HomeCurhatTutur Untuk MamaWahai, Ibu.. Menyesalah Bila Kesibukanmu Membuat Jauh Dari Anak

Wahai, Ibu.. Menyesalah Bila Kesibukanmu Membuat Jauh Dari Anak

“Bermainlah di halaman rumahmu sendiri, serta belajar merawatnya dengan penuh cinta, seperti ibu mencintaimu Mahesa.”

Anak saya namanya Mahesa, ia sekarang lagi liburan sekolah, dan saya dengan ketentuan harus kerja bersama ayahandanya, jelas tak ada waktu libur bersama. Itulah yang membuat aku merasa terpukul dan kasihan padanya.

Bagi Mahesa, liburan sekolah adalah hari yang sangat di tunggu.

“Asyik! Libur telah tiba, libur telah tiba, hore! Hore! Saatnya piknik sama ayah ibu,” mungkin begitu yang ada di benaknya.

Tapi sebagai seorang ibu yang mesti harus bekerja, disinilah saya menghadapi dilema. Aku masih ingat betul perkataanya yang kecewa,”Aduh, Mah.. sibuk ya?” katanya dengan raut muka cemberut.

Baca juga: Hati-Hati, Anak Suka Memukul Besok Gede Bisa Jadi Berandalan

Sontak kalimat itu membuat aku terasa disambar petir. Membuatku merasa kalah dan lemah sebagai seorang ibu. Membuatku measa apa yang ku perbuat selama ini untuknya tidak ada artinya. Dari biaya sekolahnya, les dan yang lainya. Aku merasa terenyu, pertanyaannya yang datar membuat semangatku layu.

Aku tak menyalahkanya, aku membenarkan pendapatnya. Tapi sebagai ibu yang lebih dewasa tentunya juga mempunyai  impian yang lain, dan anakku harus tau itu. Bekerja bukan berati tak peduli dan mengurangi kasih sayang ibu.

Aku tau jika bermain bagimu adalah harga mati, terkadang lebih penting dari teriakan panggilan ibu dari kejahuan, yang hanya sekedar untuk menyuruhmu makan terlebih dahulu. Walaupun sesuap nasi. Kamu tetap memilih untuk bermain bukan ?

“Mah, bermain membuat Mahesa bahagia. Sebab mama jarang dirumah.”

Aku tak bisa menyangkalnya, aku membenarkan pendapatnya. Walaupun ibu selalu menjadi juru selalamat dari bapakmu yang sedang marah sebab kamu suka bermain.

Tapi sekali lagi, orang tua termasuk ibu tak bermaksud buruk padamu.

Ia mempunyai impian mulia, kamu adalah satu-satunya orang yang kelak menjadi harapan ibu juga harapan diantara banyak orang. Sehingga menyebabkan ibu dan bapak meninggalkan rumah setiap hari dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore hari, demi bekal itu.

Sebenarnya, sebagai ibu, kejadian ini sunggu memberi  pelajaran untuk selalu kuat, percaya diri jika ibu setidaknya masih memberimu yang terbaik walaupun bermain tetap yang terbaik buat dirimu.

Baca juga: Hati-Hati ! Gangguan Pada Anak Akibat Ayah Jarang di Rumah

Mahesa anakku, yang masih sekolah kelas dua Sekolah dasar (SD). Itu sebabnya ibu selalu mencari cara agar liburannmu tetap menjadi hari yang bahagia, tapi masih mengandung ajaran yang ramah, baik buat keluarga maupun yang lainya.

Walaupun pada awalnya Liburan sekolah terkadang membuat ibu merasa waswas.Beda halnya dengan ketika masih aktif sekolah yang pengawasanya di jamin oleh pihak sekolah. Dan tanpa rasa takut aku hanya menjamin uang sekolah, baju baru sekolah dan ongkos sekolah saja.

Walaupun hal ini tak diminta olehmu di usia yang masih dini, dan kamu tak mengerti. Mungkin di hati mahesa, ibu adalah orang yang tidak peduli kepadanya tak ada liburan keluarga dan mancing di akhir pekan bersama ayah. Tapi aku yakin suatu saat nanti mahesa akan mengerti, oleh karenanya ibu menulis pesan ini.

Naluri ibu tetaplah dikandung badan, merawat jiwa dan hatinya adalah niscaya dan tanggung jawab yang akan di pertanggung jawabkan kelak di hadapan tuhannya. Sekarang ibu hanya berupaya dan berusaha tanpa lelah agar supaya mahesa mengerti bahwa ibu telah tengah berjuang buat anaknya.

Mahesa anakku…

Bermain juga hal yang penting untuk proses pertumbuhannmu, oleh sebabnya, ibu tetap memikirkan bagaimana caranya mahesa tetap berlibur dan bermain bersama orang yang kau cintai.

Aku lebih tau, sebab aku adalah ibumu. Merusak mental tidaklah baik. Tapi memberikan liburan yang mendidik dan bermuatan kandungan pelajaran sekolah adalah kewajiban ibu, serta memberikan arahan yang lebih bermanfaat buat kamu dan orang lain adalah kebanggan ibu, walaupun kau tak ada bakti pada ibumu.

Baca juga: Selagi Ada Waktu, Habiskanlah Bersama Anak. Sebelum Semuanya Terlambat

Bermain bersama adalah salah satu cara agar ibu yang sibuk bisa tetap dekat dengan buah hati. Tapi, ada juga cara lain yang bisa Mamah lakukan lho.

Pertama, pelukan.

Sesibuk apa pun, berusahalah untuk rajin-rajin memeluk anak. Juga suami. Lakukan itu saat di pagi hari sebelum ia berangkat sekolah. Saat pulang sekolah, dan malam sebelum si kecil tidur.

Kedua, ajak ke tempat keluarga.

Saat libur, ajak anak untuk ke tempat neneknya. Ke rumah saudara-saudara yang lain. Ini akan membuat si kecil merasa dicintai dan memiliki keluarga dekat.

Ketiga, libatkan anak dalam pekerjaan rumah.

Anak usia balita sudah bisa diajarkan untuk merapikan mainan sendiri. Anak usia SD sudah bisa untuk diajarkan menyapu rumah. Ajaklah anak untuk terlibat dalam berbagai pekerjaan rumah.

Keempat, buatlah janji dengan anak yang pasti ditepati.

“Besok minggu kita main ke kebun binatang yaa..”

Katakan itu pada anak pada hari Senin. Dan lakukan!

Baca juga: Buat Para Ayah, Engkaulah Penyebab Anak Jadi Nakal atau Jadi Sholeh

Kelima, bercerita.

Anak-anak suka cerita. Ceritakan saja hari-hari yang telah dilalui. Ceritakan apa saja. Buat anak-anak merasa diajak ngobrol oleh orang tuanya. Jangan cuekin mereka.

Keenam, atur waktu.

Jangan bawa beban pekerjaan di kantor di rumah. Jangan bawa stres di kantor ke rumah. Jangan bawa rasa kesal dengan atasan dengan melampiaskannya pada anak.

Tidak! Jangan!

Anak tidak perlu itu. Anak hanya perlu ibunya, bukan pekerjaan ibunya.

Mah, banyak orang mati-matian bekerja. Alasannya selalu saja demi anak. Demi keluarga. Tapi terkadang kita lupa, bahwa yang diperlukan anak bukanlah uang orang tuanya tapi kehadiran kedua orang tuanya.

Yang diperlukan anak adalah perasaan bahwa kedua orang tuanya mencintai mereka. Bukan mencintai pekerjaan.

Menyesalah, bila kesibukanmu malah membuatmu jauh dari anak-anak. Menyesalah sekarang. Jangan menyesal saat anak sudah dewasa. Dan segera manfaatkan waktu untuk menumbuhkan cinta anak.

Comments

comments

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *