Tips Buat Ibu-Ibu yang Suka Pindah Rumah

Tips Buat Ibu-Ibu yang Suka Pindah Rumah

Rempong gak sih Bunda, tiap tahun selalu pindah rumah..? Udah nyaman sama tetangga-tetangga sekitar, eehh tahu-tahu suami harus pindah tugas. Sudah beli perabot ini itu, eh mesti dijual lagi karena tidak bisa dibawa ke rumah baru.

Anak sudah mulai betah sekolah, eh dia harus adaptasi lagi dengan sekolah baru. Inilah lika liku ibu-ibu kontrakan. Ibu-ibu nomaden yang harus ikut suami kemana pun dia negara membutuhkan tenaganya.

Nah, beberapakali mengalami hidup berpindah pindah, yang memang resiko menjadi abdi negara membuat saya mengambil beberapa pelajaran.

Meskipun pada kenyataannya kami tidak belum mempraktekkan semuanya [ upss ]. Yah ini hanya ditulis agar jika akan mengalami perpindahan berikutnya.

Pertama, tidak membeli barang-barang berat yang penggunaannya pun tidak begitu dipakai.

Rak buku segede gajah? Piring gelas berjibun banyak macam-macamnya? Sudahlah beli secukupnya saja. Alat-alat rumah tangga maksimal cukuplah satu lusin. Lagipula tidak setiap hari piring dan gelas makan itu berganti bukan? Panci beli saja yang All in One, yang bisa untuk goreng, manggang, ngukus, dan lainnya.

Kedua, jika misal perlu beli barang berat, cukuplah beli yang “second” saja. Yang murah. Namun teliti juga tidak murahan.

Disini harus menurunkan standar gengsi, toh yang dicari manfaat, bukan mau lomba to hehe. Ini bertujuan agar nantinya ketika berpindah tidak eman misal harus ditinggal atau dihibahkan.

Ketiga, baju-baju sebenarnya juga seperlunya saja, kalo saya sengaja dibagi tiga tempat ditempat rantau, dirumah orang tua dan ditempat mertua, ini sangat mengurangi beban, minimal ketika mudik, tinggal lenggang kangkung. Tidak perlu bawa baju-baju lagi.

Keempat, jikapun harus mengangkut barang-barang berharga ke tempat yang baru, pikirkan kembali biaya angkut dan resiko kerusakan. Untuk yg anti pecah, seperti baju dan kain, buku-buku bolehlah dipaket via pos saja. Terpercaya dan lebih terjangkau.

Kelima,  nah, ini biasanya yang perlu dipikirkan ketika anak-anak sudah bersekolah ditingkat sekolah dasar, karena memang sedikit ribet memindahkan anak sekolah apalagi jika lintas propinsi. Maka dari itu sejak awal jika memang tau sering berpindah pindah sebaiknya memilih sekolah yang kooperatif akan hal ini.

Ada sekolah yang memfasilitasi tetek mbengek administrasi kepindahan, sehingga ketika mau pindah tinggal membuat surat pernyataan ditambah raport asli “cling” besok diambil tinggal diserahkan ke pihak sekolah yang baru.

Namun ada juga sekolah yang memang menyuruh urusan surat pindah sekolah mandiri, artinya pihak sekolah hanya memberi keterangan anak akan pindah sekolah, lantas kita mencari persetujuan(tanda tangan) sendiri ke kasudin kecamatan, lantas walikota/kabupaten, lintas propinsi.

Tidak kalah penting adalah menyiapkan mental dan kondisi anak. Tak jarang anak akan mulai memberontak bila pindah-pindah terus. Dia jadi sulit beradaptasi dengan lingkungan dan teman-temannya. Tanamkan dalam diri anak pengertian dan pemahaman bahwa pindah rumah berarti akan menemui banyak hal baru. Teman baru.

Demikian sedikit tata cara jika kita memilih atau kebetulan ditakdirkan hidup nomaden. Apapun itu perlu disyukuri, inilah seninya hidup, harus bergerak, yang jelas segala keribetan jika dinikmati, menjadi sebuah pengalaman berharga.

Hidup berpindah-pindah apapun itu, merupakan sebuah skenario Allah agar yang menjalani bisa banyak belajar, yang jelas banyak teman, saudara, yang berbeda satu sama lain akan bahasa, adat istiadatnya, tata krama dan unggah ungguhnya. Semua itu harusnya membuat yang menjalani lebih bijak dan dewasa.

Satu hal lagi, setiap tempat adalah kesempatan menempa diri dan keluarga, sehingga daya tahan menjadi lebih kebal akan tantangan hidup didunia, serta ladang mencari amal ataupun menebarkan ilmu yang bermanfaat lebih banyak lagi, sebagai bekal dikehidupan kampung akhirat nanti.

Saya sendiri telah melewati perjalanan dari Purwoerjo menuju Jogja, lalu melaju ke Tangerang Selatan. Kembali lagi ke Purworejo, terus ke Jakarta. Dan kemudian touch down di Jogja. Esok? entak akan kemana lagi. Wallahu’alam..

Ditulis oleh: Anindya S

Comments

Anindya

Istri sekaligus ibu yang hidupnya nomaden.
Close Menu