lho saya memutuskan untuk menggunakan Baby Sister (BB) buat ngerawat Angga. Saya tak punya pilihan lain sebab aktivitas saya bertambah padat. Selain bekerja juga saya kuliah mengambil kelas malam sampai jam setengah sepuluh.

Betapa capek hidup dengan aktivitas sepadat itu. pagi bekerja malam kuliah. Saya lakukan itu mumpung umur masih memungkinkan. Sebelum terlambat, begitu pembenaran saya. Meski, ya, Angga jadi benar-benar lepas dari perhatian ibunya.

Lambat laun, Angga jadi lebih dekat dengan BB-nya. Sebab kebutuhan sehari-hari Angga selalu dipenuhi oleh BB. Dari makan, tidur, sampai bermain selalu dengannya. 

Tiga bulan setelah bersama BB, saya mulai menyadari adanya perasaan menjauh dari si kecil. Ia tidak lagi mencari saya sesering dulu kala. Intensitasnya berkurang drastis dan beralih pada BB.

Saya kehilangan Angga tiap kali pulang bekerja sebab dia sudah tidur setelah diceritakan dongeng oleh BB.

Sempat Angga belum tertidur ketika saya pulang. Tetapi ia bersikap cuek dan tidak mempedulikan saya sama sekali. Ibu mana yang tak kesal saat pulang kerja tetapi malah diabaikan anak kandungnya sendiri.

Baca Juga: Wahai, Ibu.. Menyesalah Bila Kesibukanmu Membuat Jauh Dari Anak

Saya coba gendong tetapi Angga menolak dengan kasar. Bukannya mengiyakan permintaannya, saya malah marah pada Angga. Emaknya membentak sampai Angga menangis meraung-raung sangat keras.

Melihat seorang anak menangis keras, saya hanya dapat menghelas nafas. Memngurungkan segala keinginan saya untuk mendapat sedikit perhatian darinya. Mungkin saya yang salah telah bersikap egois dengan mengharap perhatian padahal saya tak pernah memperhatikannya.

Benar saya bekerja keras untuk Angga. Benar saya mau melanjutkan kuliah di malam hari demi Angga. Tetapi apakah benar kalau semnua hal itu terasa penting bagi anak seusianya? Saya pikir tidak sama sekali.

Anak seusia Angga hanya ingin bermain bareng ibunya. Menghabiskan waktu lebih banyak agar saat bangun dapat melihat ibu dan sebelum tidur mendapat kecupan di dahi dari ibunya.

Bahkan kalau kemudian Angga menjadi lebih dekat dengan si BB, mungkin itu sangat wajar.

Saya hanya bisa berinstorpeksi, merenung lebih dalam sendirian setiap malam. Maaf, saya menjadi begitu sentimentil mengenang masa itu.

Lalu, apa saat ini Angga masih jauh dari saya?

Sayangnya iya, meski dalam kadar yang lebih sedikit. Kuliah saya hampir selesai dan waktu-waktu di rumah lebih banyak. Juga ada akhir pekan yang saya punyai. Yang dapat emak Angga lakukan hanyalah memaksakan diri lebih lama untuk bertahan bersamanya. Walau tubuh terasa sangat lelah. Atau tubuh tengah sakit sekali pun.

Saya selalu berusaha tersenyum dan ikut bergembira saat Angga bermain mobil-mobilan. Berusaha membuatnya tertawa tiap kali saya berada di rumah. Meski kedekatannya bersama BB masih sangat dekat. Tak apa. Berkurangnya kedekatan Angga dengan ibunya tetaplah kesalahan yang harus saya tanggung.

Baca Juga: Selagi Ada Waktu, Habiskanlah Bersama Anak. Sebelum Semuanya Terlambat

Ibu akan selalu berusaha mengembalikan kehangatan kita berdua, Angga. Sedekat saat kamu berada dalam rahimku. Begitu dekat. Sangat dekat.

Sorry, Son… I’m not a supermom.

anak susah makan

Comments

Close Menu