Wahai Ibu, Berdamailah dengan Dirimu

Wahai Ibu, Berdamailah dengan Dirimu

Kadang saya suka baper setelah membaca-baca tulisan, artikel, buku atau status-status medsos mama-mama muda idola saya yang berbau-bau parenting dan yang sebangsanya. Soalnya dari situ saya sedikit banyak memperoleh gambaran tentang sesok ibu ideal, ibu yang keren, ibu yang profesional, ibu yang baik…

Ibu yang baik adalah ibu yang punya visi dan misi yang jelas untuk anak-anaknya. Rencana-rencana yang terukur, target-target yang harus dicapai, strategi mencapainya dan semacamnya.

Ibu yang baik adalah ibu yang jarang marah atau berteriak-teriak pada anaknya. Lemah lembut dan sangat terjaga pitch controlnya.

Ibu yang baik adalah ibu yang bisa dengan sangat sabar menghadapi tantrum anak-anaknya, membujuknya dengan halus, tanpa suara harus beralih ke falsetto apalagi pakai acara ancam-mengancam.

Ibu yang baik adalah ibu yang selalu memasakkan fresh food untuk anak-anaknya, bukan nugget, sosis atau mie instan. Apalagi sampai kelupaan masak.

Ibu yang baik adalah ibu yang bisa mengkondisikan anak selalu melakukan hal positif, meminimalkan penggunaan tv juga gadget, mengajari ngaji, hafalan dan doa-doa.

Ibu yang baik adalah ibu yang jarang mengeluh “Hayati lelah bang…” karena ibu memang bukan Hayati.

Ibu yang baik adalah ibu yang menerima utuh anak-anaknya serta tak pernah membandingkannya dengan yang lain.

Ibu yang baik adalah nanananana… (boleh diisi)

Duuh langsung merasa minder waghder tingkat Asia. Mendadak galau gundah gulana. Menengok ke diri-sendiri, tak ada yang masuk kriteria. Jadi aku ini ibu yang baik bukan ya?

Jauh panggang dari api.

Terlalu easy going. Santai kaya di pantai. Tak ada target yang jelas. Go with the flow semboyan andalannya.

Hampir setiap pagi berteriak-teriak sekedar mengingatkan “buruan mandinya, sarapan, berangkat sekolah, telat lagi kita.”

Stok nugget, sosis, mie instan selalu siap sedia.

Anak tantrum ikutan tantrum juga.

Kadang tak sempat update hafalan doa-doa. Saat sibuk melanda, gadget dan tv jadi senjata utama, yang penting jangan ganggu mama!

Keluh kesah tak pernah lupa.

Aah… ibu macam apalah saya. Dengan kualitas alakadarnya ingin anak-anaknya bisa jadi luarbiasa.

Kerisauan ini bisa jadi muncul karena adanya gap yang terlalu lebar antara idealisme dengan realitas. Idealnya begitu, kenyataannya begini. Cita-cita pengen jadi seperti rani peri yang baik hati dan cantik sekali, apa daya kenyataannya malah jadi bhayankar peri yang sirik hati lagi sakit gigi (ini film kan udah gak tayang, cari contoh lain napa, noh yang lagi tayang tuh Maria Mercedes)

Ada dua cara untuk memperkecil gap itu, satu naikkan usaha agar realitas mendekati idealisme atau kedua, turunkanlah standar idealisme. Tentu saya cari yang mudah dong, yaitu turunkan standar idealisme. Caranya adalah dengan mencari definisi lain dari frase “ibu yang baik.” Oleh karena itu saya ngarang-ngarang sendiri definisi “ibu yang baik” versi saya.

Ibu yang baik menurut saya bukanlah ibu yang nananana di atas tadi.

Ibu yang baik adalah ibu yang bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Yeeeeiii prok …prok…prok… Keren ya? Ngawurnya?

Anggap saja semua setuju dengan definisi ini. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara untuk bisa berdamai dengan diri sendiri?

Oke, berikut saya tuliskan beberapa poin-poin agar bisa berdamai dengan diri sendiri, yang tentu saja masih lanjutan mengarang-ngarang tadi

Pertama, menerima dan memaafkan diri-sendiri

Bersama lahirnya seorang anak, saat itu pula lahirlah sesosok ibu. Dan sejak detik itu, si ibu harus mulai belajar menerima bahwa hidupnya sudah bukan hanya tentang dirinya. Seperti halnya bayi yang harus berjuang dan beradaptasi dengan dunia barunya, pun demikian dengan sang ibu yang harus belajar tentang hal-hal baru yang jauh sangat berbeda dengan lingkungan sebelumnya.

Terimalah dirimu utuh apa adanya. Bahwa kau tak sempurna. Kau tak selalu bisa tersenyum, kadang kau butuh menangis, kadang kau ingin marah saat banyak hal terjadi di luar kehendakmu. Katakan pada dirimu,”Ya, aku siap menjadi ibu dengan segala manis pahit konsekuensinya. Aku menerima hari-hari kurang tidurku, berkurangnya waktu untukku sendiri, aku menerima perubahan bentuk badanku.”

Mungkin aku tak langsung bisa jadi ibu jagoan, tapi aku berjanji akan terus belajar untuk memperbaiki diri. Aku memaafkan diriku untuk segala tangisan, kemarahan, keluhan, dan emosi-emosi lain yang kadang muncul begitu saja tanpa bisa kukendalikan…

(Berasa jadi Mario Teguh, udah zupeeerr belom mam..?)

Kedua, jangan ngoyo

Tak mengapa saat kita merasa begitu lelah dan malas dengan tumpukan piring atau cucian kotor, lantai yang selalu lengket oleh sisa makanan seberapa kalipun kita telah menge-pel-nya, atau serakan mainan di sepanjang jalur perjalan kamar-dapur-ruang serbaguna-dapur-kamar.

Terimalah, nikmati dan rasakan… jangan selalu memaksakan diri untuk segera membereskannya.

Ada kalanya kita hanya perlu hening sejenak di antara hiruk pikuk kesemrawutan yang terjadi di dalam rumah (bahasa kerennya “luweh” atau “sebodo teuing” ). Tarik nafas panjaang…

hembuskaann… daaan tinggal tidur. Siapa tahu saat kita tidur akan datang seekor keong mas jelmaan putri raja yang akan membereskan segala keberantakan itu.

Saat anda bangun dan menemukan kondisi rumah yang masih sama bentuknya, berarti keong mas itu hanya hadir dalam mimpi anda. Bersyukurlah karena anda masih berada di dunia nyata.

Ketiga, ubah cara pandang

Cobalah sekali-kali katakan di depan gunungan baju yang hendak disetrika “ya ampun, ternyata keluargaku punya sangat banyak baju untuk kami pakai.”

Di depan tumpukan piring kotor katakanlah “Alhamdulillah ya… hari ini perutku dan anak-anak kenyang, cukup makan, cukup minum…”

Di antara serpihan pecahan kapal katakanlah “Ini adalah salah satu bukti bahwa aku cukup berhasil mengurus anak-anakku. Ya, mereka sehat dan aktif,  karena hanya balita yang sehat yang sanggup memporakporandakan isi rumah”.

Lalu tersenyumlah dan mulailah selesaikan pekerjaan itu satu per satu.

Huuuu… kirain setelah diomongin begitu, segala piring, segunung baju dan segerobak mainan itu bakal dengan sendirinya berada manis dan rapi di tempatnya masing-masing. Haha… Kecuali anda punya Jinny atau Om jin, dijamin, sampai lebaran kuda, gak akan pernah terjadi hal seperti itu. Tapi paling tidak perasaan anda akan sedikit membaik dalam menyikapinya.

Keempat, jangan bandingkan diri sendiri dengan orang lain

“Ibu itu wow banget deh, bisa handle 9 anak tanpa ART, dan kelihatan bahagia. Gue, anak baru tiga udah keteteran manyun aja.”

“Ibu yang ini juga, kerja padahal, anaknya 5 tahun udah hafal juz amma. Lah anak gue, An-Nas sama Al-Falaq aja belom lancar, padahal ibunya di rumah terus.”

Terus galau lagi, merasa tak berguna, payah dan gagal jadi ibu yang baik.

Daripada seperti itu, lebih baik stop membanding-bandingkan diri-sendiri dengan orang lain. Setiap ibu unik dengan caranya masing-masing. Kalau mau membandingkan ya bandingkanlah kita saat ini dengan kita waktu dulu sebelum jadi ibu. Kita yang dulu egois, manja, boros, keras kepala, ngeselin dll bisa berubah drastis setelah jadi ibu. Yakin deh bakal takjub sendiri.

Kelima, apresiasi diri sendiri

Ibu, sungguh engkau berharga. Jangan menyia-nyiakan apalagi sampai mendzolimi dirimu sendiri.

Hargailah dirimu dengan memberikan makanan yang cukup dan bergizi untuk tubuhmu. Berikanlah nutrisi yang sehat untuk kelancaran fikirmu. Berikan daster yang layak untuk menunjang penampilanmu. Rawatlah kecantikan fisik pun hatimu. Luangkan sedikit waktu untuk merelaksasikan jiwa dan ragamu.

Karena engkau pantas mendapatkannya.

Keenam, temukan kebahagiaan-kebahagiaan kecil di sekitarmu

Katanya bahagia itu sederhana. Ngemil es krim bareng anak-anak sambil tertawa-tawa, itu bahagia. Lupakan sejenak timbangan, berat badan dan diet-dietan. Ikut bermain lego atau masak-masakan sama anak-anak, itu bahagia.

Berbagi semangkuk kolak kepada tetangga depan rumah, itu bahagia.

Melebihkan sedikit upah untuk mbah pijet yang dengan terkantuk-kantuk 2.5 jam memijat tubuhmu, itu bahagia

Banyaaak sekali hal-hal yang statusnya “biasa aja” ternyata bisa memberikan efek rasa yang warbyasa.

Ketujuh, jangan fokus pada kelemahan.

Mungkin kau lemah dalam masak-memasak tapi kau unggul dalam rajut-merajut. Mungkin kau kurang pandai dalam membuat kerajianan-kerajinan tangan, tapi kau lihai dalam berjualan online. Mungkin kau tak lihai menjalankan usaha-usaha mencari tambahan penghasilan, tapi kau lebih dalam hal menyemangati orang lain.

Ya gitu deh, jangan berkubang pada kelemahanmu, kecewa berlarut-larut terhadap diri sendiri, “Duh apa banget sih gue, jadi orang kok gak ada gunanya buat orang lain.” Sesedikit apapun kau merasa berguna buat orang lain,  engkau tetaplah juara di mata anak-anakmu.

Kedelapan, bersyukur.

Thank God I’m a Mom. Apalah Mama saat kalian tak ada, Nak. 

Segalak apapun engkau, tetaplah engkau yang dicari pertama kali saat mereka bangun dari tidurnya.

Sembleber apapun telor ceplok yang kau buat, mereka akan tetap memakannya disertai pujian “hmmm… masakan mama enak…”

Sesibuk apapun engkau, mereka akan selalu bersabar menunggumu luang untuk membacakan dongeng pengantar tidur mereka.

Renungkanlah itu dan berbahagialah dengan penerimaan tulus tanpa syarat oleh anak-anakmu. Peluk mereka… dan berterimakasihlah kepada-Nya atas limpahan nikmat yang bertubi-tubi yang kadang tak kau sadari.

Sebagai penutup, quote dari Jill Churchill ini manis banget meski agak gak nyambung. Gapapa ya? Udah pening ini saya mikirnya.

“There’s no way to be a perfect mother and a million ways to be a better one.”

Selamat berproses menjadi ibu yang lebih baik ya Moms, bukan menjadi ibu sempurna. Berdamailah dengan dirimu dan jadilah ibu bahagia.

Ditulis oleh: Yoanita Astrid

— –

Baca juga tulisan Yoanita Astrid lainnya disini. 

Comments

Yoanita Astrid

Ibu tiga anak. Tinggal di Jogja.
Close Menu