Tugas Seorang Istri Itu Berat dan Melelahkan. Sayangnya, Suami Tidak Pernah Mengerti

Tugas Seorang Istri Itu Berat dan Melelahkan. Sayangnya, Suami Tidak Pernah Mengerti

Sore itu, satu minggu yang lalu, saya pulang ke rumah usai bekerja. Jadwal pulang yang biasanya pada jam empat bertambah satu jam sebab masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan di kantor. Jadi, saya pulang jam lima sore.

Terkadang saya memang pulang lebih lama sebab tidak enak rasanya menunda pekerjaan yang seharusnya diselesaikan.

Meski lebih larut, tetapi saya lega. Sebab sesampainya di rumah, saya bisa beristirahat dengan tenang tanpa memikirkan beban pekerjaan yang menumpuk. Itu jauh lebih baik.

Saya sampai di rumah dan membuka pintu. Rumah terlihat sepi, lampu ruang tamu belum nyala dan beberapa barang terlihat masih berantakan.

Baca juga: Tidak Ada Ibu Sempurna di Dunia Ini, Tapi Selalu Ada Ibu yang Dicintai Anaknya

Tumben sekali, sebab biasanya saya pulang dengan melihat rumah yang rapi dan suasana yang hangat. Istri saya tidak suka rumah berantakan dan ia selalu sigap membereskan segalanya.

Tetapi tidak sore ini. Saya mendapati istri tengah bersantai di kamar. Dasar saya sudah capek dan kesal. Saya marah padanya sebab membiarkan rumah berantakan tidak terurus.

Sebagai istri yang baik, seharusnya ia mengurus rumah sebaik mungkin. Tetapi malah membiarkan saja berantakan dan memilih berleha-leha dalam kamar.

**

Istri saya, Yona, adalah seorang wanita karir. Dia menghabiskan hari-harinya dengan bekerja di kantor yang terletak cukup jauh dari rumah kami. Saya pun bekerja. Kami berdua sama-sama sibuk. Hanya saja, setelah menikah, kesibukan Yona bertambah dari sekadar pekerjaan kantor pada pekerjaan rumah.

Mulai dari menyiapkan sarapan untuk saya, membersihkan rumah, dan lain sebagainya. Setiap pagi ia bangun lebih pagi dari saya dan mulai menyiapkan banyak hal. Awalnya saya cuek. Menganggap itu memang tugas seorang istri yang harus ia lakukan. Toh Yona tanpak menikmati peran barunya itu.

Begitu terus setiap hari. Bangung pagi, sarapan bersama, berangkat bekerja, dan pulang sore hari. Tetapi Yona tidak kemudian langsung beristirahat. Ia melanjutkan beberapa pekerjaan rumah yang masih menggunung seperti bikin makan malam atau mencuci baju. Ya, dia sangat tangguh dan seperti banyak tenaga.

Itu sebabnya saya marah sore itu. Sebab istri saya mendadak jadi malas. Saya sudah membayangkan suasana rumah yang bersih saat pulang, tetapi malah dikecewakan dengan kenyataan ini.

Saya pikir ini bukan situasi yang nyaman, sehingga, ya saya marah.

Baca juga: Jadilah Ibu yang Sabar dan Penyayang Bukan Pemarah

Tetapi kala itu saya benar-benar di luar kontrol, kemarahan seperti hanya dampak dari rasa letih yang bertumpuk dalam tubuh. Sayangnya, Yona juga tengah capek. Dan ia berbalik marah pada saya.

Selanjutnya, yang terjadi adalah pertengkaran rumah tangga sepasang pengantin muda.

Bagian pertengkaran tentu tidak menarik untuk diceritakan. Hanya saja, Yona akhirnya mau bercerita betapa lelahnya dia.

Betapa pekerjaa rumah tangga dan kantor yang harus dikerjakan setiap hari membuat tenaganya habis terkuras tak bersisa. Dan saya, suaminya, malah marah-marah tanpa pernah belajar mengerti bahwa menjadi istri yang bekerja seharian penuh itu tidak mudah.

Akhirnya saya menyerah. Memilih diam dan membiarkan Yona bicara semaunya selama ia mau. Salah seorang memang harus mengalah dan diam saat pertengkaran terjadi. Dan pada kesempatan kali ini, saya yang mengalah dan diam.

Sampai pada suatu ucapan yang mengena telak pada diri saya. Ya, dia bilang lelah harus selalu mengalah mengerjakan segalanya sementara suaminya ini tidak pernah mau membantu. Memang saya biasanya bekerja lebih alam di kantor, tetapi soal rumah hanya ditangani Yona.

Saya lebih suka nonton tivi atau minum kopi.

Baca juga: Mah, Ajarkan Anak Berani Melawan Bully Bukan Menghindari Bully

Seakan pekerjaan dalam rumah bukanlah tanggung jawab seorang suami. Itu hanya tanggung jawab istri. Padahal saya juga tinggal di dalam rumah. Istri saya bilang, kamu hanya merasakan rumah sebagai surga tempat beristirahat, bukan tempat tinggal yang perlu dirawat dan dijaga.

Di rumah, saya tinggal seperti orang datang ke penginapan. Tinggal makan dan tidur. Sementara Yona menjadikan rumah sebagai tempat bekerja yang lain.

Ia dituntut untuk menjadi koki, tukang bersih-bersih, atau segala macam jenis pekerjaan lain. singkat kata, seorang istri memiliki banyak sekali peran berbeda dalam rumah.

Nah, kalau saya, sesekali memang dapat pekerjaan seperti membenarkan genteng yang bocor, angkat-ngkat barang berat. Tetapi itu hanya sesekali, bukan setiap hari. Ya, pekerjaan tambahan saya sangat sedikit dan jarang terjadi. Itu benar. Saya akui.

Kira-kira demikianlah apa yang istri kecintaan saya itu katakan. Pertengkaran itu terjadi saat saya masih berdiri di depan pintu kamar dengan pakaian kantor lengkap. Tidak terlalu lama memang sebab diam membuat pertengkaran cepat selesai.

Namun dampaknya cukup panjang. Istri saya itu, seperti tangah membuktikan betapa berat pekerjaannya. Pagi setelahnya ia membiarkan saya memasakan sarapan sendiri. Tentu saja rasanya tidak enak dan  butuh waktu lebih lama untuk membuat masakan. Duh, susah juga masak ini.

Hampir saja say aterlambat masuk kantor sebab membuat sarapan terlebih dahulu. Kalau selama satu minggu saya buat sarapan sendiri, mungkin saya akan benar-benar terlambat sebab kelelahan. Lalu bagaimana istri saya yang sudah berbulan-bulan lamanya menyiapkan sarapan buat saya. ditambah mencuci baju, ditambah menyapu rumah dan sebagainya dan sebagainya. Banyak sekali. Pasti capek luar biasa.

Di kantor, pikiran itu membayang membuat saya tidak cukup konsentrasi bekerja hari itu. Hmm, saya berpikir bahwa istri saya bekerja dengan banyak beban pikiran ynag tertinggal di rumah.

Baca juga: Lakukan Hal Ini Agar Suami Bunda Menjadi Seorang Ayah yang Hebat

Berat sekali jadi istri plus seorang wanita karir. Beban pekerjaan jadi bertambah dan membuat waktu beristirahat atau bersenag-senang jadi berkurang drastis. Hidup seakan diperuntukkan hanya untuk bekerja.

Padahal setiap orang seharusnya bisa merasakan waktu luang untuk bersantai atau bersenang-senang. Tetapi seorang istri bekerja keras. Bekerja terlalu banyak melebihi keharusannya.

Hari itu saya benar-benar tidak konsentrasi dan ingin segera menyelesaikan pekerjaan. Ingin segera pulang menemui istri dan mencoba tersenyum atau apalah sebagai bentuk permintaan maaf.

Tidak seharusnya saya langsung marah saat melihat kondisi rumah berantakan, tidak dapat sambutan yang hangat dari istri, dan lain sebagainya. Mungking saya bisa belajar untuk lebih mengerti bahwa tugas seorang istri benar-benar berat. Tetapi laki-laki seringkali merasa kalau pekerjaannya lebih berat. Padahal itu salah. Sebab pekerjaan dalam rumah tidak bisa dibilang ringan.

Butuh waktu, kemampuan, dan kemauan yang hebat.

Seharusnya seorang suami mau menghargai kerja keras istrinya dengan harga yang pantas. Bukan malah marah-marah hanya sebab terlambat masak atau terlambat beres-beres rumah. Seorang istri adalah sosok yang mau menjadi koki, dokter, penjaga rumah, bahkan juga mau mencari nafkah.

Sudah selayaknya ia diperlakukan dengan baik dan dihargai atas segala kerja kerasnya.

Baca juga: Wahai, Ayah Bunda.. Jangan Suka Marah-Marah, Buatlah Anak Nyaman dan Senang di Rumah

Comments

Close Menu